FAMILY

Bukan Cuma Drama, Ini Penyebab Bayi Rewel Pas DBF yang Wajib Moms Tahu

Yatin Suleha
Kamis 19 Februari 2026 / 12:23
Ringkasnya gini..
  • Ada kondisi yang disebut tongue-tie, yaitu jaringan di bawah lidah terlalu pendek sehingga membatasi gerakan lidah saat bayi menyusu ASI.
  • Beberapa bayi tetap menyusu tanpa masalah, tetapi sebagian lainnya menjadi rewel karena rasa tidak nyaman pada gusi.
  • Memahami bahwa setiap bayi memiliki dinamika unik dalam proses menyusui membantu mengurangi rasa khawatir.
Jakarta: Tidak hanya ibu yang mengalami tantangan, bayi juga bisa mengalami berbagai kondisi yang memengaruhi proses menyusui. Salah satu yang sering terjadi adalah tumbuh gigi.

Beberapa bayi tetap menyusu tanpa masalah, tetapi sebagian lainnya menjadi rewel karena rasa tidak nyaman pada gusi. Dalam upaya mengurangi rasa sakit, bayi mungkin mengubah posisi menyusu atau bahkan menggigit.

Mengamati tanda-tanda sebelum gigitan terjadi bisa membantu. Biasanya bayi menggerakkan lidah terlebih dahulu. Melepaskan hisapan dengan memasukkan jari ke sudut mulut bayi dapat mencegah luka pada puting. Memberikan mainan gigit sebelum menyusui juga bisa mengurangi keinginan menggigit.
 
Selain itu, ada kondisi yang disebut tongue-tie, yaitu jaringan di bawah lidah terlalu pendek sehingga membatasi gerakan lidah. Akibatnya, bayi kesulitan menempel dengan baik dan tidak dapat melakukan gerakan gelombang yang efektif saat menyusu.

Tanda-tandanya antara lain suara klik saat menyusu, sering kehilangan hisapan, serta nyeri pada puting akibat pelekatan yang kurang tepat. Tongue-tie dapat diatasi dengan prosedur sederhana yang relatif cepat.

Dilansir dari BabyCenter, bayi juga bisa mengalami “mogok menyusu”. 


(Bayi malas menyusu (nursing strike) umumnya disebabkan oleh rasa tidak nyaman (sakit mulut, sariawan, hidung tersumbat, atau tumbuh gigi). Cari tahu dan nyamankan si kecil saat memberikan ASI. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Kondisi ini biasanya berlangsung dua hingga lima hari dan bisa dipicu oleh nyeri gigi, hidung tersumbat, infeksi telinga, atau perubahan rutinitas.

Selama fase ini, produksi ASI perlu dijaga dengan memompa secara teratur agar tidak terjadi pembengkakan atau penyumbatan.

Masalah lain adalah kebingungan puting ketika bayi berganti antara payudara dan botol. Beberapa bayi bisa beradaptasi dengan mudah, tetapi ada juga yang kesulitan. Menggunakan metode pemberian botol dengan aliran lambat dan bentuk dot yang menyerupai payudara bisa membantu.

Tidak jarang pula bayi lebih menyukai satu payudara dibandingkan yang lain. Hal ini bisa terjadi karena perbedaan aliran ASI atau posisi yang dirasa lebih nyaman.
 
Menawarkan payudara yang kurang disukai saat bayi masih mengantuk atau sangat lapar dapat menjadi strategi efektif.

Memahami bahwa setiap bayi memiliki dinamika unik dalam proses menyusui membantu mengurangi rasa khawatir. Dengan pendekatan yang sabar dan solusi yang tepat, sebagian besar hambatan dapat diatasi.


Secillia Nur Hafifah


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH