FITNESS & HEALTH
Diabetes Bisa Bikin Buta? Kemenkes Genjot Skrining Retina agar Nggak Telat Ketahuan
A. Firdaus
Selasa 21 Juli 2026 / 10:11
- Banyak kasus retinopati diabetik (RD) baru terdeteksi ketika kondisinya sudah memasuki stadium lanjut.
- Indonesia saat ini menjadi negara dengan jumlah penyandang diabetes terbesar kelima di dunia.
- Sebagai langkah nyata, berbagai pemangku kepentingan membentuk Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE).
Jakarta: Diabetes tidak hanya meningkatkan kadar gula darah, tetapi juga dapat memicu komplikasi serius pada mata yang berujung kebutaan permanen. Sayangnya, banyak kasus Retinopati Diabetik (RD) baru terdeteksi ketika kondisinya sudah memasuki stadium lanjut.
Untuk menekan risiko tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Roche Indonesia meluncurkan kemitraan strategis publik-swasta guna memperkuat deteksi dini retinopati diabetik di Indonesia. Kolaborasi ini diperkenalkan dalam Forum Jurnalis Kesehatan bertajuk Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik.
Retinopati diabetik merupakan komplikasi diabetes yang terjadi akibat kerusakan pembuluh darah pada retina. Penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal sehingga banyak penderita terlambat mendapatkan penanganan.
Indonesia saat ini menjadi negara dengan jumlah penyandang diabetes terbesar kelima di dunia. Diperkirakan sekitar 26 juta orang dewasa hidup dengan diabetes, namun baru sekitar 15 juta kasus yang berhasil terdeteksi oleh sistem kesehatan. Kondisi ini menciptakan fenomena gunung es, di mana jutaan orang berpotensi mengalami komplikasi tanpa menyadarinya.
Data yang dipaparkan dalam forum tersebut menunjukkan bahwa prevalensi retinopati diabetik di Indonesia juga tergolong tinggi. Studi populasi di Yogyakarta menemukan sebanyak 43,1 persen pasien diabetes mengalami retinopati diabetik, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di angka 35,4 persen.
Apabila tidak ditangani secara sistematis, dampaknya tidak hanya mengancam kualitas hidup pasien, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp84,7 triliun akibat hilangnya produktivitas dan penurunan kualitas hidup.
Sebagai langkah nyata, berbagai pemangku kepentingan membentuk Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE) yang melibatkan akademisi, tenaga kesehatan, pemerintah, dan industri farmasi.
Melalui konsorsium ini akan dikembangkan proyek percontohan (pilot project) tele-ophthalmology yang memungkinkan skrining retina dilakukan di fasilitas kesehatan primer, termasuk Puskesmas. Program ini juga bertujuan mengatasi keterbatasan dokter spesialis mata di Indonesia yang saat ini rata-rata hanya berjumlah satu dokter untuk sekitar 116.961 penduduk.
Dalam implementasinya, sejumlah Puskesmas akan dilengkapi kamera retina (fundus camera), sementara dokter umum dan perawat akan mendapatkan pelatihan untuk melakukan skrining awal. Hasil pemeriksaan nantinya dapat dikonsultasikan dengan dokter spesialis mata sehingga pasien yang berisiko dapat segera dirujuk untuk mendapatkan penanganan.
Inisiatif tersebut juga mendukung target Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan 2025–2030 Kemenkes RI, yakni menurunkan gangguan penglihatan sebesar 25 persen. Target lainnya adalah memastikan sedikitnya 80 persen penyandang diabetes menjalani skrining retina secara berkala dan 60 persen pasien dengan gangguan retina yang mengancam penglihatan memperoleh akses pengobatan yang tepat.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengatakan pemerintah tidak hanya fokus mengendalikan diabetes, tetapi juga mencegah berbagai komplikasi yang ditimbulkannya.
"Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), masyarakat sudah bisa memeriksakan gula darah secara berkala. Kami juga sedang mengintegrasikan layanan agar pasien diabetes dapat menjalani skrining retina di Puskesmas sehingga akses deteksi dini semakin luas," ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan layanan CKG serta lebih rutin memeriksakan kesehatan agar komplikasi diabetes dapat dicegah sejak dini.
Sementara itu, Direktur Akses, Komunikasi, dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia, Lucia Erniawati, mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung penguatan sistem deteksi dini retinopati diabetik, tidak hanya melalui penyediaan terapi, tetapi juga dengan memperkuat alur skrining dan rujukan pasien.
Menurutnya, proyek percontohan tele-ophthalmology yang sedang dikembangkan diharapkan mampu mempercepat deteksi kasus, memperluas akses layanan kesehatan mata, serta memastikan pasien mendapatkan pengobatan tepat waktu sebelum kehilangan penglihatan secara permanen.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Untuk menekan risiko tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Roche Indonesia meluncurkan kemitraan strategis publik-swasta guna memperkuat deteksi dini retinopati diabetik di Indonesia. Kolaborasi ini diperkenalkan dalam Forum Jurnalis Kesehatan bertajuk Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik.
Retinopati diabetik merupakan komplikasi diabetes yang terjadi akibat kerusakan pembuluh darah pada retina. Penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal sehingga banyak penderita terlambat mendapatkan penanganan.
Indonesia hadapi ancaman 'gunung es' diabetes
Indonesia saat ini menjadi negara dengan jumlah penyandang diabetes terbesar kelima di dunia. Diperkirakan sekitar 26 juta orang dewasa hidup dengan diabetes, namun baru sekitar 15 juta kasus yang berhasil terdeteksi oleh sistem kesehatan. Kondisi ini menciptakan fenomena gunung es, di mana jutaan orang berpotensi mengalami komplikasi tanpa menyadarinya.
Data yang dipaparkan dalam forum tersebut menunjukkan bahwa prevalensi retinopati diabetik di Indonesia juga tergolong tinggi. Studi populasi di Yogyakarta menemukan sebanyak 43,1 persen pasien diabetes mengalami retinopati diabetik, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di angka 35,4 persen.
Apabila tidak ditangani secara sistematis, dampaknya tidak hanya mengancam kualitas hidup pasien, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp84,7 triliun akibat hilangnya produktivitas dan penurunan kualitas hidup.
Dorong skrining retina hingga Puskesmas
Sebagai langkah nyata, berbagai pemangku kepentingan membentuk Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE) yang melibatkan akademisi, tenaga kesehatan, pemerintah, dan industri farmasi.
Melalui konsorsium ini akan dikembangkan proyek percontohan (pilot project) tele-ophthalmology yang memungkinkan skrining retina dilakukan di fasilitas kesehatan primer, termasuk Puskesmas. Program ini juga bertujuan mengatasi keterbatasan dokter spesialis mata di Indonesia yang saat ini rata-rata hanya berjumlah satu dokter untuk sekitar 116.961 penduduk.
Dalam implementasinya, sejumlah Puskesmas akan dilengkapi kamera retina (fundus camera), sementara dokter umum dan perawat akan mendapatkan pelatihan untuk melakukan skrining awal. Hasil pemeriksaan nantinya dapat dikonsultasikan dengan dokter spesialis mata sehingga pasien yang berisiko dapat segera dirujuk untuk mendapatkan penanganan.
Inisiatif tersebut juga mendukung target Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan 2025–2030 Kemenkes RI, yakni menurunkan gangguan penglihatan sebesar 25 persen. Target lainnya adalah memastikan sedikitnya 80 persen penyandang diabetes menjalani skrining retina secara berkala dan 60 persen pasien dengan gangguan retina yang mengancam penglihatan memperoleh akses pengobatan yang tepat.
Kemenkes ajak masyarakat rutin cek gula darah dan mata
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengatakan pemerintah tidak hanya fokus mengendalikan diabetes, tetapi juga mencegah berbagai komplikasi yang ditimbulkannya.
"Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), masyarakat sudah bisa memeriksakan gula darah secara berkala. Kami juga sedang mengintegrasikan layanan agar pasien diabetes dapat menjalani skrining retina di Puskesmas sehingga akses deteksi dini semakin luas," ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan layanan CKG serta lebih rutin memeriksakan kesehatan agar komplikasi diabetes dapat dicegah sejak dini.
Sementara itu, Direktur Akses, Komunikasi, dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia, Lucia Erniawati, mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung penguatan sistem deteksi dini retinopati diabetik, tidak hanya melalui penyediaan terapi, tetapi juga dengan memperkuat alur skrining dan rujukan pasien.
Menurutnya, proyek percontohan tele-ophthalmology yang sedang dikembangkan diharapkan mampu mempercepat deteksi kasus, memperluas akses layanan kesehatan mata, serta memastikan pasien mendapatkan pengobatan tepat waktu sebelum kehilangan penglihatan secara permanen.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)