Ilustrasi-Pixabay
Ilustrasi-Pixabay

Penjelasan tentang Angin Duduk dalam Dunia Medis

Rona penyakit jantung
Kumara Anggita • 13 Desember 2019 15:06
Jakarta: Karena kurangnya informasi, orang sering menyebarkan pemahaman bahwa masuk angin dapat menyebabkan serangan jantung. Anda biasa mendengarnya dengan istilah angin duduk.
 
Karena gejalanya mirip-mirip, orang jadi sering salah arti. Apa yang mereka rasakan sesungguhnya adalah gejala penyakit jantung koroner.
 
“Seringkali sakit dada itu rasanya seperti masuk angin tapi ini bukan masuk angin. Jadi rasanya  tidak nyaman. Seperti angin duduk istilahnya. Hati-hati itu bisa jadi serangan jantung.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Tapi jangan di balik, bukan masuk angin bikin serangan jantung. Nyeri dada kadang-kadang keluhannya seperti masuk angin. Dikerok tidak sembuh-sembuh,” ujar Dokter Spesialis Penyakit Dalam Dr. dr. Sally Aman Nasution, SpPD-KKV, FINASIM, FACP.
 
Biasanya dengan kerokan, mereka menganggap bahwa penyakit ini bisa terselesaikan. Tapi tindakan itu justru berbahaya. Hal yang tepat untuk dilakukan adalah pergi ke dokter.
 
Dokter Sally juga menyebutkan bahwa kerokan juga tidak baik untuk dilakukan oleh pasien penyakit jantung. Ini karena mereka biasanya mengonsumsi obat tertentu.
 
“Asal dia tidak minum obat pengencer darah dan sebagainya tidak apa. Kalau orang sakit jantung kan minum itu, kalau dikerok bisa berdarah. Dia terbentur dikit saja bisa memar. Jadi lihat kondisi juga,” jelas Dokter Sally.
 
Seperti diketahui sebelumnya, beberapa keluhan penyakit jantung koroner cukup banyak. Selain nyeri dada atau dada terasa tidak nyaman, ada juga gangguan rasa nyaman seperti pegal di daerah tubuh atas seperti leher dan punggung, sesak napas, berkeringat, keletihan yang tidak dapat dijelaskan, nyeri kepala ringan atau mendadak, hingga mual atau nyeri ulu hati.
 
Namun, studi yang dilakukan ke 515 perempuan dengan penyakit jantung koroner menunjukkan bahwa, perempuan tidak merasakan nyeri dada. Setidaknya ini terjadi sekitar 43 persen.
 
Gejala yang justru ditemukan adalah dispesia. Yaitu sebanyak 58 persen kasus dan merasa kelelahan sebanyak 43 persen kasus.
 
“Pada perempuan sering menunjukkan gejala yang tidak tipikal (spesifik) dibandingkan dengan pria,” tutup Dokter Sally.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif