Selama berhubungan seks, terjadi penurunan aktivitas yang terukur di daerah otak terkait dengan kontrol perilaku, ketakutan, kecemasan, dan penilaian. (Foto Ilustrasi: Toa Heftiba/Unsplash.com)
Selama berhubungan seks, terjadi penurunan aktivitas yang terukur di daerah otak terkait dengan kontrol perilaku, ketakutan, kecemasan, dan penilaian. (Foto Ilustrasi: Toa Heftiba/Unsplash.com)

Yang Terjadi pada Otak saat Orgasme

Rona seks
Anda Nurlaila • 28 Maret 2019 16:47
Terdapat perbedaan area otak yang memengaruhi dua jenis kelamin yakni periaqueductal gray (PAG) selama orgasme.
 
Jakarta: Mencapai klimaks atau orgasme adalah salah satu tujuan pasangan saat melakukan hubungan seksual. Pada saat itu muncul beragam reaksi, baik dari tubuh maupun otak.
 
Jika tubuh merasa lemas usai mencapai orgasme, lalu apa yang sebenarnya terjadi di otak sehingga saat mencapai klimaks, baik pria maupun wanita merasakan kesenangan seks?  

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dilansir WebMD, manusia memiliki empat fase dalam siklus respon seks. Yakni kegembiraan, peningkatan gairah seksual, orgasme, dan resolusi.
 
Selama berhubungan seks, terjadi penurunan aktivitas yang terukur di daerah otak terkait dengan kontrol perilaku, ketakutan, kecemasan, dan penilaian. Hubungan seks juga menurunkan stres dan menciptakan suasana menyenangkan di antara pasangan.
 
Saat merasakan kesenangan fisik selama hubungan intim, ribuan sinyal dikirim dari sistem saraf pusat ke otak dan membanjirinya dengan dopamin. Dopamin merupakan bahan kimia yang diproduksi tubuh untuk membuat kita merasa bahagia dan memperoleh sensasi kenikmatan.

Baca juga: Yang Dirasakan Perempuan saat Meledak

Pada pria, kenikmatan yang luar biasa saat klimaks bisa bertahan hingga 10 detik. Sementara orgasme seorang wanita rata-rata berlangsung 20 detik. Terkadang bisa lebih lama dari itu.
 
Tidak seperti pria, wanita memiliki multiorgasme. Akan tetapi multiorgasme akan bergantung pada stimulasi rangsangan yang terus berlanjut dan juga minat seksual dari masing-masing pihak.
 
Seorang wanita bisa tidak selalu mengalami salah satu di antara faktor penentu ini. Sehingga orgasme berulang tidak terjadi dalam setiap hubungan seksual.
 
Terdapat perbedaan area otak yang memengaruhi dua jenis kelamin yakni periaqueductal gray (PAG) selama orgasme. Bagian otak ini diaktifkan ketika seorang wanita terlibat dalam hubungan seksual. Sementara pada pria, PAG tidak aktif saat hubungan seks. Area otak ini adalah bagian yang mengontrol respon fight-or-flight.
 
Studi menemukan penurunan aktivitas yang terjadi di amygdala dan hippocampus wanita saat orgasme, membantu wanita mengontrol ketakutan dan kecemasan. Bagian-bagian otak yang aktif ini adalah karena wanita perlu merasa aman dan santai untuk mencapai orgasme.
 
Sesuatu yang mungkin tidak penting untuk orgasme pria. Para peneliti juga percaya bahwa laki-laki mungkin tidak terlalu dipengaruhi oleh oksitosin yang dilepaskan selama orgasme.
 
Para peneliti menunjukkan bahwa kadar testosteron dalam otak laki-laki mungkin memerangi oksitosin, dan membuat kaum pria kurang terpengaruh oleh perasaan mesra, membuat kencan dan seks kasual memiliki makna yang dangkal bagi mereka.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(FIR)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif