Orang tua adalah panutan utama yang paling berpengaruh pada perilaku anak. (Foto: Pexels.com)
Orang tua adalah panutan utama yang paling berpengaruh pada perilaku anak. (Foto: Pexels.com)

Cara Sehat Mencegah dan Mengelola Kemarahan Anak

Rona psikologi anak
Anda Nurlaila • 01 Mei 2019 15:15

Para ahli menyebut, interaksi anak dan orang tua adalah investasi langka saat ini. Pada anak prasekolah Anda bisa membantu mengelola kemarahan anak dengan mengenalkan anak dengan rasa empati, ikuti peraturan, dan mengutarakan emosi. Lakukan pembelajaran dengan menyontohkannya pada anak lewat permainan peran. 


 
Jakarta: Kemarahan adalah emosi yang dimiliki semua orang di segala usia, termasuk anak-anak. Kendati begitu, emosi yang tidak terkendali dapat menyebabkan agresi yang bertahan hingga anak dewasa. 
 
Orang tua adalah panutan utama yang paling berpengaruh pada perilaku anak, terutama ayah dan ibu. Bimbingan orang tua yang sabar dan penuh perhatian, anak akan dapat belajar mengelola kemarahan mereka. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Para ahli menyebut, interaksi anak dan orang tua adalah investasi langka saat ini. 
 
"Kami ingin berpikir bahwa waktu yang berkualitas sudah cukup, tetapi semua penelitian menunjukkan kuantitas waktu bersama ibu dan ayah lebih penting dalam meningkatkan pertumbuhan emosi anak-anak," kata Direktur Pusat Studi Anak di Fakultas Kedokteran Universitas Yale di New Haven Alan Kazdin seperti ditulis Parents.
 
Gaya pengasuhan penting dalam membentuk perilaku anak. Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang keras lebih cenderung membesarkan anak-anak yang meledak-ledak, sementara ayah dan ibu yang hangat dan berwibawa lebih cenderung membesarkan anak-anak yang berperilaku baik, cerdas secara emosional. 
 
Tetapi, ada beberapa anak yang memiliki temperamen menantang. "Banyak anak yang agresif memulai dengan temperamen yang sulit dengan tingkat aktivitas yang tinggi, respons emosional yang intens, dan bermasalah dengan perubahan dalam rutinitas," kata psikolog anak di Seattle Elizabeth MacKenzie. 
 
Anak-anak seperti itu membutuhkan penetapan batas yang konsisten. Orang tua harus tenang tapi tegas sehingga anak lebih mudah ditangani. Tindakan keras dan hukuman, seperti sering memukul anak cenderung meningkatkan agresivitas anak.

Cara bantu anak hadapi kemarahan 

Para ahli sepakat mencoba membantu anak melalui pencegahan kekerasan berbasis sekolah. Salah satunya mengajarkan anak berempati. Seorang profesor psikologi di Drexel University di Philadelphia Myrna Shure mengatakan pencegahan kekerasan dilakukan agar anak merasakan rasa sakit anak lain sehingga membuatnya berhenti memukul ketika marah.
 
Peran empati disoroti dalam studi Institut Kesehatan Mental Nasional di Bethesda terhadap 72 anak di daerah Washington. Anak berusia 4-5 tahun yang berperilaku agresif merasakan kepedulian yang sama terhadap orang lain seperti rekan-rekan mereka. 
 
Tetapi pada usia 6-7 tahun, anak-anak yang kurang berempati lebih cenderung mengabaikan, menghindari, atau menertawakan orang-orang yang kesakitan daripada anak yang lebih besar.
 
Pencegahan perilaku agresif menurut Program PeaceBuilders adalah menguatkan karakter positif anak. Anak-anak di taman kanak-kanak sampai kelas lima sekolah dasar memiliki lima aturan: memuji orang, menghindari memukul, mencari orang bijak sebagai penasihat dan teman, memerhatikan dan memperbaiki rasa sakit yang kita sebabkan, dan membedakan mana yang benar dan salah. 
 
Kemudian guru memberikan "catatan pujian" bagi anak untuk hal-hal yang mereka lakukan dengan benar dan mengirim siswa ke kantor kepala sekolah sebagai pengakuan atas perbuatan baik, bukan hanya masalah disiplin. 
 
"Tujuannya mengubah budaya sekolah dengan mempromosikan keterampilan sosial anak-anak dan perilaku positif," kata Direktur Institut Studi dan Pencegahan Kekerasan di Kent State University di Ohio Daniel Flannery. 
 
Langkah kedua, adalah memahami hubungan antara perilaku peduli dan tenang. Termasuk memberi pendidikan dan pemahaman bagi orang tua. "Banyak anak bahkan tidak tahu kalau mereka marah sampai semuanya terlambat," ungkap Flannery.
 
Cara Sehat Mencegah dan Mengelola Kemarahan Anak
(Gaya pengasuhan penting dalam membentuk perilaku anak. Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang keras lebih cenderung membesarkan anak-anak yang meledak-ledak, sementara ayah dan ibu yang hangat dan berwibawa lebih cenderung membesarkan anak-anak yang berperilaku baik, cerdas secara emosional. Foto: Pexels.com)

Anak prasekolah

Sejak anak usia usia prasekolah 4-5 tahun, kenalkan anak dengan rasa empati dan lima aturan tersebut, serta mengutarakan emosi. Lakukan pembelajaran dengan menyontohkannya pada anak lewat permainan peran. 
 
Misalnya, jika ada teman yang menghalangi jalan. Bagaimana perasaan anak jika dilihat dari wajahnya, apakah sedih atau marah. Bantu anak untuk mengekspresikan emosi mereka. 

Anak sekolah dasar dan sekolah menengah

Jika anak usia prasekolah diajarkan untuk tenang menggunakan benda seperti boneka, ajarkan anak-anak sekolah dasar menenangkan diri dalam pikiran. Misalnya membayangkan gelombang laut yang tenang atau berada di pelukan ibu. 
 
Saat anak menguasai lebih banyak alat menangani kemarahan, mereka akan merasa lebih mudah untuk berteman dan berprestasi di sekolah. Pada gilirannya, membantu mereka menjadi lebih percaya diri dan berbelas kasih. 
 
"Harapan saya, sebagai orang dewasa, mereka dapat menggunakan keterampilan ini untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik," kata Glaze.

Teknik meredakan amarah 

Ada beberapa teknik menenangkan tubuh dan pikiran jika anak sedang marah:

Usia 3-5: 
Ketika anak mulai marah, siapkan gelembung tiupnya, saran psikolog Edward Christophersen. Meniup gelembung membutuhkan napas panjang dan lembut, sehingga membantu menenangkan emosi yang berantakan. 
 
Latihlah dengan anak sedikitnya satu menit sehari selama beberapa minggu. Saat amukannya memuncak, diam-diam letakkan botol gelembung dan tunjukkan cara meniup balon imajiner agar ia dapat menggunakan teknik ini di mana saja. 
 
Usia 6-8: 
Anak-anak usia ini dapat mulai menggunakan teknik "pemindahan pikiran" untuk mencegah ledakan agresif, kata Claudia Glaze dari Second Step. Pertama, bantu anak mengidentifikasi pemicu kemarahannya. Seperti ketika seseorang mendorongnya atau memanggilnya dengan nama yang tidak baik. 
 
Kemudian latih anak meredakan pemicu dengan menarik napas panjang dan menggunakan "self-talk" yang menenangkan, misalnya, "Saya bisa menangani ini" atau "Santai saja". 
 
Bermain peran juga bermanfaat. Misalnya bantu anak mengungkap perasaannya seperti "Itu bolaku. Tolong kembalikan".
 
Usia 9-12: 
Bantu anak terbiasa berpikir sebelum ia bertindak atas amarahnya. Lakukan dengan pertanyaan terbuka yang mendorongkan untuk menyelesaikan masalah. Misalnya, saat anak Anda bertengkar dengan seorang teman, tunggulah sampai dia tenang. 
 
Kemudian tanyakan: "Tidak apa-apa untuk merasa marah, tetapi apa yang terjadi setelah Anda menunjukkan kemarahan? Apa yang dapat Anda lakukan untuk menyelesaikan masalah ini? Apa yang bisa Anda lakukan jika itu terjadi lagi?"
 


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(TIN)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif