FITNESS & HEALTH

Bocoran Psikolog: Cara Jitu Ajak Anak Puasa Sejak Dini

Yatin Suleha
Minggu 22 Februari 2026 / 11:09
Ringkasnya gini..
  • Kapan waktu yang tepat mengajarkan puasa pada anak?
  • Dr. Dewi Retno Suminar, Dra., M.Si., Psikolog mengatakan bahwa anak-anak dapat diajarkan untuk berpuasa sedini mungkin.
  • Orang tua harus memahami usia anak, karena usia menentukan perkembangan kognitif anak.
Jakarta: Ramadan selalu identik dengan perubahan ritme kehidupan di rumah. Jam tidur bergeser, dapur lebih ramai saat dini hari, dan ruang keluarga terasa hidup menjelang waktu berbuka.

Di tengah suasana tersebut, anak-anak biasanya mulai penasaran. Ada yang ingin ikut sahur karena merasa seru, ada yang bertanya mengapa tidak boleh makan sepanjang hari, bahkan ada yang dengan percaya diri menyatakan ingin puasa penuh seperti orang dewasa.

Di titik inilah banyak keluarga mulai berpikir, kapan waktu yang tepat mengajarkan puasa, dan bagaimana caranya agar proses belajar ini tidak berubah menjadi tekanan?
 
Dr. Dewi Retno Suminar, Dra., M.Si., Psikolog., seorang ahli psikologi anak di Universitas Airlangga (UNAIR), mengatakan bahwa anak-anak dapat diajarkan untuk berpuasa sedini mungkin.

Namun, orang tua tetap harus memerhatikan porsi pemikiran, dan kekuatan fisik anak dalam berpuasa.

Dilansir dari Unair.ac.id, Dr. Dewi mengungkapkan bahwa orang tua harus memahami usia anak, karena merupakan cara yang tepat untuk mengajarkan anak berpuasa tanpa memaksa.
 

Orang tua harus memahami usia anak



(Keteladanan jauh lebih ampuh daripada instruksi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Orang tua harus memahami usia anak, karena usia menentukan perkembangan kognitif anak dan hal ini juga berkaitan dengan cara berkomunikasi, atau cara mengajarkan anak berpuasa.

Menurut Dr. Dewi, bagi anak di bawah tujuh tahun yang berada pada tahap perkembangan kognitif praoperasional, cara terbaik untuk mengajarkan puasa adalah dengan memberikan contoh langsung, atau memberikan kesempatan kepada anak untuk meniru perilaku orang tua.

Misalnya, saat anak bangun sahur, biarkan anak melihat apa yang dilakukan orang tua dan jelaskan mengapa mereka harus makan sahur.

“Menciptakan suasana Ramadan di rumah, dengan sahur, puasa, dan shalat tarawih bersama akan memperkuat proses meniru anak-anak dalam berpuasa,” jelas Dr. Dewi.

Artinya, untuk anak usia dini, teori panjang tidak terlalu efektif. Keteladanan jauh lebih ampuh daripada instruksi. Jika ingin anak belajar menahan diri, maka lingkungan rumah perlu mendukung.

Puasa bisa dimulai secara bertahap, misalnya hingga waktu zuhur atau asar terlebih dahulu. Proses ini membantu anak memahami makna menahan diri, tanpa merasa dipaksa.

Sementara itu, untuk anak-anak berusia tujuh tahun ke atas yang berada pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret, cara terbaik untuk mengajarkan puasa kepada anak-anak menurut Dr. Dewi adalah dengan memberikan hadiah, dan penguatan ketika anak mampu berpuasa selama satu bulan penuh secara konsisten.

Hadiah yang diberikan bisa berupa pujian atau hadiah, tergantung pada masing-masing keluarga, karena terkadang ada anak yang tidak cukup diberi pujian tetapi harus diberi hadiah.

Pendekatan ini membantu anak memahami hubungan antara usaha dan hasil. Namun yang paling penting, prosesnya tetap disesuaikan dengan kondisi fisik.

“Selain itu, penting untuk memperhatikan kondisi fisik anak-anak. Orang tua dapat memberikan makanan bergizi dan, jika diperlukan, orang tua dapat memberikan vitamin kepada anak-anak,” tambahnya.
 
Dengan strategi yang tepat sesuai usia, puasa bukan lagi ajang tarik-menarik emosi, melainkan proses belajar bertahap yang realistis.
 

Tips!


Kuncinya bukan pada seberapa lama anak mampu menahan lapar, tetapi pada bagaimana pengalaman itu membentuk kebiasaan baik tanpa meninggalkan rasa terpaksa.

 

Secillia Nur Hafifah


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH