Game Omori.
Game Omori.

Game Omori Disorot Usai Kasus Siswi SD di Denpasar, Ini Penjelasannya

Mohamad Mamduh • 23 April 2026 20:49
Ringkasnya gini..
  • Kasus siswi SD di Denpasar memicu perbincangan warganet yang mengaitkannya dengan game Omori.
  • Polisi masih mendalami penyebab kejadian, sementara psikolog menegaskan tidak bisa dikaitkan dengan satu faktor saja.
  • Omori merupakan game psikologis dengan cerita tentang trauma dan memiliki berbagai ending yang bergantung pada pilihan pemain.
Jakarta: Kasus seorang siswi sekolah dasar (SD) di Denpasar, Bali, yang melompat dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan menjadi perhatian publik. Peristiwa ini turut memicu perbincangan di media sosial, termasuk munculnya spekulasi yang mengaitkan kejadian tersebut dengan game horor-psikologis Omori.
 
Dalam video yang beredar, terdengar lagu yang disebut-sebut sebagai bagian dari soundtrack game tersebut. Hal ini kemudian membuat sejumlah warganet menghubungkan insiden tersebut dengan Omori.
 

Polisi Masih Dalami Penyebab


Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terkait penyebab pasti kejadian tersebut. Korban juga masih dalam masa pemulihan sehingga belum dapat dimintai keterangan lebih lanjut.
 
“Dari hasil penyelidikan digital forensik, lagu yang digunakan oleh korban untuk joget seperti pada video berjudul ‘My Time’ oleh Bo En,” ujar Iptu Azel dikutip dari Tribun Bali, Kamis (23/04/2026).

“Sampai saat ini kami belum bisa melakukan pemeriksaan terhadap korban, mengingat korban masih dalam masa pemulihan dan masih shock akibat kejadian,” ujarnya. 
 

Psikolog: Tidak Bisa Dikaitkan dengan Satu Faktor


Sejumlah ahli menekankan bahwa kejadian seperti ini tidak bisa disimpulkan berasal dari satu penyebab saja, termasuk game.
 
Psikolog Wangsa Ayu Vidya Loka menjelaskan bahwa anak dan remaja masih berada dalam tahap perkembangan, khususnya pada bagian otak yang berfungsi dalam pengambilan keputusan dan kontrol impuls.
 
“Dalam situasi tertentu, anak bisa melakukan tindakan ekstrem bukan karena benar-benar ingin mengakhiri hidup, tetapi karena dorongan sesaat, keinginan mencoba, mencari perhatian, atau mengikuti sesuatu yang dilihat tanpa memahami sepenuhnya makna dan akibatnya,” ujarnya, dikutip dari detik.com, Kamis (23/04/2026).
 
Ia juga mengingatkan bahwa konten digital, termasuk game, perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas dan tidak serta-merta menjadi penyebab utama suatu tindakan.
 

Mengenal Game Omori


Omori dikenal sebagai game RPG dengan pendekatan cerita psikologis yang cukup dalam. Game ini membagi alurnya ke dalam dua dunia, yaitu Headspace dan Faraway Town.
 
Headspace merupakan dunia mimpi yang diciptakan oleh tokoh utama, Sunny, sebagai bentuk pelarian dari trauma masa lalu. Di dunia ini, ia hadir sebagai Omori, sosok tanpa emosi yang hidup bersama teman-temannya dalam versi masa kecil yang tampak bahagia.
 
Sebaliknya, Faraway Town menggambarkan dunia nyata yang harus dihadapi Sunny setelah bertahun-tahun mengurung diri. Di sinilah terlihat dampak dari sebuah tragedi terhadap hubungan pertemanan dan kondisi psikologis para karakter.
 
Cerita Omori berpusat pada misteri kematian Mari, kakak Sunny. Awalnya, peristiwa tersebut dianggap sebagai bunuh diri. Namun, seiring berjalannya cerita, terungkap bahwa kematian itu merupakan kecelakaan tragis yang melibatkan Sunny dan sahabatnya, Basil. Rasa bersalah dari kejadian tersebut menjadi sumber konflik utama dalam game.
 
Game ini memiliki beberapa kemungkinan akhir cerita yang bergantung pada pilihan pemain. Pada Good Ending, Sunny berhasil menghadapi rasa bersalahnya dan tidak lagi bersembunyi di balik dunia imajinasi. Ia kemudian mendatangi teman-temannya di rumah sakit dan mengungkapkan kebenaran tentang kematian Mari, yang menjadi simbol penerimaan diri dan proses pemulihan.
 
Sebaliknya, pada Bad Ending, Sunny gagal melawan rasa bersalahnya yang diwujudkan dalam sosok Omori. Ia memilih menyerah pada tekanan tersebut. Dalam adegan ini, Sunny terlihat berjalan menuju balkon rumah sakit sebelum akhirnya melompat, dengan lagu “My Time” oleh Bo En yang mengiringi suasana tersebut.
 
Selain itu, terdapat beberapa variasi Netral Ending. Dalam skenario ini, Sunny tidak benar-benar menghadapi masa lalunya. Ia bisa memilih menghindari teman-temannya atau kembali ke kehidupannya tanpa menyelesaikan trauma, yang menunjukkan bahwa konflik batin tersebut masih terus menghantuinya.
 
Kasus ini menjadi pengingat bahwa konsumsi konten digital, termasuk game, perlu disertai pendampingan, terutama bagi anak-anak. Di sisi lain, para ahli menegaskan bahwa faktor psikologis dan lingkungan tetap menjadi aspek utama yang perlu diperhatikan dalam memahami kejadian seperti ini.
 
(Sheva Asyraful Fali)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA