Biaya Renovasi Kantor di Asia Pasifik Naik, Jakarta Lebih Kompetitif
- Biaya penataan kantor Asia Pasifik naik 2-5 persen menjadi rata-rata US$1.550 per meter persegi akibat tekanan tenaga kerja, material, dan ketidakpastian global.
- Jakarta masih lebih kompetitif dalam biaya office fit-out dibandingkan Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok.
- Kebutuhan kantor berkelanjutan meningkat, dengan 88 persen pasar Asia Pasifik melaporkan kenaikan permintaan terhadap proyek sustainable fit-out.
Jakarta: Biaya penataan ulang kantor (office fit-out) di kawasan Asia Pasifik terus meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Keterbatasan tenaga kerja, tekanan harga material, hingga meningkatnya kompleksitas sistem mekanikal, elektrikal, dan teknologi bangunan menjadi sejumlah faktor yang mendorong kenaikan biaya.
Hal tersebut terungkap dalam Asia Pacific Office Fit-Out Costs Guide 2026 yang diterbitkan JLL. Panduan tersebut memuat tren pasar dan faktor yang memengaruhi biaya penataan ulang kantor di 27 kota pada 14 negara di kawasan Asia Pasifik.
Laporan itu menunjukkan rata-rata biaya office fit-out di Asia Pasifik mencapai USD1.550 per meter persegi, dengan kenaikan sekitar 2-5 persen secara tahunan.
Executive Managing Director, Project & Development Services (PDS) JLL Asia Pacific, Martin Hinge mengatakan biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik memiliki perbedaan yang cukup besar antarnegara maupun kota.
"Biaya penataan ulang kantor di Asia Pasifik menunjukkan variasi yang lebih beragam dibandingkan kawasan lain. Jepang, Singapura, Australia, dan Selandia Baru memiliki biaya renovasi yang lebih tinggi dibandingkan kota di negara lainnya. Ini menunjukkan terbatasnya ketersediaan tenaga kerja serta standar kualitas bangunan yang tinggi," ujar Martin dalam laporan dikutip Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurut dia, India, Tiongkok, dan sejumlah negara di Asia Tenggara masih menawarkan biaya yang relatif kompetitif. Namun, kondisi tersebut dalam banyak kasus dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar, bukan semata-mata penurunan biaya produksi.
Baca Juga :
Investasi Properti Asia Pasifik Cetak Rekor
"Terbatasnya jumlah proyek yang berjalan serta meningkatnya persaingan di sejumlah pasar membuat harga semakin kompetitif. Karena itu, analisis pada tingkat kota menjadi jauh lebih relevan dibandingkan sekadar melihat rata-rata kawasan," katanya.
Jakarta lebih kompetitif
Dibandingkan sejumlah kota utama di Asia Tenggara, Jakarta memiliki biaya penataan ulang kantor yang lebih rendah dibandingkan Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok.
Head of Office Leasing Advisory, JLL Indonesia, Rosari Chia mengatakan perbandingan biaya antar kota dapat menjadi referensi bagi perusahaan dalam menentukan strategi investasi dan pengadaan.
"Jakarta masih menjadi salah satu pasar perkantoran strategis di Asia Tenggara. Perbandingan biaya penataan ulang kantor Jakarta dengan kota-kota utama lainnya di kawasan memberikan referensi bagi perusahaan dalam menentukan prioritas, strategi pengadaan, serta perencanaan ruang kerja yang selaras dengan kondisi pasar," ujar Rosari.
Laporan JLL juga menunjukkan komposisi biaya office fit-out berbeda di setiap negara Asia Pasifik. Di Indonesia, layanan mekanikal dan elektrikal (M&E) menjadi komponen dengan porsi biaya terbesar, diikuti pekerjaan konstruksi. Sementara itu, jasa profesional menjadi komponen dengan porsi biaya terendah.
Head of Cost Advisory & Cost Management, Project & Development Services (PDS), Asia Pacific, JLL, Daniel Malacchini mengatakan analisis berbasis kota semakin penting dalam mendukung keputusan investasi dan pemilihan lokasi.
"Kami melihat hal ini mendorong diskusi dengan banyak perusahaan yang mempertimbangkan dampak geopolitik dan akses terhadap rantai pasok saat mengevaluasi risiko biaya proyek serta upaya mitigasi yang diperlukan," katanya.
Ketidakpastian pengaruhi biaya
Ketidakpastian geopolitik turut meningkatkan risiko biaya proyek. Konflik yang berlangsung di Timur Tengah berdampak terhadap volatilitas pasar energi global, sementara negara-negara Asia Pasifik memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap impor energi, petrokimia, serta material yang membutuhkan energi besar dalam produksinya.
Sebanyak 68 persen pemimpin fungsi biaya di Asia Pasifik menyebut tekanan harga baja dan tembaga sebagai perhatian utama. Selain itu, volatilitas nilai tukar turut menciptakan distorsi biaya dan mendorong kontraktor menyesuaikan premi risiko.
JLL menilai perusahaan multinasional perlu menggunakan analisis dua mata uang (dual-currency analysis) serta strategi pengadaan yang mempertimbangkan kondisi pasar lokal untuk mengurangi risiko kesalahan dalam penyusunan anggaran.
Di sisi lain, kebutuhan terhadap kantor yang berkelanjutan dan berkinerja tinggi juga semakin meningkat. Sebanyak 88 persen pasar di Asia Pasifik melaporkan peningkatan permintaan terhadap proyek sustainable fit-out. Sementara itu, 46 persen organisasi secara aktif menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi konsumsi energi.
Director, Research and Strategy, Work Dynamics, Asia Pacific, JLL, Shweta Choudhari, mengatakan proyek penataan ulang kantor kini semakin kompleks.
"Meskipun situasi ekonomi mulai beranjak stabil di beberapa wilayah sepanjang 2025 hingga awal 2026, tantangan makro ekonomi global dan regional masih memengaruhi prediktabilitas biaya, kelayakan konstruksi, serta pelaksanaan proyek di tingkat lokal," ujar Shweta.
Menurut dia, pemahaman terhadap dinamika pasar di tingkat lokal menjadi penting untuk memastikan keberhasilan perencanaan proyek sekaligus rencana finansial perusahaan.
(KIE)