NEWS

Ishak Chandra dan Perjalanan Panjang Menaklukkan Bisnis Properti

Rizkie Fauzian
Minggu 23 Agustus 2026 / 22:24
Ringkasnya gini..
  • Ishak Chandra menuangkan perjalanan 33 tahun di dunia bisnis, dari kehilangan harta saat krisis 1998 hingga membawa Triniti Land melantai di BEI, dalam buku Bermain di Papan Besar.
  • Bukan sekadar biografi, buku Ishak Chandra membahas pengalaman menghadapi kegagalan, membangun bisnis, kepemimpinan, hingga cara melihat peluang di tengah perubahan pasar properti.
  • Seluruh keuntungan penjualan Bermain di Papan Besar akan disalurkan untuk program Agent of Hope yang mendukung beasiswa dan akses kerja bagi anak muda Indonesia.
Jakarta: Perjalanan membangun bisnis tidak selalu dimulai dari kondisi yang ideal. Bagi Co-Founder & Group CEO Triniti Land (TRIN) Ishak Chandra, perjalanan tersebut justru ditempa oleh berbagai titik balik, mulai dari kehilangan harta akibat krisis 1998, pengalaman kehilangan uang warisan hingga membangun bisnis dan membawa perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berbagai pengalaman tersebut kini dituangkan Ishak dalam buku berjudul Bermain di Papan Besar. Buku ini tidak sekadar menceritakan keberhasilan seorang pengusaha, tetapi menjadi refleksi perjalanan 33 tahun Ishak di dunia profesional dan bisnis.

"Motivasi utamanya itu sharing, bukan tentang cerita sukses. Tapi menceritakan bagaimana dan apa yang saya alami untuk mencapai hari ini," ujar Ishak dalam peluncuran bukunya di Jakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Menurut Ishak, buku tersebut menjadi semacam gambaran perjalanan dirinya dari kondisi yang serba terbatas hingga berada di titik saat ini.

"Jadi ini seperti blueprint dari seorang Ishak Chandra yang minus, bukan hanya nol, hingga bisa jadi hari ini," katanya.

Lima bulan menulis buku


 Co-Founder & Group CEO Triniti Land (TRIN) Ishak Chandra. Foto: Istimewa

Ide menulis buku sebenarnya telah muncul sekitar tiga tahun lalu. Namun, kesibukan membuat rencana tersebut belum sempat direalisasikan.

Kesempatan akhirnya datang saat libur Lebaran. Ishak memilih tidak bepergian dan memanfaatkan waktu tersebut untuk mulai menuangkan perjalanan hidup serta pemikirannya ke dalam tulisan.

"Udah mulai tuh dari April kemarin, jadi sekitar lima bulan menulisnya," tuturnya.

Bermain di Papan Besar terdiri atas 30 bab, tujuh bagian, dan 12 prinsip utama. Isinya membahas perjalanan karier, bisnis, kepemimpinan, pengambilan keputusan, hingga cara menghadapi berbagai fase dalam kehidupan profesional.

Kisah tersebut dimulai ketika Ishak bergabung sebagai management trainee di Astra International pada 1991. Setelah itu, ia menghabiskan sekitar 13 tahun di Soewarna Business Park, perusahaan patungan Salim Group dan Sojitz Corporation.

Perjalanan profesionalnya berlanjut selama sekitar delapan tahun di Sinar Mas Land. Di perusahaan tersebut, Ishak pernah menjabat sebagai Director of Corporate Strategy hingga CEO Strategic Development & Services.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal bagi Ishak untuk membangun Triniti Land bersama para co-founder lainnya. Perusahaan tersebut resmi tercatat di BEI pada 15 Januari 2020.

Krisis 1998 dan pelajaran dari kehilangan

Salah satu bagian penting dalam buku tersebut adalah pengalaman Ishak menghadapi krisis ekonomi 1997-1998.

Krisis tersebut menjadi salah satu periode paling berat dalam kehidupannya. Ia mengaku pernah kehilangan hampir seluruh harta yang dimiliki.

Namun, pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai kisah tentang kehilangan. Dua dekade kemudian, Ishak justru berada di posisi membawa perusahaan yang dibangunnya untuk melantai di bursa.

Kontras antara kedua periode tersebut menjadi salah satu pesan yang ingin disampaikan melalui buku Bermain di Papan Besar. Perjalanan bisnis, menurut Ishak, bukan hanya tentang pencapaian yang terlihat, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menghadapi kegagalan, kehilangan dan ketidakpastian.

Pengalaman pribadi juga membentuk pandangannya mengenai bagaimana seseorang seharusnya membangun bisnis.

Ishak menilai pelaku usaha perlu memahami sektor yang digeluti secara mendalam dan tidak terburu-buru masuk ke terlalu banyak sektor.

"Kalau kita menekunkan suatu industri, industri apa pun itu pasti ada naik turunnya. Maka yang perlu kita pelajari adalah fokus pada one sector yang kita kuasai," ujarnya.

Dengan fokus tersebut, menurut dia, perusahaan dapat memiliki keunggulan karena lebih memahami karakteristik industri yang dijalankan.

"Daripada kita multisektor yang akhirnya separuh-separuh. Jadi kalau ditanya kok saya tetap di properti, saya bilang saya enggak ngomong properti. Industri apa pun pasti ada naik turunnya. We focus with what we love for our life," kata Ishak.

Membaca peluang di tengah pasar properti

Sebagai pelaku industri properti selama puluhan tahun, Ishak juga melihat kondisi sektor properti perlu dibaca berdasarkan momentum.

Menurut dia, berbagai insentif pemerintah seperti pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) maupun subsidi belum tentu memberikan dampak maksimal jika diberikan pada momentum yang kurang tepat.

"Kalau momen enggak tepat, itu enggak bakal menstimulus juga. Jadi harus cari momen," ujarnya.

Ia mencontohkan kondisi ketika daya beli masyarakat sedang melemah. Insentif yang diberikan pada saat tersebut belum tentu mampu mendorong permintaan secara optimal.

Selain momentum, dukungan pemerintah dan stabilitas politik juga menjadi faktor penting bagi industri properti. Pasalnya, properti merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan kepastian dan likuiditas.

"Properti itu sangat relate sama government dan politik. Karena property itu long term investment," katanya.

Meski demikian, Ishak menilai pelaku usaha tidak bisa hanya menunggu faktor eksternal. Ada hal-hal yang dapat dikendalikan dan ada pula yang berada di luar kendali.

Menurutnya, pemerintah, kondisi politik, serta permintaan dan pasokan merupakan faktor yang sulit dikendalikan pelaku usaha. Sebaliknya, strategi perusahaan, riset dan keputusan bisnis merupakan hal yang dapat dipersiapkan.

Karena itu, pelaku bisnis perlu jeli melihat peluang di tengah perubahan pasar.

"Property lagi turun, belum tentu semua sektor dan subsektor itu turun. Pasti ada naiknya. Kayak sekarang, property lagi turun, lagi stagnant, tapi data center lagi naik. Logistik lagi naik. Jadi sebagai pebisnis, harus pandai melihat peluang," ujarnya.

Dari pengalaman pribadi menjadi misi sosial

Di luar perjalanan bisnis, Bermain di Papan Besar juga mengungkap sisi personal Ishak yang selama ini tidak banyak diketahui publik.

Dalam Bab 24 berjudul "Dari Luka Sendiri ke Misi untuk Semua", Ishak menceritakan pengalaman pribadi yang kemudian menjadi salah satu alasan lahirnya misi sosial melalui Yayasan Sinergy Bangun Indonesia atau Sinergy Indonesia.

Ishak saat ini menjabat sebagai Ketua Umum yayasan tersebut. Melalui program Agent of Hope, misi sosial tersebut diarahkan untuk membuka akses lebih luas bagi anak muda Indonesia, terutama dalam pendidikan dan kesempatan kerja.

Komitmen itu juga diwujudkan melalui buku yang ditulisnya. Ishak memutuskan tidak mengambil keuntungan pribadi dari penjualan Bermain di Papan Besar.

Seluruh keuntungan dari penjualan buku akan disalurkan untuk mendukung program Agent of Hope, termasuk beasiswa dan akses kerja bagi generasi muda Indonesia.

Buku tersebut juga menghadirkan perspektif dari berbagai lingkaran kehidupan Ishak. Sejumlah tokoh seperti Sandiaga Uno, Merry Riana, Helmy Yahya, Bong Chandra dan James Gwee turut memberikan kesaksian dan cerita.

Selain tokoh publik dan praktisi bisnis, buku tersebut juga menghadirkan perspektif istri dan kedua anak Ishak. Dengan demikian, sosok Ishak tidak hanya digambarkan sebagai eksekutif dan pengusaha, tetapi juga sebagai suami, ayah, sahabat, mentor dan rekan kerja.

Bagi Ishak, perjalanan 33 tahun tersebut pada akhirnya bukan sekadar catatan tentang bagaimana membangun perusahaan. Lebih dari itu, pengalaman menghadapi kehilangan, kegagalan, perubahan pasar dan berbagai titik balik menjadi pelajaran yang ingin dibagikan kepada generasi berikutnya.

Melalui Bermain di Papan Besar, Ishak ingin menunjukkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berjalan lurus. Ada masa ketika seseorang berada di titik terendah, tetapi dari titik tersebut pula peluang untuk kembali bangkit dan bermain di level yang lebih besar dapat terbentuk

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(KIE)

MOST SEARCH