Ilustrasi (Foto: Storyblocks,com)
Ilustrasi (Foto: Storyblocks,com)

Balas Dendam Buruk untuk Kondisi Psikologi

Rona psikologi
Sunnaholomi Halakrispen • 06 Juni 2019 10:17
Jakarta: Ketika ada seorang rekan kerja mencuri ide Anda dan kemudian melemahkan Anda di depan bos, manusia cenderung muncul keinginan membalas dendam. Tetapi, apakah balas dendam bisa membuat Anda merasa lebih baik dalam jangka panjang?
 
Sebagian orang termotivasi membalas dendam untuk menyakiti seseorang yang telah menyakiti mereka, terlebih ketika mereka merasa diserang atau dianiaya secara sosial. Tidak sedikit penelitian menunjukkan bahwa hal itu mungkin menimbulkan efek sebaliknya.
 
Sementara itu, sebagian besar dari kita tidak akan terlibat dalam perlakuan membalas dendam yang menjadi tayangan berita di media massa atau dalam penjara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beberapa psikolog percaya bahwa manusia terikat untuk membalas dendam. Sementara itu, tanpa hukum dan penjara, nenek moyang kita yang pertama mengandalkan ketakutan akan pembalasan untuk membantu menjaga perdamaian dan memperbaiki ketidakadilan.
 
"Tindakan balas dendam tidak hanya berusaha untuk mencegah tindakan berbahaya bagi kedua pelaku kesalahan untuk saat ini, tetapi juga berbahaya di masa depan oleh orang lain, sinyal peringatan bahwa Anda adalah seseorang yang tidak akan mentolerir perlakuan buruk," tutur Michael McCullough selaku profesor psikologi di University of Miami.
 
Dalam kehidupan modern, pengkhianatan dan penolakan sosial dinilai begitu menyakitkan. Menurut enam penelitian yang diterbitkan tahun ini dalam Journal of Personality and Social Psychology, keinginan untuk memperbaiki rasa sakit itu dan memperbaiki suasana hati mungkin menjadi salah satu hal yang memotivasi kita untuk membalas dendam.
 
Balas dendam mungkin memberikan rasa lega, tetapi efek positif tampaknya akan cepat berlalu, menurut penelitian oleh Chester. "Balas dendam bisa terasa sangat enak saat ini. Tetapi ketika kita menindaklanjuti orang-orang lima menit, 10 menit, dan 45 menit kemudian, mereka benar-benar mengaku merasa lebih buruk dari pada yang mereka lakukan sebelum mereka membalas dendam," ujarnya.
 
Melakukan balas dendam dapat menjadi bumerang, tetapi tidak untuk alasan yang mungkin Anda pikirkan. Profesor psikologi Universitas Virginia Timothy Wilson dan rekannya melakukan penelitian pada 2008 tentang konsekuensi paradoks dari balas dendam.
 
"Dengan tidak membalas, kita dapat menemukan cara lain untuk mengatasi, seperti mengatakan pada diri sendiri bahwa itu bukan masalah besar," imbuh Wilson.
 
Merenung tentang membalas dendam, tentang apa yang dilakukan orang itu kepada Anda dan apa yang ingin Anda lakukan sebagai balasannya, dapat mengganggu kesejahteraan dan kebahagiaan sehari-hari.
 
"Ketika seseorang bertahan dalam fantasi balas dendam, dari waktu ke waktu mereka dapat mengembangkan kecemasan dan penyesalan, serta perasaan malu," kata psikoterapis yang berbasis di California Beverly Engel.
 
Niat balas dendam juga dapat memperdaya pemikiran Anda, menghabiskan waktu dan energi Anda yang bisa lebih baik dihabiskan untuk cara yang lebih sehat. Padahal, Anda bisa lebih konstruktif dalam menghadapi kemarahan, seperti belajar menerima ketidakadilan, menempatkan diri pada posisi orang lain, atau mengakui bahwa Anda juga mungkin telah melukai seseorang dengan cara yang sama.
 
Ada penelitian menunjukkan bahwa akan terbentuk hubungan yang berharga dengan adanya perubahan hati dari si penyebab amarah. Ketika seorang korban menerima penjelasan dan permintaan maaf, keinginan untuk membalas dendam melemah.
 
 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif