NEWS
Pola Kerja Fleksibel Ubah Cara Perusahaan Menentukan Kebutuhan Kantor
Rizkie Fauzian
Jumat 25 September 2026 / 15:40
- Perubahan pola kerja mendorong perusahaan mengevaluasi kembali kebutuhan ruang kantor, tidak hanya berdasarkan jumlah karyawan tetapi juga pemanfaatan ruang dan fleksibilitas.
- Strategi tempat kerja berbasis data dapat membantu perusahaan menentukan kebutuhan ruang, termasuk untuk relokasi, perpanjangan sewa, renovasi, hingga konsolidasi kantor.
- Ruang multifungsi dinilai dapat mendukung beragam aktivitas karyawan sekaligus membantu perusahaan mengoptimalkan pemanfaatan ruang kantor.
Jakarta: Perubahan pola kerja membuat perusahaan perlu mengevaluasi kembali kebutuhan ruang kantor. Jika sebelumnya perencanaan kantor lebih banyak didasarkan pada jumlah karyawan dan luas area kerja, kini pemanfaatan ruang serta fleksibilitas menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi tempat kerja.
Karyawan kini membagi waktu kerja untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja secara individual, berkolaborasi, mengikuti rapat, hingga menjalankan sistem kerja fleksibel. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memastikan ruang kantor dapat mengakomodasi beragam aktivitas sekaligus tetap mendukung efisiensi operasional.
Perubahan ekspektasi karyawan juga turut membentuk fungsi kantor. Perusahaan dituntut menciptakan tempat kerja yang mendukung kolaborasi dan kenyamanan karyawan, tanpa mengabaikan efisiensi ruang, produktivitas, dan biaya operasional.
Di Jakarta, perubahan tersebut terlihat dari keputusan sejumlah penyewa untuk melakukan relokasi, menyesuaikan luas ruang, maupun meningkatkan kualitas kantor. Dalam menentukan langkah tersebut, perusahaan tidak hanya perlu menghitung luas ruang yang dibutuhkan, tetapi juga menilai kesesuaiannya dengan pola kerja, kebutuhan karyawan, dan tujuan bisnis jangka panjang.
Head of Project Management Rahmat Daresa Alam mengatakan Workplace Strategy berbasis data dapat membantu perusahaan mengambil keputusan terkait kebutuhan tempat kerja.
“Workplace Strategy berbasis data dapat membantu organisasi menjawab berbagai prioritas tersebut dengan menggabungkan wawasan mengenai kebutuhan karyawan, data okupansi, dan kebutuhan bisnis,” kata Rahmat dalam keterangan tertulis, Jumat, 25 September 2026.
Menurutnya, pendekatan tersebut relevan bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan relokasi, perpanjangan sewa, konsolidasi, renovasi, maupun pertumbuhan tenaga kerja.
Hasil evaluasi kemudian dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi strategis, panduan desain, kebutuhan perencanaan ruang, hingga kerangka pelaksanaan.
Data operasional juga dapat digunakan untuk menentukan alokasi ruang. Misalnya, pola okupansi dapat menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan area kerja. Sementara itu, kebutuhan aktivitas karyawan dapat dipertimbangkan dalam penyediaan ruang kolaborasi, ruang tenang, maupun ruang acara yang fleksibel.
Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan mengurangi kebutuhan ruang yang hanya digunakan untuk satu fungsi. Sebagai gantinya, area multifungsi dapat dirancang untuk mengakomodasi beberapa aktivitas sehingga pemanfaatan ruang dapat dioptimalkan sepanjang minggu.
Bagi pemimpin perusahaan dan pengambil keputusan di bidang real estat korporasi, kebutuhan kantor pun tidak lagi hanya berkaitan dengan pertanyaan mengenai berapa luas ruang yang harus disewa.
Perusahaan juga perlu melihat apakah ruang yang tersedia telah dimanfaatkan secara efektif, mampu mengikuti perubahan pola kerja, serta mendukung prioritas organisasi yang dapat diukur.
Dengan menggabungkan data okupansi, pola kerja, dan kebutuhan operasional, strategi tempat kerja dapat menjadi bagian dari pengambilan keputusan properti korporasi. Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan menyesuaikan ruang kantor dengan perubahan organisasi sekaligus mempertimbangkan efisiensi dan kebutuhan karyawan.
(KIE)
Karyawan kini membagi waktu kerja untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja secara individual, berkolaborasi, mengikuti rapat, hingga menjalankan sistem kerja fleksibel. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memastikan ruang kantor dapat mengakomodasi beragam aktivitas sekaligus tetap mendukung efisiensi operasional.
Perubahan ekspektasi karyawan juga turut membentuk fungsi kantor. Perusahaan dituntut menciptakan tempat kerja yang mendukung kolaborasi dan kenyamanan karyawan, tanpa mengabaikan efisiensi ruang, produktivitas, dan biaya operasional.
Di Jakarta, perubahan tersebut terlihat dari keputusan sejumlah penyewa untuk melakukan relokasi, menyesuaikan luas ruang, maupun meningkatkan kualitas kantor. Dalam menentukan langkah tersebut, perusahaan tidak hanya perlu menghitung luas ruang yang dibutuhkan, tetapi juga menilai kesesuaiannya dengan pola kerja, kebutuhan karyawan, dan tujuan bisnis jangka panjang.
Head of Project Management Rahmat Daresa Alam mengatakan Workplace Strategy berbasis data dapat membantu perusahaan mengambil keputusan terkait kebutuhan tempat kerja.
“Workplace Strategy berbasis data dapat membantu organisasi menjawab berbagai prioritas tersebut dengan menggabungkan wawasan mengenai kebutuhan karyawan, data okupansi, dan kebutuhan bisnis,” kata Rahmat dalam keterangan tertulis, Jumat, 25 September 2026.
Menurutnya, pendekatan tersebut relevan bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan relokasi, perpanjangan sewa, konsolidasi, renovasi, maupun pertumbuhan tenaga kerja.
Evaluasi Pemanfaatan Ruang
Workplace Strategy tidak hanya melihat jumlah karyawan dan luas kantor. Studi tersebut juga mengevaluasi tujuan bisnis, karakteristik tenaga kerja, pola kerja, serta tingkat pemanfaatan ruang secara aktual.Hasil evaluasi kemudian dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi strategis, panduan desain, kebutuhan perencanaan ruang, hingga kerangka pelaksanaan.
Data operasional juga dapat digunakan untuk menentukan alokasi ruang. Misalnya, pola okupansi dapat menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan area kerja. Sementara itu, kebutuhan aktivitas karyawan dapat dipertimbangkan dalam penyediaan ruang kolaborasi, ruang tenang, maupun ruang acara yang fleksibel.
Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan mengurangi kebutuhan ruang yang hanya digunakan untuk satu fungsi. Sebagai gantinya, area multifungsi dapat dirancang untuk mengakomodasi beberapa aktivitas sehingga pemanfaatan ruang dapat dioptimalkan sepanjang minggu.
Bagi pemimpin perusahaan dan pengambil keputusan di bidang real estat korporasi, kebutuhan kantor pun tidak lagi hanya berkaitan dengan pertanyaan mengenai berapa luas ruang yang harus disewa.
Perusahaan juga perlu melihat apakah ruang yang tersedia telah dimanfaatkan secara efektif, mampu mengikuti perubahan pola kerja, serta mendukung prioritas organisasi yang dapat diukur.
Dengan menggabungkan data okupansi, pola kerja, dan kebutuhan operasional, strategi tempat kerja dapat menjadi bagian dari pengambilan keputusan properti korporasi. Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan menyesuaikan ruang kantor dengan perubahan organisasi sekaligus mempertimbangkan efisiensi dan kebutuhan karyawan.
(KIE)