Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) adalah penundaan kehamilan setidaknya hingga 3-5 tahun setelah melahirkan. Selain dapat meningkatkan kesehatan reproduksi, program ini juga diharapkan dapat menekan angka kematian perempuan akibat melahirkan.
"Kesehatan reproduksi yang buruk dapat memengaruhi prospek generasi berikutnya. Di samping itu, kesehatan ibu juga memengaruhi kesejahteraan anak-anaknya," ujar Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, SpGK, dalam seminar peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia 2014, di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (30/9/2014).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), dr. Nurdadi Saleh, SpOG, menjelaskan antara perbedaan metode kontasepsi jangka panjang dan metode kontrasepsi jangka pendek.
Berdasarkan penelitian, MKJP memiliki tingkat keamanan sebesar 95 persen. Metode kontrasepsi jangka panjang yang dimaksud adalah IUD, implan, vasektomi untuk pria, dan tubektomi untuk perempuan.
"Bukan berarti suntik dan pil tidak aman. Tetapi, kadang manusia punya faktor lupa. Apalagi, kalau metode kontrasepsi yang digunakan non ilmiah, seperti senggama terputus dan sistem kalender. Itu tingkat safety hanya 60 persen," jelasnya.
Untuk memeratakan pemakaian MKJP ini, Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes, selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI), mengatakan, kini bidan bisa melayani program KB yang dibiayai Jaminan Kesehatan Nasional. Terutama untuk keluarga tidak mampu.
"Bidan sekarang sudah bisa memberikan pelayanan KB yang menggunakan JKN. Tetapi mungkin hanya beberapa metode saja, seperti IUD," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(ROS)
