Ilustrasi-Pexels
Ilustrasi-Pexels

Tiga Faktor yang Memicu Remaja Membunuh Bocah 6 Tahun

Rona psikologi remaja
Kumara Anggita • 11 Maret 2020 15:22
Jakarta: Baru saja kita digemparkan oleh berita pembunuhan yang dilakukan oleh seorang gadis berusia 15 tahun kepada bocah berusia 5 tahun di Sawah Besar, Jakarta Pusar. Usai membuhuh, si pelaku tidak merasa takut atau menyesal akan perbuatannya.
 
Kira-kira apa yang membuat gadis ini bisa melakukan tindakan keji tersebut? Berikut penjelasannya oleh Psikolog Klinis Dewasa, Cynthia Eveline, M.Psi, Psikolog dari Puskesmas Kecamatan Duren Sawit.
 
Secara psikologis, banyak faktor yang memengaruhinya. Cynthia menyebutkan bahwa diperlukan pemeriksaan psikologis yang rumit karena pada dasarnya meskipun ada perilaku yang sama, namun setiap orang bisa saja memiliki motif yang berbeda-beda.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Contohnya saja, misalnya seseorang memberi sumbangan. Ada yang kasih karena ikhlas, ada yang karena mau balas budi, tapi ada juga yang sebenarnya memang mau pamer harta, atau ingin dilihat sebagai orang yang murah hati,” ujar Cyinthia saat dihubungi Medcom.id.
 
Hal-hal yang perlu untuk diperiksa di sini antara lain:

-Cara berpikirnya

Cynthia menyebutkan bahwa ketika masih kecil seseorang hanya akan bisa berpikir konkrit. Misalnya sesuatu itu jelek, bagus, pintar, bodoh, cinta, benci, berhasil, dan gagal.
 
“Anak-anak sulit berpikir sesuatu yg abstrak atau konseptual, seperti melihat suatu hubungan ke hal lainnya. Misalnya hubungan antara orang tua bekerja dan sayang kepada anak. Atau ketika gagal sesuatu, apakah dia melihat hal itu sebagai sebuah kegagalan semata dan tidak mungkin berhasil. Atau justru dia over estimate dirinya sehingga dia merasa pasti dia berhasil mengerjakan apa yang dia inginkan,” jelasnya.
 
Tak hanya itu, seseorang yang melakukan tindakan semacam ini juga perlu diperiksa tingkat  intelektualnya. Apakah dia memiliki kemampuan di bawah rata-rata, di atas rata-rata, atau superior.
 
Dengan ini, anak dapat diukur kemampuannya untuk belajar dalam berperilaku dari apa yang dia lihat. Nantinya itu akan dia aplikasikan dalam kehidupannya.
 
"Jangan lupa pula Anda mengecek kebiasaan anak dalam menghadapi masalah. Anda juga bisa melihat bagaimana anak ini menyelesaikan masalah sehari-hari, bagaiamana cara dia menempatkan diri dalam suatu masalah. Dan bagaimana dia mengontrol dirinya selama ini. Bagaimana respons-nya apabila ada keinginan-keinginannya yang tidak terpenuhi,” jelasnya.

-Pola asuh dan lingkungan

Menurut Cynthia, perilaku kriminal bukan dengan sendirinya datang tapi seseorang harus mempelajarinya. Oleh karena itu, perlu diperiksa atau diobservasi apakah lingkungannya familiar dengan kekerasan yang dilakukan dengan teman sebaya atau orang yang lebih tua, ada pecandu alkohol, penyalahguna obat-obatan terlarang, dan sebagainya.
 
“Selain itu pola asuh sangat berpengaruh. Apakah orang tua memiliki pengawasan terhadap anak? Apakah orang tua otoriter, permisif, atau tidak memantau perkembangan anak,” tambahnya.

-Faktor neurologist

Struktur otak juga berpengaruh dalam diri seseorang. Fungsi-fungsi otak tertentu bisa membuat seseorang memiliki agresi yang kuat.
 
“Mengingat begitu banyak faktor yang harus dipertimbangkan dan diperiksa, maka seorang ahli tidak dapat memutuskan suatu diagnosa atau kesimpulan apabila tidak memeriksa secara langsung,” tutupnya.
 
(FIR)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif