Ilustrasi-Pexels
Ilustrasi-Pexels

Nyeri Leher saat WFH, Jangan Dibiarkan

Rona nyeri leher covid-19 tips work from home
Sunnaholomi Halakrispen • 21 Mei 2020 12:10
Jakarta: Work from Home (WFH) atau bekerja di rumah selama pandemi covid-19 terkadang mengharuskan bekerja di depan laptop atau smartphone. Posisi duduk yang salah pun menyebabkan nyeri leher dan ini bukan masalah sepele.
 
Nyeri leher sendiri merupakan masalah global. Angka kejadiannya mencapai 30-50 persen dari populasi dunia per tahunnya. Bahayanya, sebanyak 11-14 persen populasi mengalami keterbatasan aktivitas akibat nyeri leher.
 
"Nyeri leher bisa mengakibatkan disabilitas atau keterbatasan pada hal-hal tertentu," ujar Physioterapi Faizah Abdullah, S.St.Ft., S.Ft., M.Biomed., dalam Virtual HealthTalk.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berawal dari nyeri leher bisa menyebabkan risiko tidak maksimalnya kinerja otot, bahkan bisa terjadinya kerusakan. Faktor risiko nyeri leher pun beragam. Salah satunya, wanita memiliki prevalensi risiko nyeri leher lebih tinggi.
 
Apalagi bagi wanita usia 50 tahun, akan rentan rerjadinya nyeri otot. Kedua, berisiko pada para pekerja kantoran karena posisi duduk saat bekerja cenderung membungkuk dan atau membuat otot menjadi kaku.
 
"Emosi atau faktor psikososial pun merupakan faktor risiko tertinggi ketiga dari nyeri leher. Keempat, cedera. Lalu, nyeri lehernya karena ada gangguan iritasi akar saraf," tutur Faizah.
 
"Terkadang merasa ketidaknyamanan seperti kesemutan di area-area yang sesuai area mana yang keluar dari sistem saraf," tambahnya.
 
Ia memaparkan bahwa sistem saraf tersebut, yakni bagian dari saraf yang merepresentasikan area kulit. Maka demikian, ketika merasakan nyeri leher dan tidak ditangani dengan tepat, bisa memengaruho sistem saraf.
 
"Gejala klinisnya, nyeri leher neuropati berupa shooting, electrical dan atau burning sensation. Nyeri menjalar pada satu atau kedua sisi sesuai dengan distribusi dermatome. Adanya rasa kesemutan atau baal, bahkan kelemahan anggota gerak," paparnya.
 
Selain itu, adanya keluhan ketegangan pada otot, namun bukan masalah yang utama. Ia menekankan, postur yang buruk dalam yang waktu lama, bisa menyebabkan repetitif injury atau cedera yang sifatnya lebih kronik.
 
"Posisi duduk terus-menerus (tanpa ada perubahan gerakan) kemudian otot kita bekerja lebih berat, akan sedikit demi sedikit cidera lebih besar," pungkasnya.
 
Efek jangka panjangnya, akan muncul ketidakseimbangan kerja dari otot. Dengan kata lain, akan ada otot yang mengalami kelemahan, ketegangan, hingga cedera berkepanjangan.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif