Penggunaan Antibiotik Harus Tepat agar Mikroba Tidak Resisten

Farhan Dwitama 25 November 2018 11:12 WIB
antibiotik
Penggunaan Antibiotik Harus Tepat agar Mikroba Tidak Resisten
Ilustrasi antiobiotik (Foto: shutterstock)
Tangerang : Antibiotik telah memberikan dampak perubahan besar terhadap praktik kedokteran. Namun, penggunaan antibiotik yang berlebihan atau penggunaan yang tidak tepat dapat memicu semakin berkembangnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik atau antimikroba tersebut.

"Antibiotik menjadikan penyakit infeksi yang semula menyebabkan kematian (letal) menjadi hal yang dapat dikendalikan,' ucap Dr Wibisono SpOt dari RS Siloam Lippo Village, dalam simposium Sepsis bertema Resistensi Anti mikroba tanggung jawab siapa.

Ketua Pengendalian Penggunaan Antibiotik (PPA) RS Siloam Lippo Village ini juga mengatakan, penggunaan antibiotik pada penyakit infeksi mampu menekan morbiditas dan mortalitas.


"Contohnya adalah panduan pemberiaan antibiotik sesegera mungkin pada penanganan sepsis,” ucap Dr Wibisono.

Tapi lanjut Wibisono, perlu diketahui sisi lain penggunaan antibiotik yang berlebihan bisa memicu berkembangnya bakteri yang resisten terhadap antibiotik.

Hal itu, didasari dari hasil penelitian resistensi terhadap antibiotik pada tahun 2000 sampai tahun 2004 di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dan RSUP dr. Kariadi Semarang, membuktikan bahwa sudah terdapat kuman multi resisten seperti MRSA (Methcilin Spectrum Beta Lactamases).

"Selain dari data penelitian itu, ditemukan 30 sampai 80 persen penggunaan antibiotik tidak berdasarkan indikasi," ucap dia.

Sementara data WHO (world Health Organization) pada tahun 2013 menyebutkan, terdapat 480.000 kasus baru multidrug-resistent tuberculosis (MDR-TB) di Dunia.

Untuk itu, pihaknya yang berbicara di hadapan 110 peserta simposium yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat dan Apoteker dari wilayah Jakarta dan Tangerang mengajak, seluruh tenaga kesehatan bijak dalam pemberian antibiotik kepada pasien.

“Tenaga kesehatan untuk selalu mengingat bahwa penggunaan antibiotik itu harus rasional, karena dapat berdampak merugikan bagi pasien dan masyarakat,” bilang dokter spesialis orthopedi ini.

Menurutnya, sepsis telah menjadi perhatian dunia sejak tahun 2012 dan Indonesia melalui Kementerian Kesehatan juga telah membuat aturan pengendalian penggunaan antibiotik terhadap sepsis di tahun 2015.

“Karena penderita Shock sepsis angka kematiannya hingga 70 persen, kalau baru sepsis angka kematian 9,5 persen. Makanya kita (para medis) harus hati-hati terhadap penggunaan antibiotik,” katanya.

Untuk menjadi perhatian, Sepsis adalah infeksi penyakit serius yang menyebabkan peradangan pada tubuh penderitanya.

Sepsis sendiri diartikan, sebagai banyaknya bakteri yang terdapat dalam aliran darah pasien. Hingga menyebabkan disfungsi suatu organ tubuh pada manusia  yang dapat menyebabkan kematian.



 



(ELG)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id