Jakarta: Stroke masih menjadi momok menakutkan di Indonesia. Sebab penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi setelah jantung.
Stroke terjadi karena terganggunya aliran darah ke otak. Ketika pasokan darah terganggu, hal ini menyebabkan matinya manifestasi sistem otak hingga menimbulkan kerusakan permanen.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Alhasil penderita stroke seringkali mengalami sulit berbicara dan wajahnya menjadi tidak simetris. Penderita juga kerap mengalami masalah emosional dan motorik.
Founder dan Direktur Klinik Wijaya, Sukono Djojoatmodjo, mengatakan stroke dapat ditangani dengan rehabilitasi. Selain mengatasi stroke, terapi bisa dilakukan untuk mencegah masalah motorik pada pasien stroke.
"Sehingga pasien bisa kita upayakan bisa kembali melakukan kegiatan sehari-hari seperti bekerja, makan, minum dan sebagainya," kata Sukono di Klinik Wijaya Jakarta, Rabu 31 Juli 2019.
Selain itu, kata Sukono, perkembangan dunia teknologi telah menciptakan jenis pengobatan medis teranyar dalam mengatasi stroke. Pengobatan yang dimaksud merupakan terapi robotik.
Katanya, terapi robotik umumnya dibagi atas empat jenis. Jenis pertama ialah lokomat yang merupakan terapi seperti berjalan di atas treadmill yang dibantu penopang berat badan untuk melatih gerak dan keseimbangan.
Terapi robotik selanjutnya ialah andago. Ini merupakan terapi lanjutan yang dilakukan setelah pasien menjalani lokomat. Tujuannya agar pasien dapat berjalan normal dengan lebih mandiri.
Metode selanjutnya adalah terapi robotik armero. Terapi ini bertujuan untuk melatih fleksibilitas melalui kordinasi otak dengan menggunakan simulasi permainan.
Adapun terapi robotik keempat ialah fourier. Menurut Sukono, terapi ini digunakan untuk mempercepat pemulihan fleksibilitas sistem motorik tubuh yang bermasalah akibat stroke.
Menurutnya, terapi robotik merupakan metode penyembuhan yang lebih baik ketimbang rehabilitasi konvensional. Sebab terapi robotik melatih mobilitas dan kemandirian pasien pascastroke lewat mekanisme reorganisasi dan interkoneksi pada sel saraf.
"Latihan secara berulang dan konsisten akan meningkatkan perbaikan fungsi otak melalui mekanisme neuroplastisitas," tandas dia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, penderita stroke mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan data dari Survei Kemenkes 2014, 21,1 persen penyebab kematian di Indonesia disebabkan oleh stroke.
Terdapat 3.049.200 penderita stroke dari 252 juta jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2014.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(YDH)
