FITNESS & HEALTH

Gak Cuma Kebetulan, 6 Habit Keluarga Ini Bisa Bikin Kamu Susah Percaya Pasangan

Mia Vale
Minggu 08 Maret 2026 / 18:11
Ringkasnya gini..
  • Rumah adalah ruang kelas pertama kamu sebagai individu.
  • Apa yang dipelajari di sana akan tetap bersama kamu selamanya.
  • Berikut pola-pola dari keluarga yang bisa memengaruhi kamu dan lawan jenis saat menjalin hubungan.
Jakarta: "Tidak ada sekolah yang setara dengan rumah yang layak, dan tidak ada guru yang setara dengan orang tua yang berbudi luhur," ungkap Mahatma Gandhi. 

Dan memang benar, rumah adalah ruang kelas pertama kamu sebagai individu. Apa yang dipelajari di sana akan tetap bersama kamu selamanya. 

Dari harga diri hingga cinta dan koneksi, pola yang kamu pelajari di rumah bahkan dapat menentukan hubungan dewasa kamu dengan lawan jenis.

Berikut pola-pola dari keluarga yang bisa memengaruhi kamu dan lawan jenis saat menjalin hubungan. 


   

1. Sikap menyenangkan orang lain 


Apakah kamu kesulitan mengatakan "tidak"? Bila iya, penting untuk melihat ke belakang. Anak-anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjaga perdamaian adalah yang terpenting, menurut Times of India, sering tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan mengatakan tidak. 

Perilaku menyenangkan orang lain ini seringkali membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat. Hal ini dapat menyebabkan rasa kesal, kelelahan, dan perasaan tidak diperhatikan. Putuskan siklusnya. Tak masalah untuk mengatakan "tidak"!
 

2. Ketakutan akan ditinggalkan 


Dalam kasus di mana orang tua tidak hadir atau tidak memiliki hubungan yang solid dengan anak-anak mereka, mereka mungkin mengembangkan ketakutan bahwa orang yang mereka cintai pada akhirnya akan pergi.

Hal ini dapat bermanifestasi sebagai ketergantungan atau sabotase diri dalam hubungan dewasa. Ketakutan ini mungkin akan menjauhkan mereka dari mengejar hubungan yang bermakna, karena mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa semua orang akan pergi.
 

3. Kurangnya validasi emosional 



(Karena di rumah atau lingkungan terdekat kamu enggak dapet validasi, kamu bakal mati-matian nyari itu di luar. Kamu jadi susah bilang "enggak" karena takut orang lain kecewa atau ninggalin kamu, cuma demi ngerasa "diterima." Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Mereka yang dilatih untuk menyembunyikan emosi mungkin akan kesulitan di masa dewasa. Mereka akhirnya percaya bahwa perasaan batin mereka tidak diterima. Sebagai orang dewasa, anak-anak seperti itu merasa sulit untuk mengekspresikan emosi. 

Mereka mungkin akan menutup diri jika kamu mendekati mereka. Nantinya, hubungan akan berkembang berdasarkan ketergantungan emosional, jadi selalu waspada mungkin tidak akan banyak membantu.
 

4. Perfeksionisme 


Banyak orang tumbuh dengan berpikir bahwa perfeksionisme itu penting karena itulah yang membawa kebahagiaan. Ini benar-benar bisa menjadi bumerang di dunia nyata. Pengejaran kesempurnaan yang tanpa henti menyisakan sedikit ruang untuk kesalahan. 

Lagipula, kesalahan dan kerentananlah yang membuat kita menjadi manusia. Izinkan dirimu dan orang lain untuk memiliki kekurangan. Itu bukan kejahatan!
 

5. Disiplin berbasis rasa takut 


Meskipun disiplin merupakan bagian penting dalam kehidupan, cara kamu mencapainya sama pentingnya. Anak-anak yang dibesarkan dalam sistem disiplin berbasis rasa takut atau hukuman cenderung melihat dunia dengan mata cemas daripada dengan rasa ingin tahu. 

Mereka tumbuh menjadi individu yang menghindari konflik dan sangat waspada terhadap orang-orang di sekitar mereka. Hidup terlalu singkat untuk disia-siakan dengan berjalan di atas duri.
   

6. Ketidaktersediaan emosional 


Ketika kamu dibesarkan di rumah di mana pengasuh hadir secara fisik tetapi absen secara emosional atau teralihkan perhatiannya, anak-anak mendambakan kedekatan. 

Mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang menjadi pasangan yang tidak tersedia secara emosional atau mereka yang tidak pernah puas dengan cinta dan perhatian yang mereka terima. Beberapa bahkan tertarik pada pasangan yang tidak tersedia secara emosional karena itu adalah pola yang mereka kenal.


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH