FITNESS & HEALTH
HPV Ancam Laki-Laki, Edukasi Imunisasi Anak Perlu Lebih Inklusif
A. Firdaus
Kamis 23 April 2026 / 12:49
- Hampir satu dari tiga pria di atas usia 15 tahun pernah terinfeksi setidaknya satu jenis HPV.
- Laki-laki juga menyumbang sekitar 40 persen kasus kanker terkait HPV di dunia.
- HPV pada laki-laki sering kali menjadi hidden burden atau beban tersembunyi.
Jakarta: Upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat terus diperkuat. MSD Indonesia bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia kembali menggelar Kelas Jurnalis 2026 bertajuk Memahami HPV pada Anak Laki-Laki: Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Generasi Masa Depan.
Forum ini menyoroti fakta penting bahwa infeksi Human Papillomavirus tidak hanya berdampak pada perempuan, tetapi juga memberikan beban kesehatan signifikan bagi laki-laki. Karena itu, pendekatan pencegahan yang inklusif dinilai semakin krusial.
Selama ini, HPV lebih dikenal sebagai penyebab utama kanker serviks pada perempuan. Padahal, data medis global menunjukkan bahwa hampir satu dari tiga pria di atas usia 15 tahun pernah terinfeksi setidaknya satu jenis HPV.
Lebih dari sekadar pembawa virus, laki-laki juga menyumbang sekitar 40 persen kasus kanker terkait HPV di dunia. Jenis kanker yang dapat muncul antara lain kanker tenggorokan, anus, hingga penis, yang prevalensinya terus meningkat.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menegaskan bahwa narasi HPV perlu diperluas.
“HPV tidak mengenal gender. Imunisasi merupakan investasi kesehatan untuk seluruh anak, baik laki-laki maupun perempuan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa program imunisasi HPV pada anak perempuan melalui BIAS telah mencapai cakupan 91,1 persen pada 2025, melampaui target nasional.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia, Hanny Nilasari, menjelaskan bahwa HPV pada laki-laki sering kali menjadi hidden burden atau beban tersembunyi.
Selain kanker, infeksi HPV juga dapat menyebabkan kutil kelamin hingga kondisi pra-kanker. Ia menambahkan, laki-laki cenderung tidak membentuk kekebalan alami yang kuat setelah terinfeksi, sehingga risiko infeksi berulang lebih tinggi.
Secara global, risiko kanker orofaring akibat HPV bahkan tercatat hingga empat kali lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Berbeda dengan kanker serviks, jenis kanker ini belum memiliki program skrining rutin, sehingga sering terdeteksi terlambat.
Dari perspektif kesehatan anak, Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Hartono Gunardi, menekankan bahwa pencegahan paling efektif dilakukan sejak usia dini.
“Sistem imun anak paling optimal merespons pada usia 9–13 tahun. Karena itu, imunisasi HPV pada usia sekolah dasar menjadi langkah terbaik untuk perlindungan jangka panjang,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan holistik, mulai dari imunisasi, pemeriksaan kesehatan rutin, hingga edukasi gaya hidup sehat.
Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendorong perlindungan kesehatan yang inklusif.
“Melalui prinsip health equity, kami ingin memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan perlindungan,” katanya.
Melalui edukasi yang lebih luas, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa perlindungan terhadap HPV bukan hanya untuk perempuan, tetapi juga laki-laki. Dengan demikian, setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan terhindar dari risiko kanker terkait HPV di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Forum ini menyoroti fakta penting bahwa infeksi Human Papillomavirus tidak hanya berdampak pada perempuan, tetapi juga memberikan beban kesehatan signifikan bagi laki-laki. Karena itu, pendekatan pencegahan yang inklusif dinilai semakin krusial.
Risiko HPV pada laki-laki masih kurang disadari
Selama ini, HPV lebih dikenal sebagai penyebab utama kanker serviks pada perempuan. Padahal, data medis global menunjukkan bahwa hampir satu dari tiga pria di atas usia 15 tahun pernah terinfeksi setidaknya satu jenis HPV.
Lebih dari sekadar pembawa virus, laki-laki juga menyumbang sekitar 40 persen kasus kanker terkait HPV di dunia. Jenis kanker yang dapat muncul antara lain kanker tenggorokan, anus, hingga penis, yang prevalensinya terus meningkat.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, menegaskan bahwa narasi HPV perlu diperluas.
“HPV tidak mengenal gender. Imunisasi merupakan investasi kesehatan untuk seluruh anak, baik laki-laki maupun perempuan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa program imunisasi HPV pada anak perempuan melalui BIAS telah mencapai cakupan 91,1 persen pada 2025, melampaui target nasional.
Beban tersembunyi pada laki-laki
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia, Hanny Nilasari, menjelaskan bahwa HPV pada laki-laki sering kali menjadi hidden burden atau beban tersembunyi.
Selain kanker, infeksi HPV juga dapat menyebabkan kutil kelamin hingga kondisi pra-kanker. Ia menambahkan, laki-laki cenderung tidak membentuk kekebalan alami yang kuat setelah terinfeksi, sehingga risiko infeksi berulang lebih tinggi.
Secara global, risiko kanker orofaring akibat HPV bahkan tercatat hingga empat kali lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Berbeda dengan kanker serviks, jenis kanker ini belum memiliki program skrining rutin, sehingga sering terdeteksi terlambat.
Pentingnya pencegahan sejak dini
Dari perspektif kesehatan anak, Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Hartono Gunardi, menekankan bahwa pencegahan paling efektif dilakukan sejak usia dini.
“Sistem imun anak paling optimal merespons pada usia 9–13 tahun. Karena itu, imunisasi HPV pada usia sekolah dasar menjadi langkah terbaik untuk perlindungan jangka panjang,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan holistik, mulai dari imunisasi, pemeriksaan kesehatan rutin, hingga edukasi gaya hidup sehat.
Dorong perlindungan yang setara
Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendorong perlindungan kesehatan yang inklusif.
“Melalui prinsip health equity, kami ingin memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan perlindungan,” katanya.
Melalui edukasi yang lebih luas, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa perlindungan terhadap HPV bukan hanya untuk perempuan, tetapi juga laki-laki. Dengan demikian, setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan terhindar dari risiko kanker terkait HPV di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)