(Ilustrasi: MI/Tiyok)
(Ilustrasi: MI/Tiyok)

Pasien Jantung Koroner Kini tidak Perlu Operasi

Rona kesehatan
Syarief Oebaidillah • 07 November 2014 16:12
medcom.id, Jakarta: Kini  pasien penyakit jantung koroner (PJK) yang stabil tidak perlu melakukan pemasangan stent atau operasi. Selain mahal, tindakan tersebut juga tidak menjamin sembuh total.
 
Hal tersebut dapat diatasi berkat temuan terbaru, yakni penggunaan terapi konservatif pada pasien PJK yang masih stabil. Dengan terapi ini, penderita penyakit jantung koroner yang belum masuk kategori gawat tidak perlu menjalani tindakan lainnya, baik pemeriksaan kateterisasi (balon), pemasangan ring (stent), pompa jantung, maupun operasi by pass.
 
Hal tersebut dipaparkan Direktur Jakarta Vascular Centre Dr med Frans Santosa MD, di Jakarta, Jumat (7/11/2014).
 
Ia menjelaskan, terapi konservatif yakni terapi pengobatan agresif dengan obat-obatan yang direkomendasikan dokter pada pasien dengan penyakit jantung koroner yang masih stabil.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Frans, pada pasien stadium yang belum akut atau statusnya stabil ini biasanya rasa sakit di dada sifatnya hanya timbul kadang-kadang saja pada saat aktivitas berat dan tidak bertambah selang beberapa saat.
 
"Rasa sakitnya tidak mengganggu kehidupan sehari-hari," cetusnya.
 
Penatalaksanaan pasien PJK pada stadium awal yang tidak tepat, menurut dia, dapat menimbulkan kejadian komplikasi, yaitu robeknya pembuluh darah koroner sehingga terjadi penggumpalan darah dan akhirnya meningkatkan risiko kematian. Selain itu, memberikan efek psikologis bagi pasien karena jika tidak disertai dengan kesadaran untuk menjaga gaya hidup sehat secara disiplin, pemasangan cincin atau stent justru menjadi penghambat proses pengobatan.
 
"Banyak pasien yang sudah dipasang stent atau cincin di jantungnya sudah merasa aman dan sembuh sehingga dia mengonsumsi apa saja dan melakukan kegiatan apa pun yang mungkin membahayakan jantungnya," papar Frans yang menjabat sebagai Bendahara Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) itu.
 
Seperti diketahui Penyakit jantung koroner merupakan problema kesehatan utama di dunia saat ini. Data terakhir dari Badan Kesehatan Dunia PBB (World Health Organization/WHO), PJK dan serangan jantung mendadak masih menjadi pembunuh manusia nomor satu di negara maju dan berkembang dengan menyumbang 60 persen dari seluruh kematian.
 
Persentase kematian akibat penyakit ini di negara berkembang, termasuk di Indonesia, juga meningkat. Data Badan Litbang Kementerian Kesehatan, persentase kematian meningkat dari 5,9 persen (1975) menjadi 9,1 persen (1986) dan 19,0 persen pada 1995. Beberapa ahli mengatakan, penyakit ini kini sudah menjadi epidemi global tanpa mengenal perbedaan jenis kelamin, batas geografis, dan sosial ekonomi.
 
Selain obat-obatan, penanganan pasien PJK dilakukan dengan menjaga agar sejumlah faktor pemicunya tetap stabil. Frans menyebutnya, dengan rumus 035140530 yaitu jangan merokok, olahraga proporsional selama 30 menit per hari, mengonsumsi buah atau sayur minimal 5 kali sehari, menurunkan tekanan darah di bawah 150/89 mmHg, kolesterol baik (HDL) di bawah 190 mg/dL dan kolesterol jahat (LDL) di bawah 114 mg/dL.
 
Selain itu, diusahakan pasien jantung tidak boleh memiliki berat badan yang berlebihan atau obesitas. Sementara itu, atas dasar kiprahnya dan penemuan mutakhirnya soal pengobatan pasien PJK tersebut, Frans dianugerahi nobel yang untuk pertama kalinya diberikan oleh Komunitas Nobel Indonesia (KNI).
 
Dokter lulusan Ilmu Kedokteran Vaskuler di Department of Angiology, University Hospital, di Essen, Jerman, ini berdiri sejajar dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai peraih Nobel bidang ekonomi, dan sastrawan Remy Silado di bidang kesusastraan. Kesuksesannya meraih Nobel tak lepas dari tulisan dan penelitiannya dalam bukunya berjudul Therapy of Coronary Heart Disease-Current Standpoint terbitan UNIMED Verlag AG, Bremen, Jerman.
 
Buku itu kini telah menjadi salah satu buku referensi wajib para dokter yang hendak mengambil spesialisasi penyakit jantung di berbagai negara Eropa, khususnya Jerman.
 
Di Indonesia, buku ini dibagikan secara cuma-cuma kepada mahasiswa kedokteran. Penghargaan Nobel oleh KNI merupakan salah satu upaya mendorong atau menumbuhkan motivasi bagi para ilmuwan muda maupun tokoh masyarakat untuk terus berupaya meraih prestasi mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(ADF)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif