Ilustrasi pengeroyokan (Foto: Kecerdasan buatan/AI)
Ilustrasi pengeroyokan (Foto: Kecerdasan buatan/AI)

Gara-gara Diejek "Skena", Pemuda di Bangkalan Dikeroyok

Basuki Rachmat • 17 Juni 2026 09:50
Ringkasnya gini..
  • Kasus pengeroyokan di Bangkalan diduga berawal dari ejekan "skena". Polisi masih menyelidiki motif pasti di balik insiden tersebut.
  • Istilah skena kembali viral usai kasus Bangkalan. Skena sebenarnya berarti komunitas atau subkultur dengan minat yang sama.
  • Apa itu skena? Bukan sekadar gaya berpakaian, skena merujuk pada ekosistem komunitas yang terbentuk dari minat dan aktivitas serupa.
Jakarta: Sebuah peristiwa pengeroyokan yang terjadi di Jalan Raya Besel, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 13 Juni 2026, menjadi sorotan publik. Insiden tersebut diduga dipicu oleh kesalahpahaman yang bermula dari ejekan menggunakan istilah "skena".
 
Menariknya, kata yang selama ini identik dengan komunitas atau subkultur musik dan kreativitas itu justru disebut menjadi pemicu awal perselisihan yang berujung pada aksi kekerasan.
 
Berdasarkan keterangan Kasi Humas Polres Bangkalan, Ipda Agung Intama, korban berinisial M (22), warga asal Surabaya, saat itu sedang berkumpul bersama tiga rekannya di kawasan Stadion Gelora Bangkalan (SGB), Jawa Timur.

Saat berada di lokasi, korban terlibat adu mulut dengan kelompok pemuda lain yang berjumlah sekitar tujuh orang. Perselisihan tersebut diduga dipicu oleh ejekan yang menyebut korban sebagai "skena".
 
"Di situ sudah terjadi cekcok antar dua pemuda tersebut," ujar Agung kepada awak media, pada Senin, 15 Juni 2026.
 
Meski sempat memanas, cekcok antara kedua kelompok berhasil dilerai sehingga tidak berkembang menjadi perkelahian. Namun situasi kembali berubah ketika kedua kelompok tersebut bertemu lagi saat hendak pulang di kawasan Jalan Raya Besel, Kecamatan Burneh.
 
Polisi menduga salah satu pihak berada di bawah pengaruh minuman keras sehingga pertengkaran kembali terjadi dan akhirnya berujung pada aksi kekerasan.
 
Dalam situasi tersebut, tiga rekan korban memilih menyelamatkan diri karena jumlah lawan yang jauh lebih banyak. Akibatnya, korban menjadi sasaran pengeroyokan oleh tujuh orang pelaku.
Korban disebut tidak mampu memberikan perlawanan. Situasi semakin memburuk ketika para pelaku meneriaki korban sebagai begal, sehingga menarik perhatian warga sekitar yang kemudian ikut mendatangi lokasi kejadian.
 
"Lalu keluarga korban yang dari Burneh datang dan sekelompok pelaku ini kabur," lanjut Agung. 
Tak lama berselang, aparat kepolisian tiba di lokasi dan mendapati korban sudah tergeletak di jalan. Korban kemudian dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Hingga kini, kepolisian masih mendalami kasus tersebut guna memastikan motif utama di balik aksi pengeroyokan yang terjadi.
 
"Masih akan kita dalami terkait dengan motif, karena yang beredar di masyarakat memang adanya isu-isu (begal) tersebut. Namun kita pastikan dulu motif yang terjadi, sehingga tidak menjadi informasi liar di masyarakat," tutupnya.  

Apa Itu Skena?

Di tengah ramainya pemberitaan mengenai kasus ini, istilah "skena" kembali menjadi perbincangan publik. Belakangan, kata tersebut kerap disalahartikan sebagai sebutan bagi orang-orang yang memiliki gaya berpakaian tertentu, seperti mengenakan baju oversize, celana gombrong, hingga kaus band.
 
Padahal, makna "skena" sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar penampilan.
 
Secara bahasa, kata "skena" merupakan serapan dari bahasa Inggris "scene", yang merujuk pada komunitas, lingkungan, atau subkultur yang memiliki minat, aktivitas, dan identitas yang sama.
Penjelasan tersebut juga dibenarkan oleh Ahli Bahasa sekaligus Kepala Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Ganjar Harimansyah.
 
“Berdasarkan kamus daring, kata skena merujuk pada makna polisemi scene, yakni lingkup kegiatan, situasi, atau kancah aktivitas maupun minat tertentu, misalnya The Rock Music Scene atau The Fashion Scene,” ujar Ganjar.
 
Dengan demikian, istilah "skena" sejatinya merujuk pada sebuah ekosistem atau komunitas yang terbentuk berdasarkan kesamaan minat dan aktivitas, bukan semata-mata identitas gaya berpakaian yang belakangan populer di media sosial.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA