NEWS
Perusahaan Makin Selektif Pilih Hunian Ekspatriat
Rizkie Fauzian
Selasa 22 September 2026 / 14:43
- Pergerakan nilai tukar rupiah membuat perusahaan multinasional semakin selektif dalam menentukan hunian bagi tenaga kerja ekspatriat di Jakarta.
- Kesenjangan antara asumsi nilai tukar perusahaan dan kurs pasar mendorong sebagian perusahaan mempertimbangkan unit lebih kecil, lokasi alternatif, atau apartemen.
- Colliers memperkirakan permintaan hunian ekspatriat tetap positif hingga jangka menengah, meski aktivitas sewa akan dipengaruhi kemampuan anggaran dan harga yang ditetapkan pemilik properti.
Jakarta: Pasar hunian ekspatriat di Jakarta memasuki fase baru pada semester I-2026. Permintaan hunian didukung oleh pelaksanaan sejumlah proyek investasi berskala besar di sektor energi, pertambangan, teknologi, dan industri.
Menurut laporan Colliers Indonesia, kondisi tersebut mendorong kebutuhan hunian bagi tenaga profesional ekspatriat. Namun, keputusan perusahaan dalam memilih akomodasi semakin dipengaruhi oleh kondisi nilai tukar dan kemampuan anggaran.
Perusahaan multinasional mulai mengevaluasi kembali kebutuhan hunian dengan mempertimbangkan lokasi, ukuran unit, jenis akomodasi, serta kesesuaian antara biaya dan manfaat yang diperoleh.
Volatilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasar hunian ekspatriat Jakarta. Depresiasi rupiah membuat anggaran perusahaan yang menetapkan tunjangan hunian dalam rupiah memiliki daya beli lebih rendah, sementara sebagian pemilik properti premium masih menetapkan harga sewa dalam dolar AS.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan perusahaan tidak serta-merta mengurangi kebutuhan hunian ekspatriat akibat tekanan nilai tukar. Namun, perusahaan menjadi lebih selektif dalam menentukan jenis properti yang sesuai dengan anggaran.
“Tekanan nilai tukar memengaruhi jenis hunian yang secara realistis dapat diperoleh perusahaan dengan anggaran yang tersedia di Jakarta. Perusahaan tidak serta-merta mengurangi kebutuhannya, tetapi menjadi semakin selektif dalam mempertimbangkan lokasi, ukuran unit, serta kesepadanan antara biaya dan manfaat yang ditawarkan,” ujar Ferry dikutip dari laporan, Selasa, 22 September 2026.
Laporan Pasar Hunian Ekspatriat Jakarta Semester I 2026 Colliers mencatat adanya kesenjangan antara asumsi nilai tukar yang digunakan dalam anggaran perusahaan dan nilai tukar pasar selama periode pelaporan.
Sejumlah perusahaan menggunakan asumsi nilai tukar sekitar Rp16.000-Rp16.800 per dolar AS dalam penyusunan anggaran. Sementara itu, nilai tukar pasar berada di kisaran Rp17.900-Rp18.000 per dolar AS.
Perbedaan tersebut dapat memengaruhi kemampuan perusahaan dalam memperoleh hunian yang sesuai dengan anggaran. Sejumlah perusahaan kemudian mempertimbangkan unit dengan ukuran lebih kecil, memperluas lokasi pencarian, atau beralih dari rumah tapak ke apartemen.
Head of Residential Services Colliers Indonesia Lenny van Es-Sinaga mengatakan ekspatriat semakin menghadapi tantangan dalam mendapatkan properti yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran.
“Ekspatriat semakin kesulitan mendapatkan properti yang mereka inginkan. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh terbatasnya ketersediaan, tetapi juga oleh pergerakan nilai tukar yang mendorong biaya sewa melampaui anggaran yang telah dialokasikan,” kata Lenny.
Menurut dia, permintaan hunian ekspatriat masih tinggi, khususnya untuk rumah tapak, baik yang berada di dalam maupun di luar kompleks perumahan. Di sisi lain, pemilik properti berkualitas tinggi cenderung mempertahankan harga sewa sehingga ruang untuk negosiasi penurunan harga menjadi terbatas.
Kondisi tersebut membuat proses pencarian dan penyewaan hunian menjadi lebih selektif dan dalam sejumlah kasus membutuhkan waktu lebih panjang.
Langkah tersebut antara lain dengan meningkatkan penggunaan apartemen berlayanan, memperluas wilayah pencarian properti, serta mengevaluasi kembali kesesuaian antara biaya dan manfaat setiap hunian.
Colliers memperkirakan permintaan hunian ekspatriat tetap positif sepanjang semester II 2026 hingga jangka menengah. Proyek-proyek investasi yang menjadi pendorong arus masuk tenaga profesional memiliki periode pengembangan dan operasional yang panjang sehingga kebutuhan hunian diperkirakan tetap terbentuk.
Meski demikian, aktivitas penyewaan ke depan akan dipengaruhi oleh kesenjangan antara kemampuan anggaran perusahaan dan ekspektasi harga pemilik properti.
Pemilik hunian berkualitas tinggi dan telah direnovasi masih memiliki posisi tawar yang kuat karena ketersediaan properti yang sesuai dengan kebutuhan ekspatriat relatif terbatas.
(KIE)
Menurut laporan Colliers Indonesia, kondisi tersebut mendorong kebutuhan hunian bagi tenaga profesional ekspatriat. Namun, keputusan perusahaan dalam memilih akomodasi semakin dipengaruhi oleh kondisi nilai tukar dan kemampuan anggaran.
Perusahaan multinasional mulai mengevaluasi kembali kebutuhan hunian dengan mempertimbangkan lokasi, ukuran unit, jenis akomodasi, serta kesesuaian antara biaya dan manfaat yang diperoleh.
Volatilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasar hunian ekspatriat Jakarta. Depresiasi rupiah membuat anggaran perusahaan yang menetapkan tunjangan hunian dalam rupiah memiliki daya beli lebih rendah, sementara sebagian pemilik properti premium masih menetapkan harga sewa dalam dolar AS.
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan perusahaan tidak serta-merta mengurangi kebutuhan hunian ekspatriat akibat tekanan nilai tukar. Namun, perusahaan menjadi lebih selektif dalam menentukan jenis properti yang sesuai dengan anggaran.
“Tekanan nilai tukar memengaruhi jenis hunian yang secara realistis dapat diperoleh perusahaan dengan anggaran yang tersedia di Jakarta. Perusahaan tidak serta-merta mengurangi kebutuhannya, tetapi menjadi semakin selektif dalam mempertimbangkan lokasi, ukuran unit, serta kesepadanan antara biaya dan manfaat yang ditawarkan,” ujar Ferry dikutip dari laporan, Selasa, 22 September 2026.
Anggaran dan harga sewa makin berjarak
Perusahaan selektif pilih apartemen untuk ekspatriat. Foto: Freepik
Laporan Pasar Hunian Ekspatriat Jakarta Semester I 2026 Colliers mencatat adanya kesenjangan antara asumsi nilai tukar yang digunakan dalam anggaran perusahaan dan nilai tukar pasar selama periode pelaporan.
Sejumlah perusahaan menggunakan asumsi nilai tukar sekitar Rp16.000-Rp16.800 per dolar AS dalam penyusunan anggaran. Sementara itu, nilai tukar pasar berada di kisaran Rp17.900-Rp18.000 per dolar AS.
Perbedaan tersebut dapat memengaruhi kemampuan perusahaan dalam memperoleh hunian yang sesuai dengan anggaran. Sejumlah perusahaan kemudian mempertimbangkan unit dengan ukuran lebih kecil, memperluas lokasi pencarian, atau beralih dari rumah tapak ke apartemen.
Head of Residential Services Colliers Indonesia Lenny van Es-Sinaga mengatakan ekspatriat semakin menghadapi tantangan dalam mendapatkan properti yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran.
“Ekspatriat semakin kesulitan mendapatkan properti yang mereka inginkan. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh terbatasnya ketersediaan, tetapi juga oleh pergerakan nilai tukar yang mendorong biaya sewa melampaui anggaran yang telah dialokasikan,” kata Lenny.
Menurut dia, permintaan hunian ekspatriat masih tinggi, khususnya untuk rumah tapak, baik yang berada di dalam maupun di luar kompleks perumahan. Di sisi lain, pemilik properti berkualitas tinggi cenderung mempertahankan harga sewa sehingga ruang untuk negosiasi penurunan harga menjadi terbatas.
Kondisi tersebut membuat proses pencarian dan penyewaan hunian menjadi lebih selektif dan dalam sejumlah kasus membutuhkan waktu lebih panjang.
Perusahaan mulai terapkan strategi hunian fleksibel
Tekanan terhadap anggaran tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan perusahaan terhadap hunian ekspatriat. Perusahaan justru mulai menerapkan strategi yang lebih fleksibel dalam memilih akomodasi.Langkah tersebut antara lain dengan meningkatkan penggunaan apartemen berlayanan, memperluas wilayah pencarian properti, serta mengevaluasi kembali kesesuaian antara biaya dan manfaat setiap hunian.
Colliers memperkirakan permintaan hunian ekspatriat tetap positif sepanjang semester II 2026 hingga jangka menengah. Proyek-proyek investasi yang menjadi pendorong arus masuk tenaga profesional memiliki periode pengembangan dan operasional yang panjang sehingga kebutuhan hunian diperkirakan tetap terbentuk.
Meski demikian, aktivitas penyewaan ke depan akan dipengaruhi oleh kesenjangan antara kemampuan anggaran perusahaan dan ekspektasi harga pemilik properti.
Pemilik hunian berkualitas tinggi dan telah direnovasi masih memiliki posisi tawar yang kuat karena ketersediaan properti yang sesuai dengan kebutuhan ekspatriat relatif terbatas.
(KIE)