NEWS

Green Office Jadi Incaran, Okupansi Kantor CBD Jakarta Capai 80 Persen

Rizkie Fauzian
Jumat 07 Agustus 2026 / 16:30
Ringkasnya gini..
  • Okupansi ruang kantor di CBD Jakarta naik tipis menjadi 80 persen pada paruh pertama 2026.
  • Green office yang menyumbang 37 persen stok perkantoran CBD Jakarta menarik 41 persen tenant baru
  • Harga sewa kantor di CBD Jakarta meningkat 3 persen secara tahunan di tengah tren relokasi tenant.
Jakarta: Pasar perkantoran di kawasan central business district (CBD) Jakarta mulai menunjukkan pemulihan pada paruh pertama 2026. Tingkat hunian ruang kantor meningkat meski masih berlangsung secara bertahap, sementara harga sewa juga mencatat pertumbuhan.

Sektor perkantoran menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kinerja properti komersial. Perkembangannya tidak hanya mencerminkan kondisi pasar properti, tetapi juga berkaitan dengan aktivitas investasi, ekspansi bisnis, dan penciptaan lapangan kerja.

Pada paruh pertama 2026, transaksi sewa ruang kantor tidak hanya berasal dari tenant lama, tetapi juga penyewa baru dari perusahaan lokal maupun global. Sementara itu, tenant pemerintah menjadi salah satu kelompok yang cukup dominan dalam menyerap ruang kantor di CBD Jakarta.

Tren relokasi juga semakin terlihat di pasar perkantoran. Kondisi tersebut sejalan dengan strategi flight to quality, ketika perusahaan mempertimbangkan kualitas bangunan, lokasi, akses, serta fasilitas dalam memilih ruang kantor.

Gedung dengan kualitas dan akses premium, ditambah fleksibilitas yang ditawarkan pemilik gedung atau landlord, menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan occupier.

Green office tarik banyak tenant baru

Konsep green office menjadi salah satu daya tarik dalam persaingan pasar perkantoran CBD Jakarta. Stok green office tercatat mencapai 37 persen dari total stok perkantoran di CBD Jakarta.

Senior Research Advisor di Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan meskipun porsinya belum mencapai separuh dari total stok, gedung dengan konsep tersebut mampu menarik sekitar 41 persen tenant baru di CBD Jakarta.

"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aspek keberlanjutan dan ketersediaan fasilitas hijau mulai menjadi salah satu pertimbangan perusahaan ketika memilih ruang kantor," jelas dia dalam laporan, dikutip Jumat, 7 Agustus 2026.
   

Okupansi kantor CBD Jakarta bapai 80 persen

Berdasarkan pembaruan pasar perkantoran CBD Jakarta, pasokan ruang kantor masih berada di kisaran 7.326.495 meter persegi.

Tingkat hunian atau okupansi menunjukkan pemulihan secara bertahap dan meningkat tipis menjadi 80 persen. Sementara itu, rata-rata harga sewa ruang kantor menguat 3 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Serapan ruang kantor sepanjang 2025 tercatat mencapai 47.466 meter persegi. Sejumlah sektor yang berpotensi menjadi penyewa ruang kantor antara lain pemerintahan, pertambangan dan minyak, teknologi informasi, logistik, serta sektor terkait energi.

Dari sisi pasokan, stok ruang kantor di CBD Jakarta relatif tetap dalam tiga tahun terakhir. Penambahan pasokan baru diperkirakan baru kembali terjadi pada 2028.

Fleksibilitas jadi faktor pembeda

Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip mengatakan fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan green amenities akan menjadi faktor pembeda di pasar perkantoran.

"Ke depan, flexibility dan adaptasi terhadap kualitas green amenities menjadi faktor pembeda. Dengan pasokan yang masih akan tetap dalam dua tahun ke depan maka tren pemulihan performa perkantoran CBD berpotensi berlanjut, tentu didukung stabilitas sosial dan ekonomi yang lebih kondusif," ujar Willson.

Menurut dia, kondisi pasokan yang relatif terbatas dalam beberapa tahun ke depan dapat mendukung kelanjutan pemulihan pasar perkantoran CBD Jakarta. Namun, perkembangan tersebut tetap bergantung pada stabilitas sosial dan ekonomi serta kemampuan gedung perkantoran dalam memenuhi kebutuhan penyewa.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KIE)

MOST SEARCH