Rokok elektrik mengandung beberapa macam bahan kimia. Yakni nikotin, partikel ultrafine, perasa seperti diacetyl. (Foto: Shutterstock)
Rokok elektrik mengandung beberapa macam bahan kimia. Yakni nikotin, partikel ultrafine, perasa seperti diacetyl. (Foto: Shutterstock)

Bahaya Kesehatan di Balik Rokok Elektrik

Rona rokok elektrik
Anda Nurlaila • 27 Juni 2019 18:52
Jakarta: Vape atau yang dikenal dengan rokok elektrik sebenarnya tidak sama dengan rokok biasa. Tapi menghirup berbagai uap dengan aneka rasa, berdampak serius pada kesehatan, termasuk pada anak-anak.
 
Vaping adalah istilah bagi penggunaan rokok elektrik yang dioperasikan menggunakan baterai. Penggunaannya mulai dikenal luas sejak 2006. Namun, bagi orang tua yang senang menghirup vape, uap vape yang terhirup dapat berdampak buruk pada kesehatan.
 
Dokter anak di Northwestern Medicine Cynthia Ambler mengatakan, rokok elektronik memiliki banyak nama termasuk e-hookah, mods, vape pens, vape, juuls dan e-cigs. Beberapa lainnya dibuat seperti rokok biasa, cerutu atau pipa cangklong, hingga ada yang berbentuk USB.  

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baik e-rokok maupun rokok mengandung nikotin. Tetapi berbeda caranya memasuki paru-paru. Sementara perbedaan utama antara vaping dan merokok adalah vape tidak mengandung tembakau.
 
“Dengan vaping, cairan nikotin dipanaskan, menjadi uap dan dihirup. Tetapi rokok dibakar  membentuk asap yang dihirup," kata Ambler.
 
“Memang benar bahwa ada beberapa komponen berbahaya dari asap tembakau rokok yang tidak ada dalam nikotin aerosol (vape) seperti ter dan gas oksidan. Namun, sebagian besar e-rokok mengandung bahan kimia berbahaya lainnya." ungkap Ambler kepada Parents.

Vape Vs Rokok, mana yang lebih buruk

Ada kesalahpahaman umum bahwa vape lebih aman daripada rokok. Padahal, vape menciptakan serangkaian bahaya kesehatan bagi paru-paru dan otak serta sistem organ lainnya.
 
Dokter anak dan kepala Pusat Pengobatan Remaja di Cleveland Clinic Children's Ellen Rome mengatakan, remaja pengguna Vape dua kali lebih mungkin mengalami gangguan pernapasan seperti batuk persisten, bronkitis, dan masalah lain daripada remaja yang tidak menggunakan.
 
Di samping itu, pengguna vape lebih mudah kecanduan vape karena konsentrasi nikotin lebih tinggi. Bahan kimia pada vape berbeda dari rokok. Di antaranya, propilen glikol dan gliserol yang terurai menjadi formaldehyde dan acetaldehyde yang dikenal sebagai karsinogen.
 
"Bahan kimia vape juga bisa mengandung logam seperti timah, nikel, dan arsenik, yang diketahui berbahaya bagi tubuh manusia," kata Ambler.
 
Asap vaping, seperti halnya asap rokok memiliki efek samping serius karena kandungan karsinogen seperti nitrosamin.
 
Bahaya Kesehatan di Balik Rokok Elektrik
 
Meski efek kesehatan jangka panjang vape belum diketahui, Judy mengatakan, pada 2016 Surgeon General menyimpulkan emisi bekas dari rokok elektrik mengandung beberapa macam bahan kimia. Yakni nikotin, partikel ultrafine, perasa seperti diacetyl, bahan kimia yang terkait dengan penyakit paru-paru serius. Senyawa organik yang mudah menguap seperti benzena. Biasanya ditemukan pada knalpot mobil, serta logam berat, seperti nikel, timah, dan timbal.
 
Bahaya lainnya adalah jika aerosol terhirup pihak ketiga, seperti anak. Nikotin pada permukaan terbukti meningkat setelah penggunaan e-rokok.
 
Aerosol residu setelah vaping dapat menetap di berbagai permukaan dan debu, yang bereaksi dengan oksidan di lingkungan menghasilkan polutan sekunder yang dapat terhirup. Ada pun aneka rasa vaping ternyata menimbulkan kerusakan besar.
 
"Ribuan perasa pada rokok elektrik termasuk perasa buah dan soda dan efek perasan inhalasi pada fungsi paru-paru sebagian besar tidak diketahui. Tapi beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara perasa ini dan peningkatan iritasi paru-paru,” tegas Ambler.
 
Perlukah Vape Dilarang?

 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif