Ilustrasi-Pixabay
Ilustrasi-Pixabay

Anak Sakit Kepala, Begini Cara Mengatasinya

Rona tumbuh kembang bayi
Anda Nurlaila • 04 Desember 2019 15:28
Jakarta: Sakit kepala bukan hanya penyakit yang dialami orang dewasa. Anak-anak bahkan bayi rentan merasakannya.
 
Pada 2009, para peneliti di Children's National Medical Center dan George Washington University menemukan bahwa, 17 persen anak-anak usia 4 tahun dan yang lebih tua mengalami sakit kepala yang sering atau parah.
 
Migrain adalah salah satu dari lima kondisi teratas yang memengaruhi anak-anak, selain asma, alergi, obesitas, dan depresi. Bahkan bayi dapat mengalami migrain, meskipun sulit untuk menentukannya pada anak-anak nonverbal, seperti mereka sering memegang kepala.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Orang termuda yang saya diagnosa berusia 10 bulan," kata Direktur Headache Center di Children's Hospital Medical Center, di Cincinnati Andrew D. Hershey seperti dimuat Parents.

Identifikasi Penyebabnya

Sakit kepala dipengaruhi banyak hal. Pilek atau flu dapat menyebabkan sakit kepala, tetapi beberapa anak terus mengalami sakit kepala setiap hari selama berminggu-minggu setelah virusnya hilang.
 
Penyebabnya biasanya migrain atau sakit kepala tipe tegang dan berulang. Sakit kepala dapat bertahan selama 30 menit hingga berhari-hari.
 
Migrain terjadi ketika sel-sel otak yang terlalu terstimulasi menyebabkan pembuluh darah melebar dan selaput penutup otak meradang, sehingga memicu sinyal rasa sakit di kepala. Sakit kepala tipe tensi terkait dengan pengetatan otot di leher atau kulit kepala.
 
Pada anak-anak, kedua jenis sakit kepala cenderung menyebabkan rasa sakit di kedua sisi kepala. Sehingga sulit untuk membedakan satu jenis dengan jenis yang lain.
 
"Migrain juga sering salah didiagnosis sebagai infeksi sinus. Bahkan jika sakit kepala ada di sekitar sinus dan mata berair dan hidung meler, biasanya itu bukan infeksi sinus tapi migrain," kata Direktur Obat Sakit Kepala dan Nyeri di Mount Sinai Mark W. Green.
 
Anak Sakit Kepala, Begini Cara Mengatasinya
 
Riwayat dalam keluarga dapat menyebabkan anak cenderung mengidapnya juga. Semakin dekat hubungan darah anak dengan penderita migrain, semakin besar risikonya. Anak yang sering mabuk saat berkendara dan tidak tahan goncangan juga rentan terkena migrain.
 
Stres bisa menjadi penyebabnya. Studi di Jerman pada 2009 menemukan bahwa anak laki-laki yang keluarganya sering bertengkar dan yang memiliki sedikit waktu luang cenderung sakit kepala. Perubahan dalam rutinitas, fluktuasi cuaca, cahaya terang, suara keras, kurang tidur, dan melewatkan makan semua dapat memicu migrain.
 
Makanan umumnya bukan pemicu. Penelitian menunjukkan bahwa makanan seperti cokelat dan keju mungkin tidak memiliki banyak terkait dengan sakit kepala pada anak-anak.

Penanganan

Jika anak mengalami sakit kepala lebih dari sekali dalam seminggu, atau jika sakit kepalanya menyebabkan dia tidak bisa sekolah atau bermain, jadwalkan janji temu dengan dokter anak.
 
Anak mungkin harus diperiksa ke spesialis saraf. Tulis dalam buku harian sakit kepala yang dirasakan anak. Apakah sakit kepala disertai mual dan muntah? Apakah sakit kepala meningkat saat akhir pekan atau libur sekolah.
 
Beberapa cara meredakan sakit kepala dengan cepat antara lain:
 
Berikan ibuprofen
Secara umum terbukti lebih efektif daripada asetaminofen meredakan nyeri. Jangan berikan aspirin kepada anak di bawah usia 15 tahun, karena dapat menyebabkan sindrom Reye, penyakit yang mengancam jiwa yang memengaruhi hati dan otak.
 
Beberapa anak dengan migrain memiliki beberapa tanda. Misalnya melihat lampu atau garis yang disebut aura, kesemutan di lengan atau wajah, atau sakit perut, segera berikan ibuprofen. Tapi hindari memberikan obat pereda nyeri lebih sering dari tiga kali seminggu karena dapat memperburuk rasa sakit.
 
Sajikan delapan ons minuman olahraga
Gula dalam minuman ini membantu garam dan air terserap, dan garam membantu menjaga air di dalam pembuluh darah. Air, jus dan beberapa teguk air soda dapat membantu karena kafein menyempitkan pembuluh darah.
 
Dorong anak tidur siang di tempat yang sejuk, gelap, dan sunyi. Bukan saja bermanfaat pada orang dewasa, tidur siang juga membantu pada usia anak.
 
Alihkan rasa sakit
Jika tidak tidur alihkan perhatiannya dari rasa sakit dengan mainan, permainan, atau buku. Kecuali jika dia mengalami serangan migrain, jangan biarkan anak usia sekolah Anda pulang dari sekolah karena itu membentuk pola yang buruk seperti anak akan sering membolos.
 
Hilangkan rasa takut
Pada anak prasekolah, beri tahu agar anak tidak khawatir. Pada anak yang lebih besar ingatkan bahwa perawatan untuk sakit kepalanya dapat meredakan nyeri yang dia rasakan.
 
Konsultasikan ke dokter
Ketika sakit kepala sering terjadi dan menyakitkan atau ibuprofen tidak membantu konsultasikan dengan dokter. Anak mungkin mendapat resep obat sakit kepala.

Pencegahan

Tidur Cukup
Salah satu cara terpenting menghindari sakit kepala adalah tidur yang cukup. Sebuah studi menemukan remaja dengan sakit kepala memiliki masalah tidur yang lebih signifikan daripada mereka yang tidak sakit kepala. Peneliti percaya temuan ini juga berlaku untuk anak kecil.
 
Kafein
Hindari kafein karena dapat mengganggu tidur. Jadi, sementara sedikit soda dapat membantu menghentikan sakit kepala, tetap hindarkan anak dari makanan dan minuman berkafein.
 
Hidup sehat
Pastikan anak Anda terhidrasi, tidak melewatkan waktu makan, dan tetap aktif membantu mencegah sakit kepala. Multivitamin dapat membantu menurunkan risiko. Penelitian telah menunjukkan bahwa kekurangan riboflavin dan vitamin D dapat meningkatkan frekuensi sakit kepala.
 
Kapan Mencari Bantuan
Sakit kepala yang tidak biasa dan sangat buruk bisa menjadi pertanda penyakit atau cedera yang signifikan. Segera ke ruang gawat darurat jika anak merasakan beberapa hal berikut:
 
Sakit kepala hebat anak Anda disertai demam atau leher kaku, yang keduanya bisa merupakan gejala meningitis.
 
Anak Anda mengalami cedera kepala dan mulai muntah, mengalami kesulitan keseimbangan, atau menjadi bingung, semua kemungkinan tanda-tanda pendarahan di otak.
 
Anak Anda mengalami kesulitan berbicara, mati rasa, atau masalah gerakan mata, yang semuanya merupakan gejala stroke. Studi baru menunjukkan 10 persen dari stroke terjadi pada anak-anak dan dewasa muda.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif