Zulys mengungkap penjelasan ilmiah di balik kecenderungan manusia sulit menerima koreksi, terutama saat berada pada posisi tertentu. Sebelumnya, cuplikan video babak final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat jenjang SMA ramai diperbincangkan di media sosial lantaran sikap juri dan master ceremony (MC) yang dinilai mengecewakan.
Lomba yang disiarkan langsung pada 9 Mei 2026 itu mempertemukan SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Cuplikan ini dimulai dari pertanyaan yang dilemparkan MC. Pertanyaan yang diberikan kepada tiga sekolah adalah: "Pimpinan BPK dipilih dari dan oleh anggota. Namun untuk menjadi anggota BPK, keterkaitan dengan Perwakilan Daerah tetap dijaga. DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?" tanya MC dikutip dari tayangan YouTube MPRGOID, Kamis, 14 Mei 2026.
Salah seorang siswi SMAN 1 Pontianak menekan bel lebih dulu dan menjawab bahwa anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden. Namun juri, Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI, Dyastasita WB, justru memberikan nilai minus 5 tanpa penjelasan yang memadai.
Soal yang sama kemudian dilemparkan kembali kepada peserta. Tak berselang lama, siswi SMAN 1 Sambas menjawab dengan kalimat yang persis sama dan oleh juri yang sama pula malah diberi nilai 10. "Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai 10," kata Dyastasita.
Siswi SMAN 1 Pontianak langsung angkat suara dan menegaskan jawabannya tidak berbeda dengan siswi SMAN 1 Sambas. "Izin! Tadi kami menjawabnya sama seperti regu B (SMAN 1 Sambas). Sama," tegas siswi SMAN 1 Pontianak itu.
Namun, juri Dyastasita mengelak dan menyebut siswi SMAN 1 Pontianak tidak menyebutkan kata DPD dalam jawabannya. "Tadi disebutkan regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada," kata Dyastasita.
Siswi tersebut langsung membantah dan memastikan jawabannya sudah lengkap. "Ada, (mengulang jawaban). Mungkin dari penonton ada yang mendengar saya menjawab DPD," tutur siswi SMAN 1 Pontianak itu.
Namun protes itu tidak membuahkan hasil. MC justru meminta peserta menerima keputusan dewan juri dan menyebut ketidakpuasan sang siswi mungkin hanya perasaannya sendiri.
"Baik adik-adik mohon diterima keputusan dewan juri, karena tentunya dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengarkan jawaban dari adik-adik. Mungkin itu hanya perasaan Adik-adik saja. Nanti mungkin bisa dilihat tayangan ulangnya setelah acara selesai," kata MC.
Juri lainnya, Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi, Indri Wahyuni, turut angkat bicara. Ia menyalahkan artikulasi peserta yang dinilai kurang jelas sebagai alasan pemberian nilai minus.
"Kalau menurut kalian sudah, tapi dewan juri menilai kalian tidak karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya itu artinya dewan juri berhak memberikan nilai minus 5. Jadi sekali lagi kami peringatkan artikulasi diperhatikan ya," kata Indri.
Tanpa ada penyelesaian, lomba pun dilanjutkan. Respons juri dan MC itu justru semakin membakar kemarahan netizen di media sosial.
Merespons ramainya polemik tersebut, MPR RI akhirnya memutuskan mengulang pelaksanaan final LCC Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat. Keputusan ini diambil menyusul banyaknya kritik dan masukan dari masyarakat terkait insiden dalam perlombaan tersebut.
Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, mengakui adanya kekurangan hingga kekhilafan dalam penyelenggaraan final tersebut dan memastikan lomba ulang akan menggunakan juri independen serta diawasi langsung oleh jajaran pimpinan MPR RI untuk menjamin objektivitas dan transparansi.
"Lomba Cerdas Cermat di tingkat Kalimantan Barat yang final akan kita lakukan ulang pada waktu yang akan segera diputuskan secepatnya," kata Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.
Muzani menjelaskan keputusan ini diambil demi menjaga kredibilitas Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar yang rutin digelar MPR RI dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI. Ia mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan, keterbatasan, hingga kekhilafan dalam pelaksanaan final tingkat Kalimantan Barat beberapa waktu lalu.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para netizen yang menyampaikan pandangan, kritik, dan saran kepada kami. Kami terima itu sebagai sebuah pandangan yang positif untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan kami selanjutnya,” ujar dia.
Muzani mengatakan jajaran pimpinan MPR RI sepakat menggelar ulang final LCC Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat setelah mendengarkan penjelasan dari Sekretaris Jenderal MPR. Ia menambahkan, pelaksanaan lomba nantinya akan melibatkan juri independen untuk menjamin objektivitas penilaian.
Nah, di balik ramainya polemik ini, Zulys hadir dengan perspektif sains yang menarik untuk dipahami. Guru Besar FMIPA UI itu menjelaskan bahwa fenomena sulit menerima koreksi bukan sekadar soal sikap, melainkan berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia secara ilmiah.
Analisis Sains
Zulys memaparkan bahwa secara sains, manusia memang tidak sepenuhnya objektif karena otak memiliki apa yang disebut cognitive biases atau bias berpikir. Kecenderungan ini semakin menguat ketika seseorang sudah dianggap ahli, senior, atau menduduki jabatan tertentu, karena otak cenderung otomatis menganggap pendapatnya sendiri sebagai yang paling benar."Bukan peserta yang salah jawab, tapi ketika jawaban benar dikalahkan oleh ego juri. Padahal dalam realitasnya, doktor, profesor, ilmuwan besar bisa salah. Karena inti sains bukan siapa yang bicara, tapi apakah datanya benar?" kata Zulys dalam akun Instagram @prof.zulys.
Lebih lanjut, Zulys menjelaskan bahwa dalam neurosains dikenal mekanisme bernama confirmation bias, yakni kecenderungan otak mencari informasi yang mendukung ego dan keyakinan sendiri. Ketika seseorang dikoreksi di depan umum, otak merespons seolah mendapat ancaman sehingga adrenalin meningkat, emosi memuncak, dan fungsi logika di prefrontal cortex menurun sementara.
Kondisi itu yang membuat orang menjadi defensif dan enggan mengakui kesalahan.
Zulys kemudian menegaskan bahwa sains sejati justru bersifat rendah hati, terbuka untuk diuji, dan siap direvisi jika ditemukan teori yang lebih baik.
"Padahal justru, sains sejati sangat rendah hati. Boleh diuji, boleh jadi salah jika ditemukan teori baru yang lebih baik. Inilah yang disebut filsuf terkenal Karl Popper sebagai konsep falsifikasi," beber dia
Ia merujuk pada konsep falsifikasi dari filsuf Karl Popper serta mengingatkan bahwa bahkan ilmuwan sekaliber Albert Einstein pun pernah merevisi pendapatnya, dan teori atom terus diperbarui dari Postulat Dalton hingga mekanika kuantum. Bagi Zulys, disalahkan bukan soal gengsi, melainkan kesempatan untuk berkoreksi.
Zulys juga mengingatkan bahwa pesan ini berlaku lebih luas, tidak hanya di arena lomba. Jika di lomba cerdas cermat saja juri bisa salah, apalagi di ruang media sosial yang jauh lebih bebas dan penuh opini.
Ia pun secara khusus mendorong para pemuda untuk tidak takut menyampaikan pendapat yang berbeda dengan orang yang berposisi lebih tinggi. Menurutnya, perbedaan pandangan sah disampaikan selama dilakukan dengan adab, didukung data, dan tetap menjunjung sikap saling menghormati.
"Jangan gampang merasa paling benar pada posisi yang lebih tinggi. Karena kecerdasan seorang ilmuwan bukan bebas dari kesalahan, tapi ketika mau mengakui kesalahan untuk menerima koreksi," pesan dia.
| Baca juga: Buntut Kritik Netizen, MPR RI Putuskan Final LCC Empat Pilar Kalbar Diulang! |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News