Beda Demensia dan Pikun pada Lansia

Torie Natalova 31 Oktober 2018 08:27 WIB
demensia
Beda Demensia dan Pikun pada Lansia
Demensia menyebabkan seseorang kehilangan ingatan yang memengaruhi aktivitas sehari-hari. (Foto: Cristina Gottardi/Unsplash.com)
Jakarta: Memasuki usia lanjut, masalah ingatan bisa jadi hal yang paling sering dialami orang lansia. Menurunnya ingatan atau pikun, salah satu hal yang bisa dihadapi orang lansia. Tapi, jika melupakan hal-hal yang tidak penting bisa jadi itu tanda demensia.

Bagaimana membedakan pikun dan demensia? 

Sebagian besar orang akan memiliki beberapa perubahan dalam ingatan mereka berkaitan dengan usia. Sama halnya dengan otak Anda, ada begitu banyak informasi yang dapat dipertahankan dari waktu ke waktu. 


Jika Anda mencoba mengingat sesuatu yang tidak pernah Anda pikirkan selama bertahun-tahun atau itu hal yang tidak penting, mudah bagi Anda untuk melupakannya.

Otak Anda juga berubah seiring bertambahnya usia. Beberapa bagian otak mulai menyusut atau mungkin mengalami penurunan aliran darah di otak. 

Semua perubahan ini dapat menyebabkan masalah memori umumnya. Perbedaan utamanya adalah bahwa pikun membuat Anda melupakan informasi sejak lama, sedangkan demensia berdampak pada ingatan yang lebih baru.

(Baca juga: Berjalan Kaki Bantu Cegah Pikun pada Lansia)

Demensia menyebabkan seseorang kehilangan ingatan yang memengaruhi aktivitas sehari-hari. Misalnya, mereka dapat merasa tersesat di rumah sendiri, kesulitan berkomunikasi, sulit memecahkan masalah, sulit mengatur hal-hal, masalah dengan koordinasi dan kebingungan serta disorientasi menyeluruh.

Orang dengan demensia juga dapat mengalami perubahan psikologis seperti depresi, kecemasan, perilaku tidak pantas, paranoia, agitasi dan halusinasi. 

Secara umum, risiko demensia akan meningkat setelah Anda berusia 65 tahun. Ini tidak berarti bahwa demensia adalah kondisi normal untuk mereka yang berusia 65 tahun ke atas. 

Serangan awal penyakit Alzheimer dapat menyerang orang yang berusia 30 tahun. Tapi, itu biasanya karena genetik dan hanya menyerang orang sekitar 5 persen.






(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id