Sering Intip Media Sosial Bikin Wanita Muda Merasa Kurang Bahagia?
Benarkah sering intip media sosial buat wanita muda merasa kurang bahagia? Simak informasinya dari psikolog Efnie Indrianie, M.Psi. (Foto: Rawpixel/Unsplash.com)
Jakarta: Sudah lebih dari 10 tahun perkembangan media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram ada dan nyatanya semakin booming.

Namun perkembangan media sosial yang terjadi tersebut bukannya tak memiliki dampak. Sedikit banyak punya pengaruh pada siapa pun.

Contohnya sebuah riset yang dilakukan oleh Gilrguiding di Inggris mengatakan bahwa ujian di sekolah serta tekanan dalam media sosial telah membuat wanita muda merasa kurang bahagia pada kehidupannya.


"Wanita muda Inggris menjadi sangat tergantung pada handphone mereka dan memeriksanya sampai 28 kali dalam sehari," tulis sebuah artikel dalam Independent.co.uk.

Kondisi yang kurang sehat dan kompulsif serta keasyikan dengan sesuatu atau seseorang di dalam media sosial ini telah mengubah atau mengorbankan kesehatan mental pada wanita muda tersebut.


(Perkembangan media sosial yang terjadi bukannya tak memiliki dampak. Sedikit banyak punya pengaruh pada siapa pun. Sebuah riset yang dilakukan oleh Gilrguiding di Inggris mengatakan bahwa ujian di sekolah serta tekanan dalam media sosial telah membuat wanita muda merasa kurang bahagia Foto: Qi Bin/Unsplash.com)
 
Deanna (23, agency staff) yang menaruh perhatian lebih kepada penampilan juga mengatakan bahwa banyak juga inspirasi didapat dari media sosial seperti Instagram contohnya. "Kalau ada keluaran brand terbaru, timingnya pas, jadi beli," ucap wanita yang ramah ini.

(Baca juga: Kecanduan Media Sosial, Bukti Keinginan Interaksi Sosial yang Tinggi)

Tapi ia menambahkan jika ada barang yang harganya tak sesuai kantong, terkadang juga merasa kesal. "Kesal juga. Kenapa sih barang itu mahal banget. Aku jadi enggak bisa beli kan."

"Kalau sudah begitu keeksisan sedikit jadi berkurang dong..." bisiknya lagi.

Pandangan psikolog

Menurut psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung mengatakan bahwa tekanan ujian dan media sosial membuat para wanita muda lebih tak bahagia ada kaitannya dengan “self actualization”.

"Salah satu psychological need yang dimiliki oleh manusia adalah self actualization. Karena itu merupakan psychological need manusia, maka manusia secara psikologis akan berusaha untuk memenuhi need tersebut," ujar psikolog yang ramah ini.

Aktuliasasi diri pungkas Efnie erat kaitannya juga dengan penghargaan yang diberikan oleh lingkungan sosial kepada kita.

"Nah, di era digital saat ini, wanita muda berbondong-bondong menggunakan cara mengaktualisasikan dirinya melalui media sosial tentunya dengan mengunggah foto-foto pribadi dan lain-lain. Sehingga mereka lupa menggunakan cara-cara yang lain, misalnya melalui kegiatan di dunia nyata dengan prestasi dan karya-karya nyata."


(Menurut psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung mengatakan bahwa tekanan ujian dan media sosial membuat para wanita muda lebih tak bahagia ada kaitannya dengan “self actualization”. Foto: Jens Johnsson/Unsplash.com)

Ia juga menambahkan bahwa hal yang mereka lupa bahwa di era digital pihak lain mudah sekali memberikan komentar tentang hal-hal yang kita unggah. "Tidak jarang komentarnya negatif," katanya lagi.

"Selain itu, jika unggahan kita tidak menuai 'like' dari pihak yang lain, maka kita pun merasa kecewa dan berusaha membandingkan mengapa orang terentu mudah sekali menuai 'like' dan seolah menjadi bintang/seleb dunia maya. Tanpa disadari, kita sudah memasukkan diri kita pada situasi 'psychological war'."

Tentunya hal ini menurut Efnie akan menguras energi mental kita dan kita akan terus berusaha untuk memenuhi self actualization tersebut.

Sibuk terjebak dengan situasi tersebut, sehingga mereka lupa menikmati hal-hal kecil yang mereka hadapi di dunia nyata.

Misalnya menikmati makan bersama orang-orang terkasih, keluarga dan sahabat, "Karena setiap saat memantau media sosial dan berpikir apa yang perlu saya tampilkan di media sosial agar orang lain kagum pada saya."

Kondisi ini memicu stres pada level yang tinggi ungkap psikolog yang masih aktif mengajar ini. "Jika stress level kita meningkat, otomatis kebahagiaan menurun. Hal ini ditandai dengan meningkatkan hormon kortisol dan turunnya hormon endorphine," jelasnya lagi.





(TIN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id