Manfaat Permainan Balok untuk Membentuk Kepribadian Si Kecil

Sri Yanti Nainggolan 14 Juni 2018 16:00 WIB
tumbuh kembang anak
Manfaat Permainan Balok untuk Membentuk Kepribadian Si Kecil
(Foto: Shutterstock)
Jakarta: Permainan tak hanya menyenangkan, tetapi juga dapat membentuk karakter si kecil. Sebuah studi menemukan bahwa permainan balok, yang biasanya dimainkan pada masa pra-sekolah, dapat membantu meningkatkan kemampuan matematika dan fungsi eksekutif.

Fungsi eksekutif adalah kemampuan untuk memperhatikan, mengingat dan menggunakan sumber dari lingkungan, serta mencegah respons alami untuk menjadi lebih adaptif.

"Sebagai ahli anak usia dini, peneliti Sara Schmitt sering ditanyai oleh orang tua dan guru tentang apa yang bisa mereka lakukan untuk mendukung kesiapan si kecil masuk sekolah.


"Saya sering sarankan untuk bermain balok, dibandingkan mainan lain. Karena belum ada bukti empiris, saya pun melakukan studi ini, untuk meyakinkan bahwa permainan ini berhubungan dengan perkembangan matematika dan fungsi eksekutif," ujarnya seperti dikutip The Health Site.

Studi tersebut menemukan bahwa permainan balok semi terstuktur meningkatkan kemampuan matematika, seperti numerasi, pengenalan bentuk dan bahasa matematika, dan dua indikator fungsi eksekutif yaitu fleksibilitas kognitif dan fungsi eksekutif global.

Anak dari orang tua yang memiliki pendidikan atau sosial-ekonomi rendah merasa diuntungkan dengan permainan tersebut.

"Balok bisa ditemukan dimanapun, baik kelas maupun rumah, dan umumnya orang tua nyaman memainkannya. Studi kami menunjukkan bahwa bermain dengan blok dalam format semi-terstruktur dapat meningkatkan keterampilan penting ini," kata Schmitt.

Penelitian tersebut melibatkan anak-anak berusia 3 hingga 5 tahun yang berpartisipasi dalam 14 sesi bermain kelompok kecil selama 15 hingga 20 menit. Siswa diberikan set balok kayu yang bervariasi dalam bentuk dan ukuran, serta diberikan permintaan singkat sebelum setiap sesi.

"Kami memulai dengan sangat sederhana dan kemudian, pada akhirnya, kami meminta mereka untuk melakukan hal-hal yang sangat rumit," kata Schmitt.

Misalnya, para peneliti meminta partisipan membangun menara pada sesi pertama. Selanjutnya, mereka diminta membuat replika dari gambar kompleks.

"Kami pikir petunjuk ini membantu anak-anak untuk lebih terlibat dengan konsep-konsep matematika dan juga mempraktikkan keterampilan fungsi eksekutif mereka daripada tanpa miliki tanpa petunjuk."

Dua sampai tiga penilaian selama 20 hingga 30 menit tersebut mengungkapkan pola pertumbuhan di antara anak-anak yang berpartisipasi dalam permainan balok semi-terstruktur. Percobaan tersebut dilakukan di ruang yang tenang.

"Ini bukan sekadar bermain balok, tetapi sengaja menggunakan permainan itu untuk memfasilitasi pengembangan keterampilan ini," jelas Schmitt.





(DEV)