Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando. (Foto: Istimewa)
Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando. (Foto: Istimewa)

Ada Miliaran Bahan Bacaan yang Dapat Diakses Masyarakat

Rona minat baca
K. Yudha Wirakusuma • 27 Agustus 2020 12:57
Jakarta: Beberapa bulan terakhir Anda dan keluarga diharuskan membatasi diri untuk keluar rumah. Sejumlah aktivitas pun terpaksa harus dilakukan di rumah.
 
Untuk medapatkan bahan bacaaan dan informasi, masyarakat bisa mendaftarkan diri menjadi anggota Perpusnas secara online. Perpusnas menyediakan jutaan, bahkan miliaran bahan bacaan yang dapat dinikmati masyarakat Indonesia.
 
“Untuk bisa menjadi anggota online perpustakaan, dengan barcode itu bisa membuka salah satu portal reseach perpurnas. Nanti kita tentukan pilihan e-book bisa kita akses di perpusnas,” kata Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando, dalam Webinar Duta Baca Daerah diselenggarakan, dengan Tema: "Peran Bunda Baca dalam Adaptasi Kenormalan Baru untuk Meningkatkan Literasi Masyarakat”, Kamis, 27 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Syarif menambahkan sumber bahan bacaan terkoneksi digital kurang lebih 1.350 perpustakaan yang tergabung di dalamnya. “Jadi tinggal kemauan saja,” singkatnya.
 
Salah satu indikator literasi yang dapat diukur adalah kegemaran membaca. Literasi secara umum merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari
 
Menurut Syarif terdapat empat tingkatan literasi yang ingin dicapai. Pertama, kemampuan mengumpulkan sumber sumber bahan bacaan. Kedua, kemampuan memahami apa yang tersirat dari yang tersurat.
 
Ketiga, kemampuan untuk mengemukakan ide atau gagasan teori baru, kreativitas atau  inovasi baru. Keempat kemampuan menciptakan barang atau jasa yang bermutu yang bisa dipakai kompetisi global.
 
Sementara itu, Bunda Baca Kota Tegal Roro Kusnabilla Erfa menyatakan wisata literasi diusung dengan kunjungan ke sekolah, kelurahan, hingga kecamatan, pemberdayaan pojok dan forum baca, pemantapan program dengan perpusda dan pegiat literasi, pengembangan kampung literasi. Serta melibatkan 46 duta baca yang mewakili seluruh elemen masyarakat. Kegiatan-kegiatan tersebut menghasilkan beberapa judul buku hasil karya peserta didik SMPN 1 Tegaldan masyarakat. 
 
Pada masa pandemi covid-19, Roro Kusnabilla tetap aktif menularkan virus membaca melalui webinar dan pemberdayaan warga. Meski begitu, dia mengaku kesulitan melaksanakan wisata literasi karena pembatasan jumlah peserta. 
 
Karenanya, dia melibatkan elemen masyarakat untuk menjalankan program tersebut. “Saya dibantu duta baca, pegiat literasi, taman baca, kader PKK untuk tetap mengadakan wisata literasi dan membuka forum baca dan pojok baca di kelurahan, TBM, sehingga anak-anak bisa tetap membaca,” jelas wanita yang dilantik sebagai Bunda Baca pada 15 Juli 2019 tersebut.
 
Untuk menumbuhkan minat baca anak, dia memberikan tips kepada para orang tua. “Kita membuat anak-anak suka membaca dengan bercerita, terutama anak SD, kita ajak cerita atau dongeng, tapi jangan sampai selesai. Sehingga anak itu penasaran dan membaca buku ceritanya,” jelasnya.
 
Sementara itu, Pustakawan Ahli Utama Perpusnas Titiek Kismiyati menyatakan di era kenormalan baru, perpustakaan harus tetap menjalankan fungsinya dalam upaya meningkatkan literasi masyarakat. Titiek menjelaskan, sesuai Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perpustakaan menjalankan lima fungsi yakni sebagai wahana pendidikan, penelitian, informasi, pelestarian, dan rekreasi.
 
“Strategi layanan perpustakaan bisa dilakukan dengan tiga cara. Pertama, membuka layanan secara tatap muka atau onsite dengan mengikuti protokol kesehatan kenormalan baru di perpustakaan. Kemudian secara online dapat menjadi awal untuk memulai layanan dan kegiatan online yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh perpustakaan di era digital, dan terakhir, bisa gabungan antara tatap muka dan online,” urainya.
 
Pada era kenormalan baru, perpustakaan bisa menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan masyarakat namun tetap mematuhi pembatasan dan protokol kesehatan. Seperti kegiatan onsite atau tatap muka dengan membatasi jumlah peserta, kegiatan layanan pesan-antar koleksi ke pemustaka, dan kegiatan daring (online).
 

 
(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif