Mewujudkan Ubud menjadi destinasi Gastronomi Holistik Pertama Dunia (Foto: Abas/Medcom.id)
Mewujudkan Ubud menjadi destinasi Gastronomi Holistik Pertama Dunia (Foto: Abas/Medcom.id)

Mewujudkan Ubud sebagai Destinasi Gastronomi Holistik Pertama Dunia

Rona Wisata Bali
Dhaifurrakhman Abas • 11 Juni 2019 22:14
Proses penilaian lapangan di Ubud akan dilakukan selama delapan hari. Penilaian dilakukan kepada semua stakeholders gastronomi mulai dari penyedia bahan kuliner, hotel, restoran, chef, inisiator festival makanan, pemerintah daerah, penyedia transportasi, akademisi, dan wisatawan lokal serta asing.
 
Jakarta:
Wilayah Ubud di Kabupaten Gianyar, Bali, sedang digenjot menuju destinasi gastronomi berstandar global. Penilaian tersebut bakal dilakukan Oganisasi Pariwisata Dunia (UNWTO).
 
"Kami bersama Pemkab Gianyar mengajukan daerah Ubud sebagai destinasi gastronomi secara holistik," kata Menteri Pariwisata, Arief Yahya, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa 11 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menpar menyatakan, tim UNWTO telah tiba di Indonesia untuk melakukan serangkaian penilaian di lokasi tersebut. Jika berjalan mulus, Ubud bakal menjadi wilayah destinasi gastronomi pertama dunia.
 
"Di tempat lain, penetapan oleh UNWTO hanya parsial seperti restoran atau bidang kuliner tertentu saja," sambung Menpar.
 
Menurutnya, menjadikan Ubud sebagai destinasi gastronomi dunia dinilai perlu. Ini agar Indonesia bisa meningkatkan pamor pariwisata di bidang kuliner yang masih rendah dipandang wisatawan mancanegara (wisman).
 
"Agar meningkatkan kredibilitas, kepercayaan, dan kalibrasi yang menjadi salah satu pencapaian pariwisata Indonesia di level dunia," ujarnya.
 
Selain itu, Menpar mengatakan dampak lain dari pengajuan Ubud sebagai destinasi gastronomi dunia bisa meningkatkan keuangan negara. Apalagi pariwisata merupakan sektor yang paling efektif untuk mendongkrak devisa Indonesia.
 
"Pengeluaran wisatawan umumnya 40 persen ada pada kuliner. Karena itu dalam peta industri pariwisata gastronomi atau kuliner memiliki potensi besar," imbuh Menpar.
 
Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar, Vita Datau, berharap penilaian tyng sedang dilangsungkan berjalan lancar. Sebab wisata gastronomi memiliki potensi besar untuk memeratakan pendapatan pariwisata dari hulu ke hilir.
 
Pasalnya, wisata gastronomi tidak hanya meliputi produk makanan atau kulinernya saja. Menurut Vita, destinasi gastronomi juga termasuk tempat penghasil bahan makanan, festival makanan, hingga budaya atau sejarah di balik suatu makanan.
 
"Wisata gastronomi bisa memberi pengalaman berbeda bagi wisatawan. Wisatawan juga bisa belajar budaya dan cerita panjang di balik suatu makanan," ucap Vita.
 
Sekadar informasi, proses penilaian lapangan di Ubud akan dilakukan selama delapan hari. Penilaian dilakukan kepada semua stakeholders gastronomi mulai dari penyedia bahan kuliner, hotel, restoran, chef, inisiator festival makanan, pemerintah daerah, penyedia transportasi, akademisi, dan wisatawan lokal serta asing.
 
Jika penilaian berjalan mulus, UNWTO bakal memberikan perencanaan dan strategi rekomendasi gastronomi di Ubud yang dijalankan awal Agustus 2019. Apabila semua rekomendasi kelar, Ubud dapat dinyatakan sebagai destinasi gastronomi prototype UNWTO.
 
Journey to Blimbingsari Bali

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif