FITNESS & HEALTH
Jangan Cuma Kejar Target, Perusahaan Wajib Lawan DBD Juga
A. Firdaus
Jumat 24 April 2026 / 08:19
- DBD dikenal dengan penyebaran tercepat di dunia.
- Kelompok usia yang paling banyak terdampak adalah usia produktif.
- Implementasi program pencegahan DBD di tempat kerja, dapat juga dilakukan melalui analisis risiko kesehatan.
Jakarta: Upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD), kini menjadi perhatian serius di lingkungan kerja. Perusahaan tidak lagi hanya fokus pada target bisnis, tetapi juga dituntut memastikan kesehatan pekerja tetap terjaga agar produktivitas tidak terganggu.
Dalam hal ini, tempat kerja memiliki berbagai risiko pajanan yang dapat memengaruhi kesehatan pekerja, termasuk pajanan biologis yang berasal dari vektor seperti nyamuk penyebab DBD.
“Pekerja bisa terpapar berbagai risiko, mulai dari fisik, kimia, hingga biologis. Pada konteks DBD, pajanan biologis dari vektor menjadi perhatian penting karena dapat terjadi di lingkungan kerja,” ujar dr. Agustina Puspitasari, Sp.Ok., Subsp.BioKO (K) selaku Ketua Umum Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI) 2025-2028, dalam acara Bersama Lawan Dengue, Investasi untuk Kesehatan Karyawan dan Produktivitas Perusahaan di The Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, Kamis (23/04/26).
DBD sendiri dikenal sebagai salah satu penyakit menular, dengan penyebaran tercepat di dunia. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, terutama di wilayah dengan iklim tropis seperti Indonesia. Dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi berat dan berisiko fatal.
Data terbaru menunjukkan bahwa kasus DBD masih menjadi beban besar, termasuk di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kasus mencapai ratusan ribu dengan penyebaran tertinggi di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Kelompok usia yang paling banyak terdampak adalah usia produktif, yaitu 15 hingga 44 tahun atau kelompok yang mendominasi dunia kerja.
Menurut dr. Agustina, kondisi ini berdampak langsung pada perusahaan. Tingginya angka kesakitan, menyebabkan meningkatnya absensi dan penurunan kinerja, bahkan ketika pekerja tetap hadir namun tidak optimal dalam bekerja.
“Ketika banyak pekerja sakit, dampaknya bukan hanya pada kesehatan individu, tetapi juga pada produktivitas perusahaan. Absenteeism dan presenteeism bisa menurunkan kinerja secara signifikan,” jelasnya.

Tingginya angka kesakitan, menyebabkan meningkatnya absensi dan penurunan kinerja. Dok. Ist
Dari sisi ekonomi, beban yang ditanggung juga tidak kecil. Biaya pengobatan DBD dapat mencapai jutaan rupiah per kasus, belum termasuk biaya tidak langsung, seperti kehilangan jam kerja dan penurunan produktivitas. Dalam skala perusahaan besar, total kerugian bahkan dapat mencapai ratusan juta rupiah per tahun.
Untuk itu, perusahaan dinilai perlu berinvestasi pada upaya promotif dan preventif. Langkah dasar seperti penerapan gerakan 3M Plus, menguras, menutup, dan mendaur ulang, tetap menjadi fondasi utama dalam pengendalian DBD di lingkungan kerja.
Selain itu, vaksinasi mulai dipertimbangkan sebagai strategi tambahan, terutama bagi pekerja dengan risiko tinggi atau yang berada di wilayah endemis. Program ini dinilai mampu mengurangi risiko infeksi berat, sekaligus menekan biaya jangka panjang.
“Vaksinasi menjadi bagian dari upaya preventif yang penting, terutama bagi pekerja berisiko. Dengan perencanaan yang tepat, program ini tidak hanya melindungi kesehatan pekerja, tetapi juga memberikan efisiensi biaya bagi perusahaan,” kata dr. Agustina.
Implementasi program pencegahan DBD di tempat kerja, dapat juga dilakukan melalui analisis risiko kesehatan atau health risk assessment. Dari hasil tersebut, perusahaan dapat menentukan prioritas intervensi, termasuk kelompok pekerja yang perlu mendapatkan perlindungan lebih lanjut.
Lebih jauh, langkah ini juga berkontribusi pada peningkatan citra perusahaan, sebagai institusi yang peduli terhadap kesejahteraan karyawan. Lingkungan kerja yang sehat, dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.
Sebagai penutup, dr. Agustina mengajak seluruh pihak untuk berperan aktif dalam menekan angka kasus DBD, khususnya di lingkungan kerja.
“Pencegahan DBD bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi juga dunia usaha. Kolaborasi menjadi kunci, untuk mencapai target nol kematian akibat dengue di masa depan,” tutupnya.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dalam hal ini, tempat kerja memiliki berbagai risiko pajanan yang dapat memengaruhi kesehatan pekerja, termasuk pajanan biologis yang berasal dari vektor seperti nyamuk penyebab DBD.
“Pekerja bisa terpapar berbagai risiko, mulai dari fisik, kimia, hingga biologis. Pada konteks DBD, pajanan biologis dari vektor menjadi perhatian penting karena dapat terjadi di lingkungan kerja,” ujar dr. Agustina Puspitasari, Sp.Ok., Subsp.BioKO (K) selaku Ketua Umum Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI) 2025-2028, dalam acara Bersama Lawan Dengue, Investasi untuk Kesehatan Karyawan dan Produktivitas Perusahaan di The Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, Kamis (23/04/26).
DBD sendiri dikenal sebagai salah satu penyakit menular, dengan penyebaran tercepat di dunia. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, terutama di wilayah dengan iklim tropis seperti Indonesia. Dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi berat dan berisiko fatal.
Data terbaru menunjukkan bahwa kasus DBD masih menjadi beban besar, termasuk di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kasus mencapai ratusan ribu dengan penyebaran tertinggi di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Kelompok usia yang paling banyak terdampak adalah usia produktif, yaitu 15 hingga 44 tahun atau kelompok yang mendominasi dunia kerja.
Menurut dr. Agustina, kondisi ini berdampak langsung pada perusahaan. Tingginya angka kesakitan, menyebabkan meningkatnya absensi dan penurunan kinerja, bahkan ketika pekerja tetap hadir namun tidak optimal dalam bekerja.
“Ketika banyak pekerja sakit, dampaknya bukan hanya pada kesehatan individu, tetapi juga pada produktivitas perusahaan. Absenteeism dan presenteeism bisa menurunkan kinerja secara signifikan,” jelasnya.

Tingginya angka kesakitan, menyebabkan meningkatnya absensi dan penurunan kinerja. Dok. Ist
Dari sisi ekonomi, beban yang ditanggung juga tidak kecil. Biaya pengobatan DBD dapat mencapai jutaan rupiah per kasus, belum termasuk biaya tidak langsung, seperti kehilangan jam kerja dan penurunan produktivitas. Dalam skala perusahaan besar, total kerugian bahkan dapat mencapai ratusan juta rupiah per tahun.
Untuk itu, perusahaan dinilai perlu berinvestasi pada upaya promotif dan preventif. Langkah dasar seperti penerapan gerakan 3M Plus, menguras, menutup, dan mendaur ulang, tetap menjadi fondasi utama dalam pengendalian DBD di lingkungan kerja.
Selain itu, vaksinasi mulai dipertimbangkan sebagai strategi tambahan, terutama bagi pekerja dengan risiko tinggi atau yang berada di wilayah endemis. Program ini dinilai mampu mengurangi risiko infeksi berat, sekaligus menekan biaya jangka panjang.
“Vaksinasi menjadi bagian dari upaya preventif yang penting, terutama bagi pekerja berisiko. Dengan perencanaan yang tepat, program ini tidak hanya melindungi kesehatan pekerja, tetapi juga memberikan efisiensi biaya bagi perusahaan,” kata dr. Agustina.
Implementasi program pencegahan DBD di tempat kerja, dapat juga dilakukan melalui analisis risiko kesehatan atau health risk assessment. Dari hasil tersebut, perusahaan dapat menentukan prioritas intervensi, termasuk kelompok pekerja yang perlu mendapatkan perlindungan lebih lanjut.
Lebih jauh, langkah ini juga berkontribusi pada peningkatan citra perusahaan, sebagai institusi yang peduli terhadap kesejahteraan karyawan. Lingkungan kerja yang sehat, dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.
Sebagai penutup, dr. Agustina mengajak seluruh pihak untuk berperan aktif dalam menekan angka kasus DBD, khususnya di lingkungan kerja.
“Pencegahan DBD bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi juga dunia usaha. Kolaborasi menjadi kunci, untuk mencapai target nol kematian akibat dengue di masa depan,” tutupnya.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)