Ini Alasan Mengapa Si Kecil Melampiaskan Stres pada Makanan

Sri Yanti Nainggolan 03 Juli 2018 12:36 WIB
perkembangan anak
Ini Alasan Mengapa Si Kecil Melampiaskan Stres pada Makanan
Sebuah studi menemukan bahwa anak yang melampiaskan stres lewat makan, dikenal dengan makan emosional, cenderung memelajari perilaku tersebut dari orang tua mereka. (Foto: Anton Darius/Unsplash.com)
Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa anak yang melampiaskan stres lewat makan, dikenal dengan makan emosional, cenderung memelajari perilaku tersebut dari orang tua mereka. 

Sebuah studi oleh University College London (UCL), yang diterbitkan dalam jurnal Pediatric Obesity, menemukan bahwa penyebab utama dari makan emosional adalah lingkungan rumah dan sebagian besar karena orang tua memberi anak-anak mereka makanan untuk membuat mereka merasa lebih baik.

Penelitian baru ini didasarkan pada studi UCL sebelumnya tahun 2017 yang menyoroti efek kuat dari lingkungan rumah pada makan emosional.


"Mengalami stres dan emosi negatif dapat memiliki efek yang berbeda pada selera untuk orang yang berbeda," kata Dr Moritz Herle, UCL Great Ormond Street, Institut Kesehatan Anak, yang memimpin penelitian.

"Beberapa mengidamkan camilan favorit mereka, sementara yang lain kehilangan keinginan untuk makan sama sekali ketika merasa stres atau sedih. Penelitian ini mendukung temuan kami sebelumnya yang menunjukkan bahwa emosi anak-anak yang berlebihan dan kurang makan sebagian besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan.”

Studi tersebut mengamati 398 anak kembar berusia empat tahun dari Twins Early Development Study (TEDS), di mana setengahnya berasal dari keluarga dengan orang tua gemuk dan setengah lainnya dengan orang tua dengan berat badan yang sehat.

Orang tua melaporkan kebiasaan makan dan kecenderungan anak-anak mereka untuk makan secara emosional. Para peneliti kemudian membandingkan data antara kembar identik dan non-identik dengan tingkat makan emosional mereka dan menemukan perbedaan yang sangat sedikit.


(Para peneliti menjelaskan bahwa emosi berlebihan dan kurang makan dapat terus berlanjut dan menjadi faktor risiko untuk perkembangan obesitas atau gangguan makan. Foto: Hal Gatewood/Unsplash.com)

(Baca juga: Makanan Tepat Pereda Stres)

Hal tersebut menunjukkan bahwa lingkungan lebih berpengaruh daripada gen.

Para peneliti menjelaskan bahwa emosi berlebihan dan kurang makan dapat terus berlanjut dan menjadi faktor risiko untuk perkembangan obesitas atau gangguan makan seperti anoreksia nervosa atau gangguan makan besar.

"Kami sebenarnya tidak tahu banyak tentang konsekuensi kesehatan fisik dan mental dari makan emosional di masa kanak-kanak, karena studi yang melacak anak-anak itu selama bertahun-tahun belum dilakukan," kata Dr Clare Llewellyn, UCL Institute of Epidemiology & Health, peneliti utama senior.

"Memahami bagaimana kecenderungan ini berkembang sangat penting, karena membantu para peneliti untuk memberikan saran tentang bagaimana mencegah atau mengubahnya, dan di mana untuk memfokuskan penelitian masa depan."

Para peneliti mengungkapkan bahwa mereka akan terus meneliti lingkungan rumah untuk melihat faktor lain yang mungkin memainkan peran dalam makan emosional termasuk praktik pemberian makan orang tua atau stres di sekitar meja makan.






(TIN)