NEWS

Masuki Usia 39 Tahun, LippoLand Bidik Beragam Segmen Hunian

Rizkie Fauzian
Jumat 02 Oktober 2026 / 15:47
Ringkasnya gini..
  • LippoLand memasuki usia 39 tahun dengan memperluas peran bisnis dari pengembang kawasan menjadi property enabler di Indonesia.
  • Perusahaan membidik kebutuhan hunian dari berbagai segmen, mulai dari rumah terjangkau hingga pasar menengah dengan harga sekitar Rp1 miliar-Rp2 miliar.
  • LippoLand menyiapkan Brentwood Villas di tujuh lokasi sebagai bagian dari strategi pengembangan produk dan penyesuaian terhadap perubahan kebutuhan konsumen.
Jakarta: Memasuki 39 tahun di industri properti Indonesia, LippoLand memperluas strategi bisnisnya dari pengembang kawasan menjadi property enabler. Perusahaan berupaya memanfaatkan pengalaman yang dimiliki untuk menjangkau kebutuhan hunian dari berbagai segmen, di tengah masih besarnya kebutuhan perumahan di Indonesia.

Perjalanan LippoLand dimulai pada 1987 melalui pembangunan Lippo City dan kemudian Lippo Village. Selama hampir empat dekade, perusahaan mengembangkan berbagai kawasan dan produk properti untuk sejumlah segmen pasar.

CEO LippoLand David Iman Santosa mengatakan perjalanan tersebut menjadi dasar bagi perusahaan untuk terus menyesuaikan bisnis dengan perubahan kebutuhan masyarakat.

“Selama 39 tahun, LippoLand tumbuh bersama Indonesia. Karena itu, kami tidak hanya ingin melihat bagaimana industri properti berkembang, tetapi juga bagaimana kami dapat tetap relevan dan memberikan kontribusi terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk dalam persoalan perumahan,” ujar David dalam keterangan tertulis, Jumat, 2 Oktober 2026.

Bidik Kebutuhan Hunian yang Lebih Terjangkau

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian industri properti adalah masih besarnya kebutuhan terhadap hunian. LippoLand menyebut angka backlog kepemilikan rumah di Indonesia masih sekitar 9 juta keluarga.

Menurut David, kondisi tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pengembang, perbankan, pemerintah, hingga pemangku kepentingan lain dalam ekosistem perumahan.

LippoLand mencoba mengambil bagian melalui pengembangan hunian dengan harga mulai sekitar Rp100 juta dan skema cicilan sekitar Rp600 ribu per bulan. Perusahaan menyebut telah menjual sekitar 5.000 unit pada segmen tersebut.

Namun, David menilai kontribusi tersebut masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan perumahan secara nasional.

“Angka backlog sekitar 9 juta keluarga menunjukkan bahwa kebutuhan perumahan di Indonesia masih sangat besar. Kami menyadari bahwa LippoLand tidak mungkin menjawab kebutuhan tersebut sendirian,” katanya.

Selain pengembangan hunian, LippoLand juga menyebut kontribusi berupa penghibahan lahan sekitar 30 hektare di kawasan Lippo Cikarang kepada negara sebagai bagian dari kontribusi perusahaan terhadap kebutuhan masyarakat dan kepentingan yang lebih luas.

Kemitraan Jadi Bagian dari Ekosistem Bisnis

Perubahan peran menjadi property enabler juga membuat LippoLand menempatkan kemitraan sebagai bagian penting dalam pengembangan bisnis.

Perusahaan bekerja dengan berbagai pihak dalam pengembangan kawasan, mulai dari perbankan, konsultan, tenaga penjual, perencana, kontraktor, hingga penyedia layanan kota.

David mengatakan hubungan dengan mitra tidak hanya berkaitan dengan transaksi bisnis, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem yang mendukung pengembangan kawasan.
 

“LippoLand tumbuh bersama banyak partner. Ada perbankan yang membantu menyediakan pembiayaan, konsultan dan tenaga penjual yang membantu kami memahami serta melayani konsumen, para perencana dan kontraktor yang menerjemahkan konsep menjadi kawasan dan bangunan, hingga penyedia pelayanan kota yang memastikan kawasan dapat terus hidup dan berkembang,” ujarnya.

Di sisi internal, perusahaan juga menilai pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian dari keberlanjutan bisnis.

“Ke dalam, kami juga ingin membangun insan LippoLand menjadi manusia yang holistik, dengan value, akhlak, dan integritas yang tidak hanya tercermin dalam pekerjaan, tetapi juga dalam kehidupannya. Karena pada akhirnya, perusahaan dibangun oleh manusia,” kata David.

Dari sisi kinerja, LippoLand mencatat pra-penjualan sebesar Rp5,32 triliun pada 2025 dengan penjualan 6.047 unit. Portofolio perusahaan mencakup berbagai segmen, mulai dari Essential dan Affordable hingga Premium dan Ultra Luxury.

Segmen Menengah Jadi Salah Satu Pasar yang Dibidik

Selain hunian terjangkau, LippoLand melihat peluang pada pasar hunian menengah dengan rentang harga sekitar Rp1 miliar hingga di bawah Rp2 miliar.

David mengatakan persaingan pada segmen tersebut cukup ketat karena banyak pengembang bermain di pasar yang sama. Karena itu, perusahaan berupaya menggabungkan pengalaman pengembangan selama 39 tahun dengan aspek desain, kualitas, harga, serta pilihan pembiayaan.

“Di market Rp1 miliar sampai di bawah Rp2 miliar, hampir semua pengembang bermain. Karena itu, kami harus kreatif dan menggunakan kembali seluruh pengalaman 39 tahun kami dalam menyediakan hunian,” ujar David.

Salah satu produk yang disiapkan untuk segmen tersebut adalah Brentwood Villas yang akan diperkenalkan di tujuh lokasi di Indonesia.

Produk tersebut dikembangkan dengan konsep hunian vertikal untuk keluarga multigenerasi. LippoLand memadukan konfigurasi dua dan tiga lantai dengan pembagian fungsi ruang yang disesuaikan dengan kebutuhan anggota keluarga.

Untuk pengembangannya, LippoLand menggandeng Alex Bayu dari Genius Loci sebagai home designer dan Stephen Flynn dari Sheils Flynn Asia sebagai landscape designer.

Menurut perusahaan, pendekatan tersebut merupakan bagian dari proses continuous improvement atau Kaizen yang diterapkan dalam pengembangan produk.

CMO LippoLand Jopy Rusli mengatakan perubahan kebutuhan konsumen membuat hunian tidak lagi hanya dipertimbangkan berdasarkan luas dan lokasi.

“Rumah saat ini tidak lagi hanya dinilai dari luas atau lokasinya. Konsumen semakin mempertimbangkan bagaimana sebuah rumah mendukung kehidupan sehari-hari,” ujar Jopy.

Brentwood Villas akan dikembangkan di tujuh lokasi dengan karakter pasar dan komunitas yang berbeda. Meski demikian, LippoLand menyebut setiap lokasi akan membawa filosofi desain dan standar kualitas yang sama.

Memasuki Babak Baru Bisnis Properti

Pengembangan berbagai segmen tersebut menjadi bagian dari upaya LippoLand memperluas peran perusahaan di industri properti. Pengalaman selama 39 tahun digunakan sebagai modal untuk mengembangkan produk, memperluas kemitraan, serta menyesuaikan strategi dengan kebutuhan pasar.

Bagi perusahaan, perubahan dari pengembang kawasan menjadi property enabler tidak hanya berkaitan dengan penambahan produk, tetapi juga bagaimana membangun ekosistem yang melibatkan konsumen, mitra bisnis, pemerintah, perbankan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dengan strategi tersebut, LippoLand memasuki usia ke-39 dengan fokus pada pengembangan hunian lintas segmen, penguatan kemitraan, inovasi produk, serta penyesuaian terhadap perubahan kebutuhan konsumen di pasar properti Indonesia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(KIE)

MOST SEARCH