GIGI saat showcase album Forever In The Air di Krapela, Jakarta Selatan (Foto: Medcom/Basuki)
GIGI saat showcase album Forever In The Air di Krapela, Jakarta Selatan (Foto: Medcom/Basuki)

Thomas Ramdhan Ungkap Alasan Batal Hengkang dari GIGI

Basuki Rachmat • 15 Juni 2026 13:37
Ringkasnya gini..
  • GIGI membuktikan bahwa usia lebih dari tiga dekade bukan penghalang untuk terus berkarya dan bertahan di industri musik Indonesia.
  • Thomas Ramdhan buka suara soal keinginan hengkang dari GIGI yang ternyata bukan gimmick, namun batal setelah komunikasi antar personel membaik.
  • Album Forever In The Air menjadi simbol persaudaraan dan perjalanan panjang GIGI yang tetap solid setelah melewati berbagai konflik dan ujian.
Jakarta: Tiga dekade lebih bukan waktu yang singkat bagi sebuah band untuk tetap bertahan. Namun itulah yang berhasil dilakukan GIGI. Memasuki usia 32 tahun perjalanan kariernya di industri musik Indonesia, grup pop-rock asal Bandung tersebut terus membuktikan diri sebagai salah satu band paling konsisten dan berpengaruh di Tanah Air.
 
Perjalanan panjang GIGI tentu tidak selalu berjalan mulus. Band yang kini digawangi Armand Maulana (vokal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramdhan (bass), dan Gusti Hendy (drum) telah melewati berbagai fase, mulai dari pergantian personel, konflik internal, hingga berbagai ujian yang nyaris membuat mereka berhenti melangkah.
 
Salah satu momen yang sempat mengejutkan pendengar musik Tanah Air terjadi pada April 2026. Saat itu, Thomas Ramdhan mengisyaratkan kemungkinan untuk hengkang dari GIGI akibat persoalan internal yang terjadi di dalam band.

Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi luas di kalangan penggemar. Terlebih, Thomas pernah meninggalkan GIGI pada 1996 karena masalah ketergantungan narkotika. Setelah dua tahun berpisah dan posisinya sempat digantikan oleh Opet Alatas, Thomas akhirnya kembali bergabung pada 1999 dan menjadi bagian penting dari perjalanan GIGI hingga saat ini.
 
Dalam program Q&A Metro TV episode terbaru bertajuk GIGI: Forever In The Air, Thomas akhirnya mengungkapkan bahwa keinginannya untuk keluar dari band saat itu bukan sekadar strategi promosi atau gimmick.
 
"Oke, kan ada orang yang bilang 'ah lo mah gimik aja'. Emang gue tadinya memang begitu (ingin benar-benar keluar)," tutur Thomas.
Namun komunikasi yang kembali terjalin secara membaik di antara para personel membuat situasi berubah.
 
"Tapi alhamdulillah ya Allah ya Rabb, masih bisa ngobrol akhirnya berempat," lanjutnya.
 
Menurut Thomas, diskusi yang dilakukan bersama Armand, Budjana, dan Hendy membuatnya kembali melihat perjalanan panjang yang telah mereka bangun bersama selama puluhan tahun.
 
"Di situ mereka ngasih masukan semuanya untuk hal itu (keputusan Thomas untuk keluar). Yang akhirnya dari yang saling mengingatkan, gue jadi ngelihat apa yang udah gue bikin gitu (bersama GIGI)," jelas Thomas.
 
Thomas pun menegaskan bahwa saat dirinya membuat unggahan di akun Instagram pribadinya mengenai keputusannya ingin hengkang dari GIGI, ia menyisipkan tulisan "kemungkinan".
 
"Tapi kan waktu itu gue bilang 'kemungkinan'" lanjutnya.
 
Pernyataan Thomas pun langsung disambut celetukan Dewa Budjana yang mengingatkan bahwa sejak awal dirinya hanya menyebut kemungkinan hengkang.
 
"Enggak dibaca kemungkinannya, makanya baca caption," sahut Dewa Budjana yang disambut dengan gelak tawa.

Brotherhood di Grup Musik GIGI

Lebih dari sekadar band, hubungan para personel GIGI telah berkembang menjadi sebuah persaudaraan yang terjalin selama puluhan tahun. Thomas mengenang salah satu momen yang paling membekas dalam hidupnya, yakni ketika menjalani masa rehabilitasi dan menerima dukungan dari rekan-rekan satu bandnya.
 
"Pas di rumah sakit, gue rehab. Orang yang pertama datang itu Armand, Budjana, sama Dani Pete, datang ke Rumah Sakit Ongkomulyo (kini menjadi RS EMC Pulomas) itu gue catat sampai hari ini gitu. Padahal gue habis keluar dari rumah sakit itu tidak ada di GIGI. Tapi mereka datang untuk support supaya gue sembuh," ungkap Thomas.
 
Sementara itu, Armand Maulana mengingat masa-masa tersulit yang pernah dihadapi GIGI ketika band tersebut hanya tersisa dirinya dan Dewa Budjana. 
 
Menurut Armand, periode album 2 x 2 (1997) menjadi titik terberat dalam perjalanan mereka karena banyak pihak mulai meragukan eksistensi GIGI setelah ditinggalkan beberapa personel penting mereka.
 
"Pas tinggal berdua sih, album '2x2'. Itu paling berat. Berat banget karena seluruh Indonesia sudah nggak percaya lagi sama GIGI. 'Ini kan tinggal Armand sama Budjana, bukan GIGI lagi'," kenang Armand.
 
Bahkan, saat itu Armand dan Budjana sempat mempertimbangkan untuk membubarkan band dan membentuk proyek musik baru berformat duo dan bernama Duo.
 
"Akhirnya ya itu, pas saya tinggal berdua ama Budjana terus gue bilang 'Budj gimana Budj?', Budjana pun bilang 'sudahlah kita bubar aja'. Bahkan udah mau bikin proyek musik duo akhirnya. Tapi akhirnya kita mikir berdua sama Dhani Pette (manajer GIGI) juga ngasih masukan, nggak jadi terusin aja lagilah, terusin terusin, ya itu dengan formasi yang Budhy ama Opet," tuturnya.
 
Bagi Budjana, salah satu momen paling brotherhood paling berkesan adalah ketika seluruh mantan personel GIGI akhirnya bisa kembali berkumpul dan tampil reuni bersama pada tahun 2004 di acara pernikahannya yang digelar di Bali.
 
"2004 waktu reuni pertama. Itu terjadi pas kawinan gue. Tapi Hendy belum masuk ya, transisi mau ke Hendy waktu itu. Karena sebelumnya susah banget untuk ngumpulin eks-eks personel GIGI. Di situ nggak tahunya semuanya bisa datang dan manggung bersama di Klungkung, Bali," tutur Dewa Budjana.
 
"Semuanya datang dan bawa keluarga dan bisa main bareng, itu luar biasa dan akhirnya dari situ selalu reuni sampai akhirnya Budhy keluar. Sampai dengan formasi bersama Hendy ini yang sudah 22 tahun, kita masih punya paket reunion, itu jadi bagian terpenting sih," lanjutnya.
 
Sementara itu, Hendy memiliki cerita personal yang menunjukkan eratnya hubungan antaranggota GIGI. Ia mengingat bagaimana Budjana tetap menemaninya saat proses kelahiran anak keempatnya di masa pandemi Covid-19.
 
"Biasanya keluarga ngumpul nunggu kelahiran, tapi waktu itu saya sendirian di rumah sakit. Tiba-tiba Budjana WhatsApp, 'Eh gue udah di parkiran'. Dia nungguin di parkiran sampai lahiran, padahal nggak boleh masuk. Buat saya itu sangat wow," ujar Hendy.

Album ke-25 Bertajuk Forever In The Air

Thomas Ramdhan Ungkap Alasan Batal Hengkang dari GIGI
Preskon & hearing session album Forever In The Air (Foto: Medcom/Basuki)
 
Di tengah perjalanan panjang tersebut, GIGI kini merayakan tonggak baru lewat album Forever In The Air. Album berisi sembilan lagu ini menjadi album studio ke-25 sepanjang karier mereka di industri musik Indonesia. Bagi Armand, Budjana, Thomas, dan Hendy, Forever In The Air bukan sekadar kumpulan lagu baru, melainkan refleksi atas perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama selama lebih dari tiga dekade.
Menariknya, proses rekaman album ini dilakukan di Power Station at Berklee NYC, Amerika Serikat, studio legendaris yang pernah digunakan oleh berbagai musisi dunia seperti The Rolling Stones, Muse, John Mayer, Paul McCartney, Madonna, hingga Bruno Mars.
 
Dalam penggarapannya, GIGI juga memilih kembali menggunakan metode rekaman analog dengan pita kaset (analog tape recording). Di tengah dominasi teknologi digital, keputusan tersebut menjadi langkah yang terbilang berani sekaligus penuh makna.
 
Melalui Forever In The Air, GIGI ingin menghadirkan kembali nuansa organik yang selama ini menjadi bagian penting dari proses kreatif mereka, sekaligus menegaskan bahwa semangat berkarya dan persaudaraan yang menjaga mereka tetap bertahan masih akan terus hidup, bahkan setelah 32 tahun melintasi berbagai zaman.
 

 

 

 

 

 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA