Viral fetish kain jarik. Kira-kira apakah bisa disembuhkan? Simak jawaban psikolog. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Viral fetish kain jarik. Kira-kira apakah bisa disembuhkan? Simak jawaban psikolog. (Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Apakah Fetishis Bisa Disembuhkan?

Rona psikologi kesehatan mental
Kumara Anggita • 31 Juli 2020 16:14
Jakarta: Baru-baru ini berbagai laman Nasional banyak membahas soal fetishis atau fetish. Dimulai sejak unggahan Twitter dengan akun @m_fikris soal fetish kain jarik (kain panjang) yang dibungkus pada tubuh seseorang dengan bagian mata, mulut, diikat lakban kecuali bagian hidung. 
 
Pemilik akun tersebut bercerita bahwa yang ia alami merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual melalui foto dan video yang berkedok riset.
 
Menurut Haniva Hasna, M. Krim, seorang Kriminolog mengatakan bahwa fetishisme adalah ketertarikan seksual yang kuat dan berulang terhadap objek yang tidak hidup. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam fetishisme fokus seksualnya adalah benda-benda seperti sepatu, sarung tangan, pakaian dalam, stoking, dan lainnya yang berhubungan erat dengan tubuh manusia. 
 
Objeknya disebut fetish sedangkan penderitanya disebut fetishis. Baca juga Tingkatan dalam Fetisisme.

Apakah fetishis ini bisa disembuhkan?

Yulius Steven, M.Psi., Psikolog dari Sahabat Kariib menjelaskan bahwa fetishis tak perlu disembuhkan bila tidak mengganggu diri sendiri atau lingkungan di sekitarnya. Fetishis pada dasarnya bisa dianggap sebagai variasi atau preferensi dalam hubungan seks seseorang.
 
“Ketika fetish tidak mengganggu itu sebenarnya tak perlu disembuhkan. Kalau tidak sampai ke gangguan mental itu tak perlu disembuhkan," kata Yulius.
 
"Akan tetapi kalau sudah gangguan mental yang bikin orang itu stres dan mengganggu sekitar atau jadi tidak fungsi secara normal di lingkungan maka fetish itu bisa diterapi atau intervensi profesional yang bergerak di bidang sexologist,” ungkapnya saat dihubungi Medcom.id.
 
Ada beberapa terapi yang bisa didapatkan untuk mengurangi atau menyembuhkan fetishis. “Biasanya bisa dibantu dengan cognitive behavior therapy atau misalkan counter conditioning seperti membenarkan asosiasi yang keliru yang didapat di masa kecil. Atau healing trauma,” jelasnya.
 
Jadi, selama fetishisme tidak stres, masih berfungsi secara sosial dengan baik, dan tak mengganggu orang lain tak perlu terlalu khawatir.

 

(TIN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif