FITNESS & HEALTH

Kemenkes Lagi Gaspol Investasi Pabrik Vaksin & Plasma!

Yatin Suleha
Minggu 19 Juli 2026 / 07:05
Ringkasnya gini..
  • Sepanjang tahun 2026 Kemenkes berhasil mengamankan investasi untuk memperkuat industri kesehatan dalam negeri.
  • Salah satu langkah strategisnya adalah kerja sama dengan perusahaan asal Jepang, Takeda.
  • Untuk membangun pabrik produk turunan plasma darah di Indonesia.
Jakarta: Kabar baik datang dari sektor kesehatan kita! Sepanjang tahun 2026 ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI berhasil mengamankan investasi besar-besaran untuk memperkuat industri kesehatan dalam negeri. 

Salah satu langkah strategisnya adalah kerja sama dengan perusahaan asal Jepang, Takeda, untuk membangun pabrik produk turunan plasma darah di Indonesia.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian penting dari transformasi kesehatan, khususnya di pilar Ketahanan Kesehatan.
Kenapa ini penting banget? Belajar dari pengalaman pahit saat pandemi Covid-19 lalu, kita sempat merasakan betapa sulitnya saat bergantung pada produk impor. 

Mulai dari kelangkaan APD, masker, reagen PCR, sampai obat-obatan esensial, semuanya jadi barang langka dan harganya melonjak tinggi.

Nah, dengan adanya pembangunan pabrik ini, diharapkan Indonesia tidak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada produk luar negeri. Jadi, kalau nanti ada kondisi darurat, kita sudah lebih siap dan punya stok sendiri.

"Di masa pandemi, masyarakat sangat kesulitan dan harus membayar mahal untuk mendapatkan obat-obatan esensial kategori Plasma Derived Products (PDP) seperti Albumin, IVIG, Faktor-8, dan Faktor-9," ungkap Menkes Budi melalui siaran pers yang disampaikan di Jakarta, Kamis lalu.

PDP merupakan obat penunjang daya tahan tubuh dan pembekuan darah. Obat ini diproduksi melalui proses hilirisasi pemisahan (fraksionasi) plasma dari darah manusia.


(Kemenkes menggandeng Takeda bangun pabrik produk plasma darah untuk perkuat ketahanan kesehatan nasional Indonesia. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

“Sebagai negara dengan penduduk keempat terbanyak di dunia, kita sebenarnya memiliki sumber daya bahan baku darah yang sangat melimpah untuk diolah secara mandiri menjadi PDP. Ini yang sedang kita hilirisasi,” tegasnya.

Untuk merealisasikan kemandirian tersebut, Kemenkes telah merelaksasi regulasi terkait pembangunan pabrik plasma sejak 2023. 

Kebijakan ini menarik minat perusahaan biofarmasi asal Korea Selatan, SK Plasma, yang bermitra dengan Lembaga Pengelola Investasi /Indonesia Investmen Authority (INA) pada 2024.

Pabrik SK Plasma yang menelan investasi USD300 juta dengan kapasitas produksi 600.000 liter per tahun tersebut telah rampung dibangun pada 2026 ini. 

Fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia ini ditargetkan beroperasi penuh pada 2027, setelah mengantongi izin edar dan operasional dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Keberhasilan iklim investasi tersebut disusul oleh masuknya Takeda, salah satu produsen PDP terbesar di dunia, sebagai investor pabrik plasma kedua di Indonesia dengan kapasitas produksi yang lebih masif.

Selain industri plasma darah, lompatan kemandirian juga terwujud di penyediaan vaksin. Kemenkes telah mendorong operasional dua pabrik vaksin dalam negeri berskala besar, yakni PT Etana Biotechnologies Indonesia dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia. 
 
Khusus PT Biotis, pabrik ini juga mengembangkan Vaksin Merah Putih yang merupakan hasil penelitian murni anak bangsa.

"Melalui Transformasi Ketahanan Kesehatan, kita tidak sekadar belajar dari krisis, tetapi bertindak nyata membenahinya. 

Lewat berdirinya fasilitas produksi dari Etana, Biotis, SK Plasma, dan Takeda, kita pastikan ketersediaan obat dan vaksin rakyat ke depan akan selalu aman, terjangkau, dan diproduksi di negeri sendiri," tutup Menkes Budi.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH