Benarkah bercinta bagi wanita hamil di trimester ketiga membuat persalinan lebih mudah? Simak informasinya. (Foto: Pexels.com)
Benarkah bercinta bagi wanita hamil di trimester ketiga membuat persalinan lebih mudah? Simak informasinya. (Foto: Pexels.com)

Bercinta pada Trimester Ketiga Kehamilan Tidak Percepat Persalinan

Rona kehamilan seks dan kesehatan
Anda Nurlaila • 17 November 2019 13:38
Jakarta: Saat mendekati hari perkiraan lahir, banyak calon ibu yang mengatakan bersedia melakukan apa pun agar sang buah hati lebih cepat lahir.
 
Beberapa nasehat yang jamak didengar antara lain makan makanan pedas, jalan-jalan, atau bercinta pasti mempercepat terjadinya kontraksi dan persalinan. Tetapi sebuah penelitian baru mengatakan bercinta tidak akan mempercepat persalinan.
 
Studi yang diterbitkan dalam Obstetrics and Gynecology diikuti 93 wanita dalam trimester ketiga kehamilan mereka. Pada setiap kunjungan dokter mingguan, para wanita mengungkapkan apakah mereka melakukan hubungan seks minggu sebelumnya, dan menjalani pemeriksaan serviks.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kelompok yang aktif secara seksual atau 50,5 persen melahirkan rata-rata 39,9 minggu. Sementara mereka yang melewatkan hubungan seks melahirkan pada usia kandungan 39,3 minggu.
 
Mengutip Parents, kelompok wanita yang menahan diri dari berhubungan seks sebenarnya melahirkan lebih cepat daripada yang melakukan hubungan intim, meskipun selisihnya tidak signifikan.
 
Bercinta pada Trimester Ketiga Kehamilan Tidak Percepat Persalinan
(Dalam penelitian disebutkan bahwa bahwa wanita dapat terus aktif secara seksual jika mereka merasa baik. Foto: Pexels.com)

Penjelasan secara biologis

Menariknya, ada beberapa penjelasan biologis terhadap klaim bahwa seks dapat mempercepat persalinan. Semen mengandung hormon prostaglandin, yang diyakini dapat melunakkan serviks dan mendorong kontraksi.
 
Tetapi studi baru ini tidak menemukan perubahan serviks yang lebih besar pada wanita yang aktif secara seksual, membantah efek seks menginduksi persalinan.
 
Salah satu penjelasan yang mungkin, menurut penulis penelitian ini, adalah bahwa wanita dapat terus aktif secara seksual jika mereka merasa baik. Ketidaknyamanan akibat perut yang membesar, atau peningkatan kontraksi cenderung menjadikan wanita menghindari seks pada saat ini. Gejala-gejala seperti itu mungkin menjadi pertanda persalinan.
 
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara metode pengiriman pada kedua kelompok, menurut penelitian. Aktivitas seksual dalam jangka panjang pun tidak berpengaruh pada kesehatan bayi antara lain berat lahir, skor Apgar, atau kemungkinan dirawat di NICU.
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif