Vape atau rokok elektrik memanaskan zat-zat termasuk nikotin dan ganja untuk diubah menjadi aerosol yang dihirup penggunanya. (Foto: CBC)
Vape atau rokok elektrik memanaskan zat-zat termasuk nikotin dan ganja untuk diubah menjadi aerosol yang dihirup penggunanya. (Foto: CBC)

Waspada Rokok Elektrik!

Rona rokok elektrik
A. Firdaus • 20 September 2019 14:39
Jakarta: Sudah tak terbantahkan lagi kalau Vape atau Rokok Elektrik adalah alternatif bagi para 'pecandu' nikotin mendapatkan penyakit paru-paru. Pasalnya, belakangan beberapa kasus kematian dan penyakit paru-paru berasal dari vape atau rokok elektrik.
 
Seorang pria berusia 20 tahun dari Utah misalnya. Ia biasa mengisap vape setiap hari dan nyaris meninggal karena penyakit paru-paru yang mengancam jiwanya. Bahkan orangtuanya sudah siap menguburkan, lantaran sang anak sulit disembuhkan.
 
"Saya merasa bahwa kami akan merencanakan pemakaman," kata Mitchell kepada KUTV, setelah putranya, Alexander Mitchell yang berusia 20 tahun mengidap penyakit paru-paru berbahaya yang membingungkan para dokternya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Alexander punya kasus pneumonia lipoid, sebuah kondisi yang disebabkan lemak atau minyak yang menutupi paru-paru. Sehingga bisa dengan cepat meningkat menjadi sindrom gangguan pernapasan akut yang bisa mengancam jiwa.
 
Bahkan pada bulan lalu di Illionis, Amerika Serikat, ada pasien yang meninggal akibat kasus tersebut. Ini diduga menjadi korban meninggal pertama dari Vape.
 
Secara keseluruhan telah ada 200 kasus serupa di 24 negara bagian di AS. Data juga dilansir dari Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit Menular AS (CDC). CDC membantu Departemen Kesehatan Masyarakat Illinois dalam menyelidiki kasus-kasus tersebut, bersama dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS (FDA).
 
Secara luas, sejak akhir Juni, menurut CDC, 94 orang di 14 negara telah menderita penyakit paru-paru serius, yang mungkin terkait dengan penggunaan rokok elektrik. Jenis rokok ini memanaskan zat-zat termasuk nikotin dan ganja untuk diubah menjadi aerosol yang dihirup penggunanya.
 
Meski belum sepenuhnya jelas bagaimana vape bisa menyebabkan banyak masalah kesehatan, menurut American Academy of Pediatric, keracunan nikotin dapat terjadi ketika orang, terutama anak-anak, menelan nikotin cair atau menyerapnya melalui kulit.
 
Berangkat dari itu, diharapkan segala pemakai Vape di Indonesia tak mengalami hal serupa dan harus bisa menghentikan kebiasaan tersebut. Hal ini sudah ditegaskan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek beberapa waktu lalu yang mengatakan kalau penggunaan vape atau rokok elektrik berbahaya bagi kesehatan.
 
"Vape sudah jelas ya, terbukti merusak kesehatan. Seharusnya itu dilarang karana kalau dari dulu saya sudah mengatakan vape itu lebih buruk," kata Nila di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta beberapa hari lalu.
 
Sayangnya, Kemenkes tak bisa membuat regulasi pelarangan rokok elektrik. Meski begitu, kini Nila berharap kepada Kementerian Perdagangan untuk bisa melakukan pelarangan.
 
Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) membuat policy paper terkait peredaran rokok elektrik kepada Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perdagangan. Surat itu diharapkan bisa dijadikan dasar kebijakan pelarangan peredaran rokok jenis baru tersebut.
 

(YDH, FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif