Foto Dmitri Mendeleev di Dmitri Mendeleev Museum and Archives. Foto: Medcom/Citra Larasati
Foto Dmitri Mendeleev di Dmitri Mendeleev Museum and Archives. Foto: Medcom/Citra Larasati

Taplak Meja Legendaris dan Hari Rabu yang Panjang di 'Rumah' Dmitri Mendeleev

Citra Larasati • 17 Juni 2026 08:00
Ringkasnya gini..
  • Mengunjungi Dmitri Mendeleev Museum and Archives, bekas apartemen dinas Ilmuwan Kimia asal Rusia, Dmitri Mendeleev.
  • Dmitri Mendeleev adalah penemu Tabel Periodik unsur-unsur Kimia.
  • Museum Dmitri Mendeleev terletan di Saint Petersburg State University, Rusia.
Jakarta: Di balik megahnya dinding The Twelve Colleges yang bersejarah di Saint Petersburg State University, Rusia, waktu seolah menghentikan napasnya.. Sejak tahun 1911, sebuah apartemen bersahaja milik negara telah bermetamorfosis menjadi suaka ingatan, merawat dengan setia jejak Dmitri Ivanovich Mendeleev.
 
Langkah kami, para peserta Blog Tour Study in Russia terasa mungil saat menjejakkan kaki di koridor sepanjang 365 meter paling tersohor di lantai 2 gedung berfasad merah putih kampus tertua di St. Petersburg itu.  Melintasi lorong yang di sepanjang sisinya berderet rak buku kayu dari abad ke-19. Seolah menjadi saksi bisu bergantinya zaman serta lahirnya para penerima nobel juga ilmuwan dunia dari Negeri Beruang Merah.
 
Menyusuri anak tangga, dari lantai 2 kami dituntun kembali menuju lantai 1 di gedung yang sama. Di mana tujuan akhirnya bukanlah sebuah aula megah, melainkan satu ruang apartemen yang dihidupkan kembali, direkonstruksi berdasarkan foto arsip, dengan penuh cinta dan kehati-hatian hingga menjadi Dmitri Mendeleev Museum and Archives.

Di balik sebuah pintu kayu, Bapak Tabel Periodik yang juga pengajar di Universitas Kekaisaran St. Petersburg (nama lama St. Petersburg University) itu tak hanya pernah tinggal selama 24 tahun bersama keluarganya. Tetapi di 'rumah' ini juga, ia merajut kehidupannya yang paling nyata dan jarang awam tahu.
 
Perabot asli milik Sang Jenius seolah masih menyimpan kehangatan dari pemiliknya. Di mana saat kami datang seakan Mendeleev turut menyapa dari balik goresan wajah pada kanvas karya pelukis kenamaan Rusia yang tertempel di dinding dekat pintu masuk.

Mendeleev dan puncak pencapaiannya

Dmitri Mendeleev adalah ilmuwan Kimia dunia yang lahir pada 8 Februari 1834 dan wafat pada 2 Februari 1907 di Rusia. Puncak pencapaiannya sebagai ilmuwan adalah penemuannya akan sistem pengelompokan unsur kimia pertama yang kemudian diterima dan dikenal masyarakat luas sebagai Tabel Periodik.  Unsur-unsur ini disusun Mendeleev berdasarkan kenaikan massa atom dan kemiripan sifat kimianya.
 
Mendeleev adalah salah satu dosen paling kondang di kampus tersebut, tempat tiga presiden Rusia juga pernah belajar di sana. Memasuki ruang kerjanya, Elena, pemandu kami memperlihatkan sisi-sisi paling privat Mendeleev.
 
“Ini meja kerja asli milik sang ilmuwan. Tinggi meja ini sekitar 1,92 centimeter," kata Elena sambil menunjuk standing desk beralaskan kaca di ruangan pertama.
 
Meja itu disesuaikan dengan postur tubuh Mendeleev yang konon memang 'setinggi itu'. Selama bertahun tahun dan sepanjang masih sehat, Mendeleev lebih senang bersandar dan bekerja di meja berdiri ini, Meja dengan desain menarik dan popular di era itu. Termasuk saat menyusun Tabel Periodik. 
 
Taplak Meja Legendaris dan Hari Rabu yang Panjang di Rumah Dmitri Mendeleev
Standing desk Dmitri Mendeleev. Foto: Medcom/Citra Larasati
 
Terbilang nyaman, karena permukaan meja dapat dimiringkan sesuai kebutuhan penggunanya. Terdapat dua rak dan satu laci di permukaannya. 
 
Sementara tak jauh dari standing desk itu, potret Mendeleev dan para pendahulunya menempel di sisi dinding lainnya.  Sebuah tata ruang yang seolah membuat ia terus dibayang-bayangi untuk memenuhi harapan besar yang diwariskan mereka kepadanya.
 
Mendeleev bukanlah sosok yang lahir dari kemewahan ibu kota. Ia adalah bungsu dari 17 bersaudara. Berasal dari Desa Verkhnie Aremzyani, Tobolsk di Siberia Barat, pada tahun 1834. Ibunya Maria Dmitrievna harus mengurus seluruh keluarganya, sendirian.
 
Mendeleev kecil adalah putra pemilik pabrik kaca kecil. Dari sanalah ketertarikannya pada sains bermula. Ia gemar mengamati hingga akhirnya memahami betul prosesnya, bagaimana pasir dapat berubah menjadi kaca. Sebuah pengetahuan praktis yang kelak membuatnya sering diundang sebagai konsultan di berbagai pabrik produksi.  

Menguak 'Mitos Mimpi' Tabel Periodik

Bagi dunia sains, Mendeleev adalah legenda besar dari abad ke-19 berkat penemuan tabel periodiknya. Namun, kunjungan ke museum ini menguak sebuah kebenaran lain dari mitos yang sudah kadung dipercaya dunia itu.
 
Kala itu banyak yang meyakini, susunan unsur kimia tersebut ia dapatkan dari wangsit alias mimpi saat tidur. Elena dengan tegas meluruskan hal tersebut. "Tabel periodik ini adalah yang dia lihat dalam mimpinya. Saya mendengar cerita bahwa dia memimpikannya. Sebenarnya ini adalah mitos. Itu tidak sepenuhnya benar,” tutur Elena.
 
Mitos itu bermula dari sebuah candaan ketika ia ditanya tentang proses penciptaannya, dan surat kabar pada masa itu memuatnya sebagai sebuah kebenaran.  Mengutip laman Saint petersburg.com, karya legendaris ini lahir dari buku teks akademis terkemuka buatannya yang terdiri dari dua jilid, yakni Prinsip-Prinsip Kimia.
 
Pada masa itu, Mendeleev sebenarnya bukan satu-satunya ilmuwan yang mencoba menyusun sistem untuk mengelompokkan unsur kimia berdasarkan periodisitas. Ilmuwan lain seperti Lothar Meyer di Jerman, juga melakukan riset serupa.
 
Namun, ada satu hal yang membuat gebrakan Mendeleev jauh lebih visioner dibandingkan rekan rekan sejawatnya. Ia adalah orang pertama, pengusul sebuah sistem yang tidak hanya merapikan elemen yang sudah ada, tetapi juga mampu memprediksi unsur-unsur yang belum ditemukan beserta karakteristiknya.
 
Pada suatu kesempatan dalam candanya, Mendeleev mengklaim bahwa tabel tersebut muncul dalam mimpinya. Tentu saja, inovasi yang terlalu maju di zamannya ini tidak langsung diakui oleh komunitas ilmiah. Banyak yang awalnya meragukan nilai dari karya Mendeleev tersebut.
 
Meski begitu, waktu akhirnya membuktikan kejeniusan Mendeleev. Efektivitas sistemnya menjadi tak terbantahkan ketika dunia sains berhasil menemukan unsur galium dan skandium pada tahun 1875. Kemudian disusul oleh penemuan germanium pada tahun 1886.
 
Karakteristik elemen-elemen baru tersebut secara presisi cocok dengan "ruang kosong" yang telah diramalkan Mendeleev dalam tabelnya bertahun-tahun sebelumnya. Kejeniusannya terbukti dari tabel awal yang berisi 63 unsur, ia berhasil memprediksi 12 unsur yang belum ditemukan pada masa itu.
 
“Tiga di antaranya ditemukan saat ia masih hidup, dan 9 lainnya ditemukan setelah ia wafat,” kata Elena.
 
Faktanya, penemuan itu adalah hasil dari kerja keras tanpa henti. "Dia menghabiskan bertahun-tahun untuk menciptakan tabel periodik ini. Itu bukan sesuatu yang hanya dia impikan," imbuh Elena.

Sisi Humanis di Balik Rumus Kimia

Di luar kejeniusannya, apartemen ini turut merekam sisi hangat Mendeleev sebagai seorang ayah 7 anak dari dua pernikahannya. Ia juga hangat sebagai seorang sahabat. Salah satunya tergambar melalui benda bersejarah paling menarik perhatian di ruangan tersebut, yakni taplak meja hitam dengan banyak coretan tanda tangan di atas meja bundar.
 
Menurut Elena, pada hari-hari tertentu dalam satu pekannya, ilmuwan penyuka seni ini rutin mengundang tamu tokoh-tokoh hebat dari berbagai kalangan untuk datang ke apartemennya. Mulai dari ilmuwan, penyair, penulis, pelukis seperti Kramskoy, Kuindzhi, Repin, Shishkin, Yaroshenko dan lainnya. 
 
Hari yang kemudian dikenal sebagai “Mendeleev’s Wednesdays” itu menjadi momen ‘kongkow’ intelektual rutin para cendikiawan hingga seniman terkenal di kediamannya. Meninggalkan jejak memori yang kini dilestarikan dengan sangat hati-hati di museum tersebut. 
 
Hingga saat ini, terdapat 270 tanda tangan yang dibubuhi di atas taplak meja legendaris tersebut. "Jadi Mendeleev biasa meminta para tamu menggunakan krayon untuk menuliskan tanda tangan mereka di taplak meja. Kemudian istri dan anak-anaknya menyulam tanda tangan tersebut di atas taplak meja tersebut," ujar Elena. 
 
Taplak Meja Legendaris dan Hari Rabu yang Panjang di Rumah Dmitri Mendeleev
Taplak meja dengan tandatangan para ilmuwan tamu mendeleev yang disulam tangan. Foto: Medcom/Citra Laraasati

Sosok Mentor sekaligus inspirator Mendeleev

Tak jauh dari meja bundar bertaplak legendaris itu, mata kami bergeser ke sebuah etalase kaca setinggi perut manusia dewasa. Etalase tua itu berisi lembaran kertas menguning yang merupakan salinan faksimili dari manuskrip atau coretan tangan Mendeleev yang bersanding tenang dengan halaman judul kandidat tesisnya.
 
Tak sekadar tumpukan kertas tanpa arti, keduanya adalah mesin waktu lain yang menggambarkan bagaimana Mendeleev muda memulai langkah keilmuannya yang mendunia. Tak lepas dari peran sosok Profesor Alexander Voskresensky, mentor yang menginspirasi dan menjadi penuntun tekad Mendeleev untuk menambatkan hidup pada jalan panjang sains.
 
Taplak Meja Legendaris dan Hari Rabu yang Panjang di Rumah Dmitri Mendeleev
Salinan catatan Dmitri Mendeleev dan halaman judul kandidat tesisnya. Foto: Medcom/Citra Larasati
 
Sang profesor tak sekadar mengajar, ia mendedahkan keajaiban alam melalui teori-teori abstrak dan narasi kimia yang mampu menjembatani gap laboratoriun dan dunia nyata dari dalam ruang kelasnya. Menjadi bukti bahwa bangku kuliah mampu menginspirasi dan membuat jejak sejarah yang melintas zaman, setidaknya bagi Mendeleev.

Manuskrip perdana tabel Periodik

Masih dari ruangan yang sama, mata kami terus menyapu ruangan, melihat selembar kertas lain yang sama menguningnya. Berisi coretan berbentuk angka dan simbol yang juga ditulis tangan oleh Mendeleev.
 
Taplak Meja Legendaris dan Hari Rabu yang Panjang di Rumah Dmitri Mendeleev
Manuskrip tabel periodik Dmitri Mendeleev. Foto: Medcom.Citra Larasati
 
Tak ada diksi rumit yang disematkan Sang Imuwan, ia hanya menuliskan dengan sederhana dan penuh sahaja “Upaya menyusun sistem unsur berdasarkan massa atoMendeleev patunm dan kesamaan kimianya”. Ini kemudian menjadi catatan tabel periodic perdana Mendeleev yang ditulis di atas kertas tertanggal 17 Februari 1896.

Pecinta Catur dan teh sejati

Ruangan berikutnya yang diperkenalkan Elena adalah ruang kerja Mendeleev. Layaknya rung kerja ilmuwan, masih penuh buku dan foto-foto.  Namun yang mencuri perhatian adalah papan catur di atas meja.
 
Di sela-sela waktu luangnya yang langka, rupanya Mendeleev menghabiskan waktunya untuk bermain catur. “Dmitri Ivanovich bermain catur dengan sangat baik, tetapi ia benci kalah dalam permainan dan jarang sekali dikalahkan. Ia bermain dengan penuh pertimbangan, tenggelam dalam permainan,” kata keponakannya, Nadezhda Gubkina yang dikutip dari laman izi.travel.
 
Biasanya, Mendeleev bermain catur bersama seniman Arkhip Kuindzhi. Mendeleev sangat cinta pada catur. Layaknya menghadapi rumus kimia, ia juga bermain dengan tekun dan hati-hati, serta tentu saja hampir selalu menang.
 
Taplak Meja Legendaris dan Hari Rabu yang Panjang di Rumah Dmitri Mendeleev
Ruang kerja Dmitri Mendeleev tempat di mana papan catur dan cangkir teh berada. Foto: Medcom/Citra Larasati
 
Fakta lain yang diungkap museum Dmitri Mendeleev adalah kecintaannya pada teh. Mendeleev adalah peminum teh sejati. Untuk itulah cangkir favoritnya yang dibeli dari ‘Kemitraan M. S. Kuznetsov untuk Produksi Porselen dan Gerabah’ yang terkenal itu sengaja diletakkan pihak pengelola museum di salah satu sisi meja kerja Mendeleev. 
 
Masih dari sumber yang sama disebutkan, ayah 7 anak ini memulai hari dengan mengucapkan ‘selamat pagi’ kepada keluarganya sebelum masuk ke ruang kerjanya. Di sana ia menikmati teh pagi yang kental dan manis buatan Anna Ivanovna Popova, istrinya. Konon, hanya Anna yang boleh membuatkan teh untuknya, Ditemani beberapa tangkap roti tawar yang dioles mentega, sesekali diisi kaviar, ham, atau keju. 

Perpustakaan Pribadi Mendeleev

Sejurus kemudian, Elena mengajak kami bergeser ke ruangan terakhir, ruang baca sekaligus perpustakaan pribadi milik Mendeleev yang bergaya eropa klasik berpadu dengan interior khas era Victoria. Buku-buku milik Sang Ilmuwan masih berjejer rapi, urut, dan dikelompokkan secara cermat di rak-rak buku coklat gelap yang menjulang ke langit-langit ruangan.
 
Sebagian rak bersandar pada dinding ber-wallpaper coklat muda, sebagian lagi menyempil memenuhi sudut-sudut ruangan berdinding putih, diletakkan tepat di antara sela-sela jendela ber-gordyn maroon menjuntai.
 
Kami hanya diizinkan melihat dari batas mulut ruangan, karena pengunjung tidak diperbolehkan untuk masuk dan mendekat ke ruangan yang penuh dengan buku antik tersebut.  Dapat dimaklumi, mengingat sebagian rak-rak buku terpajang tanpa penutup kaca. 
 
Meski begitu, dari jarak yang tak seberapa jauh itu, mata kami masih mampu menangkap nyawa dari ruang kesukaan Mendeleev. Ruangan ini mengajak kami menjelajah labirin pikiran Mendeleev yang jauh lebih dalam. Terlihat buku-buku yang disampul sendiri oleh Mendeleev, di mana ia menggabungkan beberapa buku dengan topik tertentu ke dalam satu sampul. 
 
Taplak Meja Legendaris dan Hari Rabu yang Panjang di Rumah Dmitri Mendeleev
Salah satu sudut perpustakaan pribadi Dmitri Mendeleev. Foto: Medcom/Citra Larasati
 
Uniknya, walau ia adalah ilmuwan yang totok mendalami sains, namun di belantara buku, dokumen, hingga klipingan surat kabar di perpustakaan pribadinya tersebut, ia juga kedapatan membaca tema-tema lain, seperti seni, sosial hingga politik.
 
Elena mengatakan, ribuan buku ini dibawa, disusun, dan dikelompokkan sendiri oleh Mendeleev dengan sangat teliti ke ruang bacanya. Semata agar ia bisa duduk dan tenggelam dalam lautan aksara.  
 
Ruang baca sebagai titik terakhir menutup kunjungan kami ke Museum Dmitri Mendeleev dengan sempurna. Kepingan-kepingan tentang Mendeleev seolah menjadi fakta utuh yang berharga untuk dibawa pulang.
 
Sebuah kepingan kisah dari Sang Ilmuwan yang membuktikan bahwa penemuan besar tak melulu lahir dari ruang-ruang laboratorium yang kaku. Namun ia bisa muncul dari ruang-ruang hangat yang menjadi saksi dari kecintaan seorang ayah kepada keluarganya, sahabat, catur dan secangkir teh kental yang manis.  
 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA