Rokok elektrik kerap kali disebut lebih baik dibandingkan dengan rokok konvensional. (Ilustrasi/Medcom.id)
Rokok elektrik kerap kali disebut lebih baik dibandingkan dengan rokok konvensional. (Ilustrasi/Medcom.id)

Persamaan Rokok Elektrik dan Rokok Konvensional

Rona rokok elektrik
Sunnaholomi Halakrispen • 17 Januari 2020 14:03
Jakarta: Rokok elektrik kerap kali disebut lebih baik dibandingkan dengan rokok konvensional. Namun, ternyata kedua jenis rokok tersebut memiliki persamaan yang mungkin tak Anda sadari.
 
"Katanya rokok elektronik tidak mengandung tor, tidak mengandung co. Yang harus viral adalah persamaannya. Jadi persamaanya adalah ada hal yang membahayakan kesehatan," ujar Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) Ketum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) di Gedung Kementerian Kesehatan RI.
 
Ia memaparkan, persamaan rokok konvensional dan rokok elektronik ada tiga. Di antaranya, sama-sama mengandung nikotin pada dasarnya. Hal yang harus dipahami, nikotin membuat efek adiksi atau ketagihan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dampaknya jangka panjang. Kalau dia masuk ke vaskular, dia akan masuk ke dalam pembuluh darah yang bikin kardiovaskular," tuturnya.
Persamaan Rokok Elektrik dan Rokok Konvensional
(Ilustrasi/Pexels)
 
Hal lain yang harus diingat, kandungan dari nikotin ada nitrosamin. Bahan itu bersifat karsinogen yang bisa menginduksi terjadinya kanker yang sebgian besar kanker paru.
 
Kedua jenis rokok mengandung karsinogen atau bahan yang dapat menginduksi. Dengan kata lain, bisa merangsang kanker dan yang paling sering kanker paru.
 
Sebab, merokok merupakan kegiatan menghisap, menghirup, dan menginhalasi sehingga yang pertama kena saluran napas dan paru. Risikonya, dampak kanker paru-paru yang pertama akan muncul. 
 
"Studi dan penelitian di luar negeri, ada kandumgan kaesinogin di tar di rokok elektronik dalam bahan karsinogen lainnya, nitrosaminl, maldehit, pm 2,5 ditemukan di rokok konvensional dan htp," jelasnya.
 
Bahan karsinogen sendiri, kalau dipakai dalam jangka panjang akan menimbulkan kanker. Rokok konvensional dan elektonik pun sama-sama mengandung toxic iritatif yang dapat merangsang timbulnya peradangan. 
 
Risiko yang muncul ialah risiko peradangan. Contohnya, terjadi saliran pernapasan akut atau ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). 
 
"Itu lebih tinggi pada perokok. Kedua asma, ppok. Pada beberapa penelitian resiko itu juga muncul pada perokok elektronik," imbuhnya.
Persamaan Rokok Elektrik dan Rokok Konvensional
(Ilustrasi/Pexels)
 
Dr. Agus pun mengingat pasien tahun 2018 yang ada di Rumah Sakit Persahabatan. Sekitar 70 peren dari total saat itu pengguna rokok elektronik yang rutin secara reguler itu sudah mengalami adiksi dan ketagihan. 
 
"Kedua kandungan nikotin urin pada rokel tidaj berbeda dengan rokok konvensional yang gunalan rokok 5 batang per hari, 223 microgram kandungan nikotin di urinnya," tandasnya.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif