NEWS
Permintaan Ruang Terus Terpantau, Pasar Perkantoran Jakarta Pulih Bertahap
Rizkie Fauzian
Jumat 21 Agustus 2026 / 19:53
- Pasar perkantoran Jakarta mulai pulih secara bertahap, terutama didorong aktivitas relokasi perusahaan dan meningkatnya kebutuhan terhadap ruang kantor berkualitas.
- Okupansi perkantoran CBD Jakarta mencapai 76 persen pada kuartal II 2026, sementara gedung premium mencatat tingkat hunian sekitar 83 persen.
- Sekitar 3 juta meter persegi ruang kantor masih kosong di Jakarta, sehingga pemilik gedung masih menawarkan fleksibilitas sewa dan berbagai insentif untuk menarik penyewa.
Jakarta: Pasar perkantoran Jakarta mulai menunjukkan pemulihan secara bertahap. Berdasarkan laporan terbaru Colliers, perbaikan tersebut terutama didorong aktivitas relokasi perusahaan dan meningkatnya kebutuhan terhadap ruang kantor berkualitas.
Pemulihan pasar masih berlangsung selektif. Aktivitas penyewa lebih banyak mencerminkan penyesuaian luas dan peningkatan kualitas ruang dibandingkan ekspansi bisnis secara masif.
Kepala Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan penyewa kini semakin selektif dalam menentukan ruang kantor. Faktor kualitas bangunan dan kemudahan operasional menjadi pertimbangan selain harga dan fleksibilitas sewa.
“Semakin selektifnya penyewa dalam mengambil keputusan, pemulihan pasar perkantoran Jakarta juga didorong oleh kebutuhan kualitas, bukan semata-mata oleh harga. Gedung-gedung yang berpotensi pulih lebih cepat adalah gedung yang menawarkan struktur sewa yang fleksibel, ruang siap pakai, kemudahan akses transportasi publik, serta kredensial keberlanjutan,” ujar Ferry dalam keterangan tertulis, Jumat, 21 Agustus 2026.
Gedung kategori premium mencatat kinerja lebih baik dengan tingkat okupansi sekitar 83 persen. Kondisi ini menunjukkan permintaan terhadap ruang kantor berkualitas tinggi masih cukup kuat.
Sementara itu, tingkat hunian perkantoran di luar CBD secara perlahan mendekati 70 persen. Jakarta masih memiliki sekitar 3 juta meter persegi ruang perkantoran yang belum terserap. Hampir 60 persen dari ruang kosong tersebut berada di kawasan CBD. Ketersediaan ruang yang besar membuat posisi penyewa masih cukup kuat. Kondisi tersebut mendorong pemilik gedung menawarkan berbagai skema untuk menarik penyewa, mulai dari struktur sewa yang lebih fleksibel, periode bebas sewa, dukungan fit-out, hingga insentif komersial lainnya.
Total pasokan ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta masih berada di kisaran 7,4 juta meter persegi pada kuartal II 2026. Terbatasnya pasokan baru dalam beberapa tahun ke depan memberikan peluang bagi pasar untuk menyerap ruang kosong yang tersedia.
Perubahan perilaku penyewa juga mulai terlihat. Selain mempertimbangkan harga dan fleksibilitas sewa, perusahaan semakin memperhatikan kesiapan ruang kerja, akses transportasi publik, serta penerapan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG).
Gedung yang mampu mempercepat proses relokasi, menyediakan ruang siap pakai, serta mendukung keberlanjutan operasional dinilai memiliki posisi lebih baik dalam menarik permintaan.
Colliers memperkirakan permintaan ruang perkantoran Jakarta masih akan meningkat hingga akhir 2026. Permintaan terutama diperkirakan datang dari sektor logistik, energi, financial technology (fintech), serta perusahaan lokal dan asing.
Namun, kondisi pasar yang masih berpihak kepada penyewa membuat pemilik gedung perlu mempertahankan fleksibilitas, meningkatkan aksesibilitas, memperkuat aspek keberlanjutan, serta menawarkan efisiensi biaya okupansi untuk menarik lebih banyak penyewa.
(KIE)
Pemulihan pasar masih berlangsung selektif. Aktivitas penyewa lebih banyak mencerminkan penyesuaian luas dan peningkatan kualitas ruang dibandingkan ekspansi bisnis secara masif.
Kepala Riset Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan penyewa kini semakin selektif dalam menentukan ruang kantor. Faktor kualitas bangunan dan kemudahan operasional menjadi pertimbangan selain harga dan fleksibilitas sewa.
“Semakin selektifnya penyewa dalam mengambil keputusan, pemulihan pasar perkantoran Jakarta juga didorong oleh kebutuhan kualitas, bukan semata-mata oleh harga. Gedung-gedung yang berpotensi pulih lebih cepat adalah gedung yang menawarkan struktur sewa yang fleksibel, ruang siap pakai, kemudahan akses transportasi publik, serta kredensial keberlanjutan,” ujar Ferry dalam keterangan tertulis, Jumat, 21 Agustus 2026.
Okupansi kantor mulai meningkat
Meski tingkat kekosongan masih tinggi, rerata tingkat okupansi perkantoran di kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD) Jakarta tercatat sekitar 76 persen pada kuartal II 2026.Gedung kategori premium mencatat kinerja lebih baik dengan tingkat okupansi sekitar 83 persen. Kondisi ini menunjukkan permintaan terhadap ruang kantor berkualitas tinggi masih cukup kuat.
Sementara itu, tingkat hunian perkantoran di luar CBD secara perlahan mendekati 70 persen. Jakarta masih memiliki sekitar 3 juta meter persegi ruang perkantoran yang belum terserap. Hampir 60 persen dari ruang kosong tersebut berada di kawasan CBD. Ketersediaan ruang yang besar membuat posisi penyewa masih cukup kuat. Kondisi tersebut mendorong pemilik gedung menawarkan berbagai skema untuk menarik penyewa, mulai dari struktur sewa yang lebih fleksibel, periode bebas sewa, dukungan fit-out, hingga insentif komersial lainnya.
Pasokan baru terbatas
Dari sisi pasokan, tidak adanya gedung baru yang selesai dibangun pada semester pertama 2026 turut membantu proses stabilisasi pasar.Total pasokan ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta masih berada di kisaran 7,4 juta meter persegi pada kuartal II 2026. Terbatasnya pasokan baru dalam beberapa tahun ke depan memberikan peluang bagi pasar untuk menyerap ruang kosong yang tersedia.
Perubahan perilaku penyewa juga mulai terlihat. Selain mempertimbangkan harga dan fleksibilitas sewa, perusahaan semakin memperhatikan kesiapan ruang kerja, akses transportasi publik, serta penerapan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG).
Gedung yang mampu mempercepat proses relokasi, menyediakan ruang siap pakai, serta mendukung keberlanjutan operasional dinilai memiliki posisi lebih baik dalam menarik permintaan.
Colliers memperkirakan permintaan ruang perkantoran Jakarta masih akan meningkat hingga akhir 2026. Permintaan terutama diperkirakan datang dari sektor logistik, energi, financial technology (fintech), serta perusahaan lokal dan asing.
Namun, kondisi pasar yang masih berpihak kepada penyewa membuat pemilik gedung perlu mempertahankan fleksibilitas, meningkatkan aksesibilitas, memperkuat aspek keberlanjutan, serta menawarkan efisiensi biaya okupansi untuk menarik lebih banyak penyewa.
(KIE)