Studi: Depresi pada Pria Turunkan Tingkat Pembuahan

Sri Yanti Nainggolan 18 Mei 2018 11:56 WIB
studi kesehatankesehatan reproduksi
Studi: Depresi pada Pria Turunkan Tingkat Pembuahan
Studi tersebut menunjukkan bahwa pasangan di mana pria memiliki depresi mayor terbukti 60 persen lebih sulit untuk mengalami pembuahan. (Foto: Warren Wong/Unsplash.com)
Jakarta: Pengaruh stres dalam usaha kehamilan tak hanya terjadi pada wanita. Sebuah studi menemukan bahwa depresi yang dialami pasangan pria juga memengaruhi kemungkinan dalam pembuahan. 

Studi tersebut menunjukkan bahwa pasangan di mana pria memiliki depresi mayor terbukti 60 persen lebih sulit untuk mengalami pembuahan dibandingkan pasangan dengan pria tidak mengalami gangguan tersebut. 

Di sisi lain, depresi pada pasangan wanita ditemukan tak memengaruhi tingkat kelahiran. 


Studi yang dipublikasi dalam jurnal Fertility and Sterility tersebut juga menemukan bahwa konsumsi antidepresan yang dikenal sebagai inhibitor reuptake serotonin non-selektif (non-SSRI) juga berkaitan dengan risiko keguguran yang lebih tinggi di antara wanita yang dirawat karena infertilitas. Namun, jenis antidepresan SSRI tidak memberi efek serupa.

Penggunaan jenis antidepresan lain pada pria dan kecenderungan depresi pada wanita memiliki kemungkinan lebih besar menurunkan risiko pembuahan. 

"Studi kami memberikan informasi baru bagi pasien infertilitas dan dokter dimana hal ini bisa dijadikan pertimbangan dalam melakukan pengobatan," kata Esther Eisenberg, di Institut Kesehatan Nasional Eunice Kennedy Shriver di Maryland, Amerika Serikat.


(Penggunaan jenis antidepresan lain pada pria dan kecenderungan depresi pada wanita memiliki kemungkinan lebih besar menurunkan risiko pembuahan. Foto: Ben White/Unsplash.com)

(Baca juga: Tanda-tanda Stres Sudah di Luar Kendali)

Mengutip penelitian sebelumnya, para peneliti mencatat bahwa 41 persen wanita yang melakukan perawatan kesuburan memiliki gejala depresi.

Studi lain melaporkan bahwa hampir 50 persen dari pria yang melakukan perawatan fertilisasi in-vitro (IVF) mengalami depresi.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisa data dari 1.650 wanita dan 1.608 pria untuk mengevaluasi pengaruh potensial depresi pada pasangan yang melakukan perawatan non-IVF.

Sebanyak 5,96 persen wanita mengalami depresi berat yang aktif, dibandingkan dengan 2,28 persen pria.

Studi tersebut juga menemukan bahwa wanita yang menggunakan antidepresan non-SSRI 3,5 kali lebih mungkin mengalami keguguran trimester pertama, dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan antidepresan.





(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id