FAMILY

Gak Perlu Nakut-nakutin, Ini Tips Ngajarin Anak Waspada Tanpa Bikin Mereka Paranoid

Yatin Suleha
Minggu 22 Februari 2026 / 14:30
Ringkasnya gini..
  • Kisah hilangnya Charlotte Sena yang diculik saat bersepeda di area perkemahan di New York, menjadi pengingat keras bagi banyak orang tua.
  • Pengalaman membiarkan anak bermain tanpa pengawasan penuh di ruang publik tiba-tiba terasa mengkhawatirkan.
  • Apakah anak-anak sudah cukup dibekali pengetahuan untuk menghadapi situasi berbahaya dengan orang yang tidak dikenal?
Jakarta: Kisah hilangnya Charlotte Sena, seorang anak perempuan berusia 9 tahun yang diculik saat bersepeda di area perkemahan di New York, menjadi pengingat keras bagi banyak orang tua. Rasa takut muncul secara spontan, terutama bagi keluarga yang memiliki anak seusia Charlotte.

Pengalaman membiarkan anak bermain tanpa pengawasan penuh di ruang publik tiba-tiba terasa mengkhawatirkan. Walaupun cerita Charlotte berakhir dengan bahagia, perasaan cemas tidak serta-merta hilang.

Justru muncul pertanyaan penting, apakah anak-anak sudah cukup dibekali pengetahuan untuk menghadapi situasi berbahaya dengan orang yang tidak dikenal?
 
Selama bertahun-tahun, banyak anak dibesarkan dengan konsep “bahaya orang asing”. Namun, pendekatan ini ternyata tidak sepenuhnya efektif.

Dilansir dari Parents, Callahan Walsh dari National Center For Missing & Exploited Children (NCMEC) menekankan bahwa konsep ini justru bisa menyesatkan.

“Jika kamu bertanya kepada anak apa ciri-ciri orang asing, mereka akan menjawab ‘seseorang yang jahat dan jelek,’ dan itu tidak selalu benar,” kata Walsh.

“Seorang predator berusaha memikat anak, jadi mereka sering kali bersikap baik kepada mereka,” tambahnya.


(Berteriak, meminta tolong, dan menarik perhatian publik menjadi keterampilan penting berkaitan dengan predator anak. Foto: Ilustrasi/Pexels.com) 

Kalimat ini menegaskan bahwa ancaman tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dikenali.

Data NCMEC juga menunjukkan bahwa penculikan oleh orang asing sangat jarang terjadi, hanya sekitar 1% dari seluruh kasus anak hilang. Bahkan, dalam banyak situasi darurat, orang asing justru menjadi pihak yang membantu.

Oleh karena itu, fokus utama bukan menanamkan rasa takut, melainkan membangun pemahaman tentang orang dewasa yang dapat dipercaya.

“Kita perlu mengajarkan anak-anak tentang orang dewasa yang dapat dipercaya: tetangga, guru, petugas keamanan, atau kasir toko dengan name tag,” katanya.

“Inilah orang-orang yang bisa mereka hubungi jika mereka dalam bahaya. Lebih dari 80% kasus di mana seorang anak berhasil melarikan diri dari penculik, itu karena mereka menarik perhatian sebanyak mungkin pada situasi tersebut. Itu bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati,” tambah Walsh.
 
Pendekatan ini mengajarkan anak untuk aktif melindungi diri, bukan sekadar takut. Berteriak, meminta tolong, dan menarik perhatian publik menjadi keterampilan penting. 

Percakapan tentang keselamatan juga perlu dimulai sejak dini agar pesan tersebut melekat dan berkembang seiring usia.

Dengan demikian, anak tidak tumbuh dengan rasa cemas berlebihan, tetapi dengan kepercayaan diri dan kewaspadaan yang sehat.


Secillia Nur Hafifah


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH