Infrastruktur kendaraan listrik. Foto: Medcom.id.
Infrastruktur kendaraan listrik. Foto: Medcom.id.

Infrastruktur Kendaraan Listrik Makin Ngebut, Ekonomi Indonesia Ikut Tancap Gas

Arif Wicaksono • 12 Mei 2026 13:39
Jakarta: Infrastruktur kendaraan listrik dinilai memiliki peran penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tekanan ekonomi global dan berbagai tantangan struktural yang masih membayangi perekonomian nasional.
 
Baca juga:   Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dibayangi Penurunan Cadangan Devisa dan Lonjakan Utang 

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pemerintah perlu terus memperkuat dukungan terhadap pengembangan energi bersih dan infrastruktur kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan insentif yang berkelanjutan.
 
Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan berada di level 5 persen. Meski demikian, kondisi ekonomi global yang melambat tetap menjadi tantangan yang perlu diwaspadai.
 
Menurut Esther, stabilitas makroekonomi Indonesia masih cukup terjaga dengan proyeksi inflasi sekitar 3 persen dan nilai tukar rupiah yang diperkirakan berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Selain itu, sektor perbankan juga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit dan fungsi intermediasi.

Namun, ia menekankan pentingnya memperluas stimulus ekonomi, termasuk lewat pembangunan infrastruktur kendaraan listrik dan pengembangan energi terbarukan agar Indonesia memiliki sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.
 
Menurutnya, pembangunan infrastruktur kendaraan listrik yang merata akan meningkatkan rasa aman dan kepercayaan masyarakat untuk beralih menggunakan kendaraan listrik.
 
“Infrastruktur kendaraan listrik yang memadai akan membuat masyarakat lebih yakin menggunakan mobil listrik karena didukung akses energi yang lebih murah dan mudah
dijangkau,” ujarnya dikutip dari Antara. 
 
Selain mempercepat transisi energi bersih, pengembangan infrastruktur kendaraan listrik juga
diyakini mampu menarik investasi baru ke sektor industri hijau di Indonesia.
 
Indef juga menilai sektor perbankan perlu menjaga stabilitas sistem keuangan melalui kebijakan makroprudensial yang tetap akomodatif agar keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas finansial tetap terjaga.
 
Di sisi lain, perlambatan ekonomi global dinilai masih berpotensi memberi tekanan terhadap sektor informal dan UMKM. Penurunan permintaan global diperkirakan dapat memengaruhi ekspor komoditas unggulan Indonesia seperti batu bara dan crude palm oil (CPO).
 
Sebelumnya, Indef menyebut kebijakan insentif kendaraan listrik merupakan investasi fiskal jangka panjang yang dapat menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional. Kebijakan tersebut dinilai tidak hanya mempercepat penggunaan energi bersih, tetapi juga meningkatkan daya tarik investasi Indonesia di sektor kendaraan listrik.
 
Indef mencatat investasi asing di industri kendaraan listrik Indonesia mencapai 2,73 miliar dolar AS dalam tiga tahun terakhir, seiring meningkatnya minat produsen global membangun fasilitas produksi di dalam negeri.
 
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2026. Nilai produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan mencapai Rp3.447,7 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga berlaku tercatat Rp6.187,2 triliun.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan