Dokter Spesialis Kandungan Alvin Setiawan mengatakan siklus hidup toksoplasma paling banyak terdapat pada kucing sebagai inang definitif. Pada saat kucing membuang kotoran, oosit atau sel telur dari toksoplasma bisa menular ke manusia.
"Pada manusia dengan daya tahan tubuh normal tidak akan menimbulkan dampak yang berat, hanya demam dan sedikit pembesaran kelenjar getah bening kemudian hilang sendiri tanpa obat. Tapi lain hal jika menjangkiti ibu hamil," katanya, dalam Selamat Pagi Indonesia, Senin 26 Februari 2018.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Alvin mengatakan parasit tokso yang masuk ke dalam tubuh akan hidup tersembunyi dalam otot, jantung, bahkan di sistem saraf. Pada ibu hamil, parasit tokso bisa menembus pertahanan plasenta dan menular ke bayi.
"Pada janin, apabila infeksinya berat bisa mengakibatkan hidrosefalus bisa juga gangguan pada mata seperti chorioretinitis sampai pada kerusakan otak karena pengapuran," katanya.
Sayangnya, penyakit toksoplasma tidak bisa dideteksi secara kasat mata. Untuk mengetahui apakah calon ibu terjangkit perlu dilakukan tes laboratorium dengan pengambilan sampel darah atau pemeriksaan USG rutin.
Pengobatan pun hanya bisa dilakukan jika parasit toksoplasma masih aktif dalam tubuh. Indikasi aktif bisa ditentukan dari pengecekan imunoglobulin G dan imonoglobulin M.
"Jika yang nilainya agak tinggi hanya imunoglobulin G itu sudah tidak aktif. Infeksi pada ibu hamil biasanya kita beri obat spiramysin 3x1 gram selama kehamilan. Pengobatan hampir sama pada bayi yang terjangkit hanya dosisnya disesuaikan dengan bayi," ungkap Alvin.
Alvin menambahkan menghindari penularan toksoplasma bisa dilakukan dengan menghindari makanan mentah atau tidak dimasak dengan benar. Pemeriksaan tokso bisa dilakukan maksimal 6 bulan sebelum kehamilan.
"Pemeriksaan hanya kita lakukan pada populasi pasien yang berisiko misalnya suka makan makanan mentah dan sering kontak dengan hewan inang definitif," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(MEL)
