FITNESS & HEALTH
Gangguan Ginjal pada Bayi Bisa Terdeteksi Sejak dalam Kandungan, Ini Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan
A. Firdaus
Kamis 04 Juni 2026 / 09:04
- Sejumlah kelainan bawaan pada saluran kemih dan ginjal sebenarnya sudah bisa terdeteksi sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan rutin.
- Kemajuan teknologi pencitraan memungkinkan berbagai kelainan urologi kongenital dikenali sejak janin masih berada di dalam kandungan.
- Penanganan kelainan urologi pada anak tidak bisa dilakukan secara terpisah.
Jakarta: Banyak calon orang tua mengira gangguan ginjal pada anak baru dapat diketahui setelah bayi lahir. Padahal, sejumlah kelainan bawaan pada saluran kemih dan ginjal sebenarnya sudah bisa terdeteksi sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan rutin.
Deteksi dini menjadi sangat penting karena keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal permanen, yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup anak hingga dewasa.
Dokter Spesialis Bedah Anak Konsultan Urologi Anak, dr. Ronald Sorongku, Sp.BA, Subsp.U.A (K), FIAPS, mengatakan kemajuan teknologi pencitraan memungkinkan berbagai kelainan urologi kongenital dikenali sejak janin masih berada di dalam kandungan.
“Banyak kelainan saluran kemih dan ginjal pada anak sebenarnya sudah bisa diketahui sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan khusus USG fetomaternal. Semakin dini kondisi ini terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan ginjal permanen dan mempertahankan fungsi ginjal anak dalam jangka panjang,” ujar dr. Ronald.
Salah satu kelainan yang paling sering terdeteksi selama kehamilan adalah hidronefrosis kongenital, yaitu kondisi pelebaran ginjal akibat terganggunya aliran urine.
Temuan ini umumnya pertama kali terlihat saat pemeriksaan USG kehamilan. Namun, dr. Ronald mengingatkan bahwa tidak semua kasus hidronefrosis membutuhkan tindakan operasi.
“Banyak orang tua langsung panik ketika mendengar adanya pelebaran ginjal pada janin. Padahal, tidak semua kasus harus dioperasi. Yang terpenting adalah pemantauan yang tepat, evaluasi fungsi ginjal secara berkala, dan menentukan waktu intervensi yang sesuai bila memang diperlukan,” jelasnya.
Setelah bayi lahir, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui kondisi ginjal secara lebih detail. Pemeriksaan tersebut dapat berupa USG saluran kemih, renogram atau skintigrafi ginjal, hingga pemeriksaan radiologi lainnya sesuai kebutuhan.
Melalui evaluasi tersebut, dokter dapat menilai fungsi ginjal, tingkat risiko kerusakan, serta menentukan langkah penanganan yang paling tepat.
Menurut dr. Ronald, penanganan kelainan urologi pada anak tidak bisa dilakukan secara terpisah. Dibutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai dokter spesialis, mulai dari dokter fetomaternal, obstetri dan ginekologi, neonatologi, radiologi, urologi anak, bedah anak, hingga rehabilitasi medik.
Pendekatan ini memungkinkan perencanaan penanganan dilakukan sejak masa kehamilan, proses persalinan, hingga pemantauan tumbuh kembang anak setelah lahir.
“Ketika kelainan sudah diketahui sejak dalam kandungan, orang tua memiliki waktu untuk memahami kondisi anaknya, memilih fasilitas kesehatan yang tepat, serta mempersiapkan langkah penanganan sejak awal. Hasilnya tentu akan jauh lebih baik dibandingkan jika diagnosis baru diketahui setelah muncul komplikasi,” kata dr. Ronald.
Selain membantu menentukan metode persalinan yang sesuai, deteksi prenatal juga memungkinkan dokter memantau perkembangan ginjal, kandung kemih, serta kondisi cairan ketuban yang menjadi indikator penting kesehatan janin.
Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan anak sejak dini, pemeriksaan kehamilan rutin tidak hanya berfungsi untuk memantau pertumbuhan janin. Pemeriksaan tersebut juga menjadi kesempatan penting untuk mendeteksi berbagai kelainan bawaan yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup anak di masa depan.
“Tujuan utama kami bukan sekadar melakukan operasi. Yang paling penting adalah menjaga fungsi ginjal anak tetap optimal sepanjang hidupnya. Dengan deteksi dini, monitoring yang tepat, dan kolaborasi multidisiplin, banyak anak dapat tumbuh sehat dan terhindar dari komplikasi serius di kemudian hari,” tutup dr. Ronald.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Deteksi dini menjadi sangat penting karena keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal permanen, yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup anak hingga dewasa.
Dokter Spesialis Bedah Anak Konsultan Urologi Anak, dr. Ronald Sorongku, Sp.BA, Subsp.U.A (K), FIAPS, mengatakan kemajuan teknologi pencitraan memungkinkan berbagai kelainan urologi kongenital dikenali sejak janin masih berada di dalam kandungan.
Baca Juga :
3 Makanan Ini Bikin Ginjal Kamu 'Menjerit'
“Banyak kelainan saluran kemih dan ginjal pada anak sebenarnya sudah bisa diketahui sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan khusus USG fetomaternal. Semakin dini kondisi ini terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan ginjal permanen dan mempertahankan fungsi ginjal anak dalam jangka panjang,” ujar dr. Ronald.
Hidronefrosis, kelainan yang sering ditemukan
Salah satu kelainan yang paling sering terdeteksi selama kehamilan adalah hidronefrosis kongenital, yaitu kondisi pelebaran ginjal akibat terganggunya aliran urine.
Temuan ini umumnya pertama kali terlihat saat pemeriksaan USG kehamilan. Namun, dr. Ronald mengingatkan bahwa tidak semua kasus hidronefrosis membutuhkan tindakan operasi.
“Banyak orang tua langsung panik ketika mendengar adanya pelebaran ginjal pada janin. Padahal, tidak semua kasus harus dioperasi. Yang terpenting adalah pemantauan yang tepat, evaluasi fungsi ginjal secara berkala, dan menentukan waktu intervensi yang sesuai bila memang diperlukan,” jelasnya.
Setelah bayi lahir, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui kondisi ginjal secara lebih detail. Pemeriksaan tersebut dapat berupa USG saluran kemih, renogram atau skintigrafi ginjal, hingga pemeriksaan radiologi lainnya sesuai kebutuhan.
Melalui evaluasi tersebut, dokter dapat menilai fungsi ginjal, tingkat risiko kerusakan, serta menentukan langkah penanganan yang paling tepat.
Pentingnya pendekatan multidisiplin
Menurut dr. Ronald, penanganan kelainan urologi pada anak tidak bisa dilakukan secara terpisah. Dibutuhkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai dokter spesialis, mulai dari dokter fetomaternal, obstetri dan ginekologi, neonatologi, radiologi, urologi anak, bedah anak, hingga rehabilitasi medik.
Pendekatan ini memungkinkan perencanaan penanganan dilakukan sejak masa kehamilan, proses persalinan, hingga pemantauan tumbuh kembang anak setelah lahir.
“Ketika kelainan sudah diketahui sejak dalam kandungan, orang tua memiliki waktu untuk memahami kondisi anaknya, memilih fasilitas kesehatan yang tepat, serta mempersiapkan langkah penanganan sejak awal. Hasilnya tentu akan jauh lebih baik dibandingkan jika diagnosis baru diketahui setelah muncul komplikasi,” kata dr. Ronald.
Selain membantu menentukan metode persalinan yang sesuai, deteksi prenatal juga memungkinkan dokter memantau perkembangan ginjal, kandung kemih, serta kondisi cairan ketuban yang menjadi indikator penting kesehatan janin.
Jangan lewatkan pemeriksaan kehamilan
Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan anak sejak dini, pemeriksaan kehamilan rutin tidak hanya berfungsi untuk memantau pertumbuhan janin. Pemeriksaan tersebut juga menjadi kesempatan penting untuk mendeteksi berbagai kelainan bawaan yang berpotensi memengaruhi kualitas hidup anak di masa depan.
“Tujuan utama kami bukan sekadar melakukan operasi. Yang paling penting adalah menjaga fungsi ginjal anak tetap optimal sepanjang hidupnya. Dengan deteksi dini, monitoring yang tepat, dan kolaborasi multidisiplin, banyak anak dapat tumbuh sehat dan terhindar dari komplikasi serius di kemudian hari,” tutup dr. Ronald.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)