NEWS

Menara Astra dan Masa Depan Gedung Perkantoran yang Efisien

Rizkie Fauzian
Jumat 06 November 2026 / 15:22
Ringkasnya gini..
  • Perusahaan semakin selektif memilih gedung perkantoran dengan mempertimbangkan akses transportasi, fasilitas, dan efisiensi operasional.
  • Menara Astra menerapkan teknologi otomatisasi HVAC yang diproyeksikan menghasilkan penghematan energi rata-rata 10–20 persen.
  • Data Colliers menunjukkan okupansi gedung premium CBD Jakarta mencapai sekitar 83 persen pada kuartal II 2026, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pasar.
Jakarta: Perusahaan semakin selektif dalam menentukan lokasi dan kualitas gedung untuk menunjang aktivitas bisnis. Akses transportasi publik, fasilitas terintegrasi, serta efisiensi operasional dan penerapan prinsip keberlanjutan menjadi pertimbangan yang kian relevan.
 
Perubahan ini menempatkan gedung perkantoran premium seperti Menara Astra dalam konteks kebutuhan penyewa yang tidak lagi hanya berorientasi pada harga sewa.
 
Menara Astra, bagian dari Astra Property, menerapkan teknologi otomatisasi sistem pendingin udara dan ventilasi atau heating, ventilation, and air conditioning (HVAC) untuk mengoptimalkan konsumsi energi bangunan. Teknologi dari BTune tersebut diterapkan melalui kerja sama dengan Colliers Indonesia yang ditandatangani pada 28 September 2026.
 
Berdasarkan cakupan awal proyek, penerapan teknologi ini diperkirakan dapat menghasilkan penghematan energi rata-rata sebesar 10–20 persen. Optimalisasi tersebut juga diharapkan membantu menekan biaya operasional sekaligus mendukung upaya pengurangan jejak karbon.
 
Teknologi BTune terhubung dengan Building Management System (BMS) atau Building Automation System (BAS) yang telah tersedia di Menara Astra. Sistem ini menyesuaikan pengaturan HVAC secara real time berdasarkan kondisi operasional gedung.
 
Penerapannya tidak memerlukan penggantian perangkat HVAC yang sudah ada. Sistem tersebut juga dirancang agar tidak membutuhkan pemrograman ulang secara besar-besaran sehingga gangguan terhadap aktivitas gedung dapat diminimalkan.
 
Selain mengoptimalkan penggunaan energi, teknologi tersebut dapat membantu mengidentifikasi gangguan pada kinerja HVAC. Model penerapannya menggunakan skema berbasis penghematan dan kinerja sehingga tidak membutuhkan investasi awal atau capital expenditure (capex) untuk implementasi teknologi tersebut.
 
BTune menyebut penerapan teknologinya secara lebih luas menghasilkan rata-rata pengurangan konsumsi energi bangunan sebesar 18 persen. Waktu yang dibutuhkan untuk menemukan gangguan pada sistem HVAC juga diklaim dapat berkurang sekitar 30–50 persen.
 
Presiden Direktur PT Menara Astra Wibowo Muljono mengatakan efisiensi sistem HVAC menjadi salah satu perhatian dalam upaya mengurangi jejak karbon sekaligus mempertahankan kenyamanan pengguna gedung.
 
“Implementasi BTune mencerminkan komitmen kami untuk menggunakan teknologi yang praktis dan inovatif agar Menara Astra dapat beroperasi secara lebih efisien dan berkelanjutan,” ujar Wibowo.
 
Sementara itu, Managing Director Colliers Indonesia Mike Broomell mengatakan penerapan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penggunaan solusi keberlanjutan di sektor properti komersial.
 

Preferensi Penyewa Kantor Mulai Berubah

Lobby Menara Astra
Interior Menara Astra. Foto: Astra Property

Penerapan teknologi efisiensi energi di Menara Astra berlangsung ketika pasar perkantoran Jakarta mulai menunjukkan perubahan preferensi penyewa. Senior Associate Director dan Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan aktivitas penyewaan pada kuartal III 2026 mulai membaik, meskipun pemulihan pasar belum berlangsung merata.
 
Menurut Ferry, pertumbuhan perusahaan yang menambah ruang untuk mendukung pertumbuhan bisnis mulai muncul aktif di pasar. Sejumlah sektor yang menunjukkan aktivitas antara lain energi, teknologi informasi, logistik, dan barang konsumsi.
 
Meski demikian, relokasi masih menjadi pendorong utama transaksi. Perusahaan cenderung memanfaatkan kondisi pasar untuk berpindah ke gedung yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan operasional dan kualitas ruang kerja.
 
“Pasarnya memang belum sepenuhnya pulih, tapi arahnya mulai berubah,” ujar Ferry dalam pemaparan perkembangan pasar perkantoran.
 
Berdasarkan laporan Colliers Indonesia, tingkat okupansi perkantoran di kawasan central business district (CBD) Jakarta mencapai 76 persen pada kuartal II 2026.

Sementara itu, gedung perkantoran premium mencatat tingkat okupansi lebih tinggi, yakni sekitar 83 persen. Angka tersebut mencerminkan permintaan yang relatif kuat terhadap gedung dengan kualitas bangunan dan fasilitas yang lebih baik.
 
Di luar kawasan CBD, rata-rata tingkat okupansi perkantoran juga perlahan mendekati 70 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya perbaikan tingkat keterisian, meskipun pemulihan pasar masih berlangsung secara bertahap.
 
Perbedaan tingkat okupansi tersebut memperlihatkan bahwa kualitas bangunan dan lokasi masih menjadi faktor penting dalam persaingan pasar perkantoran. Gedung premium dengan akses transportasi publik, fasilitas pendukung, serta pengelolaan operasional yang baik memiliki daya tarik tersendiri bagi perusahaan.
 
Akses transportasi publik, termasuk MRT, juga semakin berperan dalam keputusan penyewaan. Kemudahan mobilitas dinilai penting untuk mendukung aktivitas karyawan dan akses menuju tempat kerja.

Menurut Ferry, Jakarta secara keseluruhan masih memiliki pasokan ruang kantor kosong yang besar. Namun, permintaan terhadap gedung premium menunjukkan bahwa penyewa semakin mempertimbangkan kualitas aset dan fasilitas yang ditawarkan.
 
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan pasar perkantoran tidak terjadi secara serentak. Gedung dengan kualitas bangunan yang baik, aksesibilitas memadai, dan pengelolaan operasional yang efisien berpotensi lebih dahulu menarik permintaan.
   

Efisiensi Operasional dan Keberlanjutan Jadi Pertimbangan

galery astra
Galery Astra di Lantai 5. Foto: Astra Property

Perubahan preferensi penyewa juga memengaruhi cara gedung perkantoran bersaing. Menurut Ferry, harga sewa yang lebih rendah tidak selalu menjadi pilihan paling ekonomis apabila penyewa masih harus mengeluarkan biaya untuk penataan interior, pengadaan furnitur, dan persiapan operasional.
 
Karena itu, perusahaan semakin memperhatikan total biaya penggunaan ruang atau total cost of occupancy. Komponen yang diperhitungkan mencakup tarif sewa, biaya layanan, kebutuhan penataan ruang, hingga waktu yang diperlukan sebelum kantor siap digunakan.
 
Selain kesiapan ruang, efisiensi energi dan penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG) turut menjadi pertimbangan dalam pemilihan gedung.
 
Dalam konteks tersebut, optimalisasi sistem HVAC menjadi salah satu aspek pengelolaan yang relevan. Sistem pendingin udara dan ventilasi merupakan komponen yang berkontribusi terhadap konsumsi energi bangunan, sehingga pengelolaan yang lebih efisien berpotensi membantu menekan biaya operasional.
 
Penerapan teknologi otomatisasi di Menara Astra memanfaatkan sistem yang sudah tersedia untuk mengoptimalkan kinerja HVAC. Pendekatan ini memungkinkan pengelola meningkatkan efisiensi tanpa harus mengganti seluruh perangkat yang ada.
 
Upaya tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan perusahaan untuk menjalankan aktivitas bisnis di gedung yang memperhatikan aspek keberlanjutan. Namun, penghematan energi yang dicapai tetap bergantung pada kondisi operasional gedung dan hasil implementasi sistem.

Menara Astra di Kawasan Perkantoran Sudirman

menara astra
Menara Astra berada di Kawasan Perkantoran Sudirman. Foto: Astra Property

Menara Astra merupakan gedung perkantoran premium yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Gedung ini memiliki ketinggian arsitektural sekitar 261,5 meter dan tercatat berada di peringkat ketujuh dalam daftar gedung tertinggi di Indonesia berdasarkan data Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH) yang dirujuk dalam materi proyek.
 
Menara Astra memiliki luas area perkantoran yang dapat disewakan sekitar 72.518 meter persegi secara semibruto. Gedung tersebut merupakan bagian dari kompleks pengembangan terpadu yang juga mencakup Anandamaya Residence dan area ritel.
 
Lokasinya dekat dengan sejumlah moda transportasi umum, termasuk MRT Jakarta, TransJakarta, dan KRL Commuter Line. Konektivitas ini menjadi salah satu faktor yang relevan bagi perusahaan dalam mempertimbangkan akses karyawan dan mobilitas menuju tempat kerja.
 
Dari sisi keberlanjutan, Menara Astra telah memperoleh sertifikasi Green Mark Platinum dari Building and Construction Authority (BCA) Singapura. Sertifikasi tersebut berkaitan dengan aspek efisiensi energi dan air serta kualitas lingkungan bangunan.
 
Kombinasi lokasi, fasilitas kawasan, dan pengelolaan gedung menjadi bagian dari karakteristik yang dapat dipertimbangkan perusahaan ketika memilih ruang perkantoran. Di tengah pasokan ruang kantor Jakarta yang masih besar, kebutuhan terhadap gedung dengan kualitas dan efisiensi yang sesuai berpotensi menjadi salah satu faktor pembeda dalam persaingan mendapatkan penyewa.
 
Penerapan teknologi optimasi HVAC di Menara Astra menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi operasional dengan memanfaatkan infrastruktur yang telah tersedia. Langkah tersebut juga sejalan dengan perubahan pasar perkantoran yang semakin memperhatikan kualitas aset, biaya penggunaan ruang, dan penerapan prinsip keberlanjutan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(KIE)

MOST SEARCH