Miskomunikasi dan perbedaan persepsi membuat suami/istri mulai membuat jarak, saling marah, memicu permusuhan, dan berujung pada evaluasi pernikahan yang buruk. (Foto: Tim Stief/Unsplash.com)
Miskomunikasi dan perbedaan persepsi membuat suami/istri mulai membuat jarak, saling marah, memicu permusuhan, dan berujung pada evaluasi pernikahan yang buruk. (Foto: Tim Stief/Unsplash.com)

Mengenal Lebih Jauh "Ketidakpuasan" dalam Pernikahan

Rona keluarga kasus pembunuhan psikologi
Yatin Suleha • 06 September 2017 18:36
medcom.id, Jakarta: Kasus Pegawai BNN, Indria Kameswari yang ditemukan sudah tak bernyawa memang membuat kita tercengang. Bagaimana tidak, pelakunya adalah sang suaminya sendiri.
 
Dalam beberapa perkembangan juga diduga adanya bukti percakapan yang mengindikasikan bahwa ada salah satu pihak pasangan yang merasa tidak puas dari pasangannya (dalam hal materi). Dalam ilmu psikologi hal tersebut disebut juga dengan isu "Marital Satisfaction".
 
Mengenal Lebih Jauh

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Marital satisfaction merupakan evaluasi suami istri terhadap hubungan pernikahan yang cenderung berubah sepanjang perjalanan pernikahan itu sendiri," ujar psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung.
 
Efnie mengatakan beberapa temuan penelitian mengatakan bahwa masalah dalam pernikahan dipicu oleh faktor komunikasi. "Nah, ketika berkomunikasi maka sangat penting bagi suami dan istri menyamakan persepsi," tukas psikolog yang ramah ini. 
 
(Baca juga: Pegawai BNN Tewas Diduga Dibunuh Suami)
 
Ia menambahkan, dalam komunikasi penting juga dibahas tentang standar kelayakan hidup secara moril dan materil dalam pernikahan.
 
Kesepakatan dalam komunikasi ini akan lebih mudah diraih jika kedua-duanya saling mengenal karakter dan sifat bawaan. Dengan demikian tidak jarang penting bagi pasangan yang akan menikah dan telah menikah untuk melakukan pemeriksaan karakter bawaan masing-masing untuk memperlancar proses komunikasi tersebut.
 
Mengenal Lebih Jauh                       
 
Ia menjelaskan juga bahwa, "inti dari pernikahan adalah meraih kebahagiaan bersama, dan ikatan pernikahan akan menjadi kuat jika rasa sayang terbentuk antara suami istri. Miskomunikasi dan perbedaan persepsi membuat suami/istri mulai membuat jarak, saling marah, memicu permusuhan, dan berujung pada evaluasi pernikahan yang buruk. Pada akhirnya berujung pada marital dissatisfaction (ketidakpuasan pernikahan)," ujar Efnie.
 
Lantas, apa yang terjadi jika "marital dissatisfaction" ini terjadi?
 
"Langgeng bisa saja, jika memang yang menjadi alasan untuk menikah itu masih selalu ada dan ia dapatkan. Jika memang selama pernikahan berjalan tidak ada pembelajaran tentang ketulusan dan kasih sayang, seiring sirnanya alasan tadi maka kecenderungan untuk mempertahankan pernikahan akan semakin berkurang," papar Efnie.
 

 

 
Mengenal Lebih Jauh
 

 

 

 

 

 

Konsultan: Efnie Indrianie, M.Psi 
Psikolog anak, remaja, dan keluarga
Universitas Kristen Maranatha, Bandung

 

 

 

 


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

(TIN)


social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif