Dokter Li Juhong sedang memeriksa pasien. (Foto: Dok. Great Big Story)
Dokter Li Juhong sedang memeriksa pasien. (Foto: Dok. Great Big Story)

kisah

Dokter tanpa Kaki yang Mengabdi tanpa Batas Waktu

Rona dokter dan kesehatan kisah Li Juhong
Kumara Anggita • 12 Mei 2020 14:40
Jakarta: Semua orang punya cita-cita dan ketika cita-cita itu tercapai, perasaan bahagia akan muncul. Itulah yang dirasakan oleh Li Juhong yang saat ini bekerja sebagai dokter walaupun tak memiliki kaki.
 
Dilansir dari Great Big Story, perempuan berusia 38 tahun tinggal di Wadian, Desa Qingping, Provinsi Hachuan. Ia bercerita awal mula mengapa dia tak memiliki kaki. Ketika itu dia kecelakaan dan momen itu membuat dia merasa begitu menderita, kakinya harus diambil.
 
“Saya kehilangan kaki saat saya berumur 4 tahun. Ketika itu saya kecelakaan, dan membuat saya sangat merasa sakit,” ujar Juhong.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Peristiwa itu begitu memukulnya. Sampai-sampai ada rencana yang di luar dugaan. Juhong memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Dengan menjadi dokter, dia bisa membantu orang-orang yang merasa sakit seperti apa yang dirasakan waktu kecil.
 
Dokter tanpa Kaki yang Mengabdi tanpa Batas Waktu
Dengan menggunakan dua bangku kecil, Dokter Li Juhong melangkah menyambangi pasien yang sakit. (Foto: Dok. Great Big Story)
 
“Mengingat sakit yang saya alami saat kecil, saya berharap bisa membantu orang yang merasakan sakit juga. Sebab menjadi dokter adalah mimpi saya,” tegas Juhong.
 
Apa yang dicita-citakan pun terkabul, sekarang Li juhong bekerja di kampung yang kecil, di mana dia bertanggung jawab bekerja di klinik dan mengobati langsung pasien di rumah.
 
“Saya punya dua jenis pekerjaan yaitu kerja di klinik dan mengunjungi pasien di rumah, ada dua kampung yang berisi sekitar 2.000 orang di mana saya bertanggungjawab di sana,” jelasnya.
 
Dokter tanpa Kaki yang Mengabdi tanpa Batas Waktu
Tercatat sudah 2000 pasien yang telah ia rawat, sejak ia tinggal dan menjadi dokter di Desa Wadian. (Foto: Dok. Great Big Story)
 
Di sana, Juhong cukup menguras tenaga saat bekerja. Sebab banyak warga yang harus dibantu untuk ia sembuhkan. Tak jarang, dia harus bekerja di luar jam kerjanya. Bahkan tanpa batas waktu.
 
“Dokter kampung seperti saya tidak punya waktu kerja yang pasti. Beberapa orang datang jam 6 pagi atau 7 karena mereka harus kerja lebih awal,” ungkapnya.
 
“Bahkan setelah saya bekerja, setelah jam 8 atau 9 atau 10 malam, beberapa tetap datang pada saya,” tambahnya.
 
Lalu bagaimana cara Li juhong melakukan aktivitas, mengingat ia tak mempunyai kaki. Untuk berjalan, Li juhong harus menggunakan alat transportasi khusus.
 
“Saya mengendarai sepeda roda tiga atau kursi roda di kampung bila kondisi jalanan memungkinkan. Bila terlalu sulit, suami saya akan membantu menggendong,” ungkapnya.
 
Dokter tanpa Kaki yang Mengabdi tanpa Batas Waktu
Perjuangan seorang Li Juhong, didukung suami. Bahkan sang suami rela membantu menggendong Juhong ketika melewati medan sulit untuk memeriksa pasien. (Foto: Dok. Great Big Story)
 
Juhong merasa bahwa usahanya ini sepadan. Sebab dia tahu, dia telah membantu banyak orang untuk merasa lebih baik. Sesuai dengan apa yang diharapkan sejak kecil.
 
Banyak dari pasiennya yang memberikan gestur emosional dan dia sangat menghargai itu.
 
“Ketika mereka melihat saya, mereka selalu berterima kasih. Kadang mereka memberikan sayur atau buah yang mereka tanam sendiri sebagai hadiah,” jelasnya.
 
“Mereka bilang ‘terima kasih banyak, karena saya sudah bekerja keras’,” lanjutnya.
 
Walaupun tak memiliki kaki, Li Juhong merasa bahagia. Ini karena dia sudah melayani masyarakat sekaligus mengerjakan apa yang dia impikan.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif