FAMILY

Diagnosis Bukan Akhir: 4 Cara Jaga Mental Health Saat Janin Terdeteksi Ada Kelainan

Yatin Suleha
Senin 09 Maret 2026 / 09:05
Ringkasnya gini..
  • Menerima diagnosis kelainan janin bukan hanya soal memahami kondisi medis, tetapi juga tentang menghadapi gelombang emosi.
  • Setiap orang memiliki ritme dan cara masing-masing, dalam memproses kabar besar dalam hidupnya.
  • Dukungan dari pasangan, keluarga, dokter, hingga komunitas dapat menjadi sumber kekuatan di tengah masa, yang penuh ketidakpastian ini.
Jakarta: Menerima diagnosis kelainan janin bukan hanya soal memahami kondisi medis, tetapi juga tentang menghadapi gelombang emosi yang datang silih berganti. Ada rasa kaget, sedih, marah, takut, bahkan kebingungan yang bisa muncul bersamaan.

Dalam situasi seperti ini, tidak ada cara yang benar atau salah untuk merespons. Setiap orang memiliki ritme dan cara masing-masing, dalam memproses kabar besar dalam hidupnya.

Hal terpenting adalah memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas, memahami, dan menata langkah berikutnya secara perlahan. 

Dukungan dari pasangan, keluarga, dokter, hingga komunitas dapat menjadi sumber kekuatan di tengah masa, yang penuh ketidakpastian ini.
 
Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah empat langkah yang bisa dipertimbangkan setelah menerima diagnosis.
 

1. Luangkan waktu untuk diri sendiri atau bersama pasangan


Berikan ruang untuk mencerna informasi yang diterima. Diskusikan perasaan, pertanyaan, dan kekhawatiran secara terbuka dengan pasangan.

Jika membutuhkan waktu berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu untuk memahami situasi, hal tersebut sepenuhnya wajar. Proses menerima dan memahami kondisi ini bahkan bisa berlangsung bertahun-tahun, dan itu normal.

Setiap cara dalam memproses emosi adalah sah. Ada yang memilih mengalihkan perhatian sejenak, ada pula yang ingin langsung mencari informasi sebanyak mungkin. Lakukan cara yang terasa paling tepat bagi diri sendiri dan keluarga.
 

2. Berbagi dengan keluarga dan teman saat sudah siap



(Membicarakan perasaan Moms kepada pasangan juga dapat membantu mengurangi kekhawatiran dan membuat Moms merasa lebih baik, terlebih jika kalian berdua saling terbuka. Foto: Ilustrasi/Dok. Pexels.com)

Setelah merasa lebih siap, kabar ini dapat disampaikan kepada keluarga atau sahabat terdekat. Dukungan praktis dan emosional bisa sangat membantu, seperti menemani kontrol kehamilan, membantu pekerjaan rumah, atau menjaga anak lain di rumah.

Tidak semua orang mungkin sepenuhnya memahami situasi yang sedang dihadapi, tetapi kehadiran dan kepedulian mereka tetap bisa memberi kekuatan.
 

3. Mencari dukungan dari orang dengan pengalaman serupa


Dokter atau rumah sakit sering kali dapat menghubungkan dengan kelompok dukungan atau keluarga lain, yang pernah menghadapi kondisi serupa. Berbicara dengan orang tua yang memiliki pengalaman sejenis, dapat membantu merasa tidak sendirian.

Mereka biasanya memahami pergulatan emosi, yang terjadi dan dapat berbagi cerita serta harapan dari perjalanan mereka.
   

4. Bergabung dengan komunitas online


Banyak kelompok dukungan tersedia di media sosial atau forum daring, yang membahas kondisi tertentu maupun pengalaman menghadapi keputusan sulit, setelah diagnosis kelainan janin. Komunitas ini bisa menjadi tempat berbagi cerita, mencari informasi, dan mendapatkan dukungan emosional.

Jika memilih mencari dukungan melalui komunitas atau cerita orang lain, penting untuk diingat bahwa setiap keluarga memiliki perjalanan yang unik. Membaca atau mendengar kisah orang lain, terkadang juga bisa memicu stres atau kesedihan tambahan.


Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH